
Matahari pagi bersinar sangat terang memasuki sela pintu dan jendela yang bisa di tembus nya. Novi merasakan tubuhnya di timpa benda berat, di buka kelopak matanya perlahan, tubuhnya langsung meremang, merasakan hembusan nafas teratur mengenai tengkuknya juga sentuhan hangat yang melingkar di perutnya.
Perlahan Novi melepaskan tangan kekar yang melingkar di perutnya, Berbalik melihat pria tampan yang sudah menjadi suaminya.
" Sekarang aku udah punya suami lagi, aku sampai lupa " Gumam Novi.
Tapi alangkah terkejutnya Novi, tiba - tiba Danil memeluknya seperti guling, Novi merasakan sesuatu yang tegak berdiri tepat di area pribadinya.
" Kenapa tepat ke situ, padahal aku ingin menggoda Novi jadi akunya yang panas dingin gini" ucap Danil dalam hati.
Danil sebenarnya sudah bangun dan berpura - pura tidur ingin menggoda istrinya tapi malah senjata makan tuan, akibat ulahnya sendiri dia harus mati - matian menahan hasratnya.
" Mas... Bangun mas" Novi membangunkan suaminya hanya dengan suara karna Novi sulit bergerak.
" Hmmm" Danil hanya bergumam.
" Mas Novi susah nafas mas" Danil langsung melepaskan pelukannya.
" Maaf Nov mas kira tadi guling hehehe" Danil menampakkan gigi putihnya.
Novi turun dari ranjangnya ingin membersihkan diri.
" Mau kemana Nov" Danil memegang lembut tangan Novi, melihatnya penuh cinta.
" Novi mau mandi mas ini udah pagi, Novi mau siapkan sarapan untuk kita, mas hari ini kerja atau libur? "
" Mas masih libur Nov, sini ada yang mau mas bicarakan sama kamu" Danil menepuk kedua pahanya agar Novi duduk di pangkuannya. Tapi Novi ragu karna belum pernah seperti itu, dulu sama Toni juga gak pernah melakukan hal seperti itu.
Danil menarik tangan Novi hingga duduk di pangkuan suaminya.
" Nov hari ini kita pindah ke apartemen mas ya... Kitakan udah nikah jadi mas pingin kita mandiri Nov, mas mau bertanggung jawab penuh sama kamu" Danil melihat Novi menundukkan kepalanya. Perlakuan Danil padanya mengingatkannya pada pria kecilnya dulu.
" Nov... "
" Eh iya mas gak apa - apa tapi kita ijin dulu sama papah dan mamah ya mas" Novi menggenggam erat tangan Danil yang melingkar di perutnya.
" Emmm mas udah kan bicaranya Novi mau mandi dulu" Novi ingin beranjak dari pangkuan Danil tapi pinggulnya di tahan oleh tangan kekar suaminya.
" Makasih ya Nov mau membuka hatimu untuk mas" Novi memberanikan diri menatap Danil.
__ADS_1
Cup
Mata Novi melebar karna Danil mengecup bibirnya.
" Mass.... " wajah Novi memerah menahan malu.
Saat pernikahannya dulu, Toni tidak pernah memperlakukan Novi seperti apa yang di lakukan Danil, sikap ke duanya kadang sama - sama kaku, walau Toni selalu bersikap romantis. Sedangkan dengan Danil, dia selalu bersikap hangat dan suka menggoda Novi.
" Lihatlah pengantin baru sudah keluar dari kamarnya" Danil hanya memasang wajah biasa. Sedangkan Novi mencoba bersikap biasa walau hatinya sungguh sangat malu karna mereka sudah membuat papah dan mamahnya menunggu untuk makan.
" Biasa pah pengantin baru Aw sakit Nov" Danil berpura - pura sakit karna cubitan Novi di perut juga sangat halus.
" Sudah ayo makan papah sudah sangat lapar karna kalian lama turun Aw sakit mah" Papah Rafa juga berteriak sakit karna memang cubitan mamah sampai terasa perih.
" Sudah pah jangan lebai" Mamah Rani menyiapkan makan untuk suaminya, Novi juga melakukan hal yang sama pada Danil.
" Enakkan Nil punya istri, semua di urusin" ucap papah Rafa sambil tersenyum.
" Iya pah emang enak, baju di siapkan, makan di layani, tidur juga udah ada temannya aw" Novi melayangkan cubitan di perut Danil juga tatapan tajamnya.
" Hahaha " Tawa papah Rafa begitu renyah di telinga Novi.
" Pah mah Danil mau ajak Novi tinggal di apartemen Danil, Danil ingin mandiri pah mah" Danil berucap setelah acara sarapan selesai, saat ini mereka sama - sama berada di halaman depan menikmati pemandangan kebun buah dan sayur mamah Rani.
" Tapi resepsi kalian seminggu lagi nak, gak sebaiknya Novi tetap di sini" protes mamah Rani.
" Gak usah khawatir mah semuanya sudah di urus sama Jonathan, Gedung, WO udah di atur sama dia, nanti kalau ada perlu tinggal kasih kabar ke mamah, biar di jemput sama supir mah" Mamah Rani hanya mengangguk.
" Ya sudah kalau begitu papah hanya pesan sama kamu Nil, tolong buat anak papah selalu bahagia, jika kamu sudah gak... "
" Danil akan berusaha membahagiakan Novi pah mah, Danil akan menjaga keutuhan rumah tangga kami sampai maut memisahkan " ucap Danil cepat memotong perkataan papah Rafa.
" Ya papah percayakan anak kesayangan papah sama kamu, kapan kalian akan pindah? "
" Sore ini pah" ucap Danil.
" Ck, Dasar pengantin baru cuma pingin berduaan terus" Danil hanya nyengir menampakkan giginya.
" Kalau gitu mamah mau masak nanti kita bawa ke sana, kita sama - sama makan di apartemen Danil ya " Ucap mamah Rani.
__ADS_1
" Iya mah ayo Novi bantu masak " mamah Rani mengangguk senang.
Novi hanya membawa pakaiannya sedikit, karna itu permintaan suaminya yang ingin membeli banyak pakaian untuk istri tercinta.
" Alat masak di Apartemen kamu sudah lengkap nak, apa kamu juga suka memasak? " mamah Rani melihat berbagai macam peralatan memasak di dapur Danil.
" Danil juga suka masakan rumahan mah, kadang Danil masak sendiri, karna sekarang Danil udah punya istri makanya Danil pesan peralatan dapur yang lengkap biar istri semangat masak untuk Danil mah" Danil melirik Novi yang sedang menyentuh satu persatu peralatan dapur dengan warna putih dan gold karna itu adalah warna kesukaan Novi.
" Wahh... Mamah juga semangat masaknya kalau peralatan dapur mamah cantik - cantik kayak gini" mamah Rani tersenyum melihat papah Rafa cemberut.
" Nanti Danil belikan untuk mamah ya" ucap Danil.
" Eh gak usah nak mamah cuma mau menggoda papah aja kok tadi" mamah Rani merasa tidak enak sama menantunya sendiri.
" Hahaha iya mah lihat wajah papah lucu" Danil juga menggoda mertuanya, Novi hanya tersenyum melihat kehangatan keluarganya yang tidak pernah di lihat dari pernikahannya dulu, pada hal dulu Novi selalu lihat wajah dingin Danil si kutub utaranya, tapi sekarang si pria tampan nan dingin itu sudah menjadi suami sahnya, suami yang penuh hangat bukan cuma sama Novi tapi juga dengan keluarganya. Tanpa sadar Novi mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya.
" Nov kamu kenapa" Danil sangat cemas melihat Novi mengeluarkan air matanya, takut ada yang terluka, Novi hanya menggeleng lemah merasakan tangannya di genggam lembut penuh sayang oleh suaminya.
" Kok kamu nangis sayang" mamah Rani juga tak kalah khawatir.
" Gak apa - apa mas, mah, pah Novi bahagia sangat bahagia" Danil menyeka air mata Novi dengan ibu jarinya.
" Ya sudah mamah siapkan dulu makan malam kita ya"
" Iya mah Novi bantu ya" mamah Rani mengangguk setuju.
Mereka makan dengan suasana yang hangat, canda, tawa, saling menggoda mereka suguhkan, untuk pertama kalinya apartemen Danil ramai dengan suasana keluarga yang sangat hangat.
" Nov... " Danil melihat Novi memejamkan matanya tidur di atas ranjang king size di samping Danil yang tengah menatapnya intens.
" Hmmm" Novi hanya bergumam tanpa membuka matanya.
" Kenapa tadi kamu nangis Nov? Apa kamu menyesal menikah dengan mas? " walau Danil bersikap biasa di depan semua tapi Danil tetap memikirkan Novi istrinya, Danil takut tanpa sengaja menyakiti hati Novi.
Novi mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan menggenggam erat tangan Danil.
" Mas Novi menangis karna bahagia, Novi senang melihat papah dan mamah bisa tertawa lepas seperti tadi, Novi terharu sampai gak sadar mengeluarkan air mata mas" Danil tersenyum mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan memeluk Novi bahagia.
" I Love You Beby" Danil mengusap lembut rambut Novi sambil mendaratkan kecupan di kening istrinya.
__ADS_1