
" Maaf kan adek ya bang selama adek jadi istri Abang banyak kekurangan yang ada di diri adek hingga rumah tangga kita seperti ini" Ucap Novi .
" Tidak dek Abang yang sudah menghancurkan rumah tangga kita"
" Abang akan melepaskan mu dek" Ucapan Toni membuat Novi reflek menatap Toni dalam.
" Abang akan menandatangani gugatan cerai dari adek, tapi Abang tidak akan mengeluarkan kata talak dari bibir Abang untukmu, biarlah di kertas saja yang menyatakan kita berpisah, tapi di hati Abang kamu tetap istri abang" Ucap Toni lemah.
" Bang Toni " Ucap Novi bingung mau berkata apa.
" Tapi sebelum Abang menandatangani gugatan itu, Abang minta adek kabulkan satu permintaan dari Abang" Toni menatap Novi sangat serius.
" Permintaan apa bang?" Novi menatap balik Toni yang menatapnya dengan tatapan masih dengan penuh cinta di dalamnya.
" Abang mau adek perlakukan Abang layaknya seperti dulu, seperti suami istri yang kita impikan dulu, hanya dua bulan saja dek, Abang mohon dek" Ucap Toni memelas.
" Tapi bang" Ucapan Novi di potong cepat oleh Toni .
" Satu bulan, hanya satu bulan dek" Toni sangat berharap Novi menyetujui syaratnya.
" Apa yang Abang harapkan dari satu bulan itu?" Pertanyaan Novi di sambut senyuman oleh Toni .
" Abang hanya ingin merasakan setiap momen bersama kamu dek, Abang ingin mencurahkan cinta juga kasih sayang Abang padamu, pada wanita yang sangat Abang cintai" Ucap Toni dengan tatapan penuh cinta.
" Tapi Abang Taukan setiap adek melihat Abang, adek selalu teringat juga terbayang akan pengkhianatan Abang, bagaimana bisa adek memperlakukan Abang layaknya suami bang" Ucap Novi bingung.
" Anggap Abang teman atau sahabat adek, Abang mohon dek" Ucap Toni memohon.
" Apa bang Toni sudah mengetahui penyakit yang di katakan dokter? karna itu bang Toni minta permintaan seperti ini, seperti permintaan terakhir aja, Astaghfirullah... Mikir apa sih Nov, tapi apa aku bisa?" Ucap Novi dalam hati.
" Baiklah adek akan kabulkan permintaan abang" Ucap Novi akhirnya mau mengikuti syarat Toni agar mau menandatangani gugatannya.
" Terima kasih dek, I love you" Ucap Toni senang.
" Makasih sayang, Abang akan menggunakan waktu satu bulan ini untuk mencintaimu, mencurahkan semuanya padamu, walau kamu tidak akan pernah lagi membalas cinta Abang, karna Abang hanya melihat kekecewaan di matamu dek, Abang akan membawa setiap momen kita nanti di hati Abang sampai akhir hayat abang, hanya kamu wanita yang Abang cintai " Ucap Toni dalam hati menatap wajah cantik Novi.
__ADS_1
" Ya udah kalau gitu adek pulang dulu ya bang, adek mau ambil baju juga mau beli makan siang untuk ayah juga bunda" Ucap Novi tersenyum manis .
" Iya dek, nanti kita tinggal serumah lagi ya, Abang janji gak akan macam - macam jika adek tidak mengijinkan" Ucap Toni antusias.
Novi hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Toni.
Novi pulang ke rumah orang tuanya untuk membereskan pakaian yang akan di bawanya ke rumah sakit. Tapi Novi ragu untuk bicara sama mamah juga papahnya tentang persetujuannya mengikuti permintaan Toni.
Saat Novi menuruni anak tangga hendak pergi ke rumah sakit, Novi melihat mamah dan papah nya duduk di sofa ruang TV.
" Bagaimana ini, aku takut mamah sama papah kecewa padaku, tapi aku sudah menyetujui permintaan bang Toni " Ucap Novi dalam hati cemas.
" Huff..." Novi membuang nafas panjang, mempersiapkan diri untuk membicarakan keputusan yang telah di ambilnya.
" Mah... Pah... " Novi duduk di sofa tunggal dekat orang tuanya duduk.
" Sayang mau kemana? Kenapa bawa tas? Kamu mau nginap di rumah Sasa atau Dila?" Pertanyaan mamah Novi membuat Novi gugup.
" Ti tidak mah" Novi menundukkan kepala karna tidak enak sama ke dua orang tuanya.
" Ada apa nak? Ayo duduk, jangan seperti ini nak" Ucap papah Novi memegang bahu Novi, menggiringnya duduk di antara mamah dan papahnya.
" Mah Pah, Novi minta maaf karna sudah memberikan keputusan sendiri, tanpa membicarakan sama mamah dan papah terlebih dulu" Ucap Novi dengan kepala yang tertunduk menatap lantai.
" Apa yang sudah kamu putuskan nak?" Ucap mamah Novi.
" Bang Toni bersedia menandatangani surat gugatan Novi, dengan syarat Novi dan bang Toni akan seperti dulu, seperti layaknya suami istri" Ucap Novi lemah.
" Apa maksudnya kamu akan kembali rujuk dengan Toni nak?" Ucapan mamah Novi di jawab gelengan kepala oleh Novi.
" maksud seperti layaknya suami istri itu gimana sayang? Bukannya kamu gak sanggup, bila kamu bersentuhan dengannya, kamu akan selalu teringat akan pengkhianatan nya" Ucap papah Novi.
" Novi sudah menjelaskan semuanya mah pah, apa sebab Novi tidak bisa menerimanya tapi bang Toni tetap ingin menjalankannya, dan gak akan terjadi kontak fisik jika Novi tidak menginginkan nya, bang Toni memberi waktu satu bulan untuk permintaan nya" Ucap Novi menundukkan kepalanya.
Untuk sesaat hanya keheningan yang dirasakan dalam ruang TV.
__ADS_1
" Sayang... Apa kamu masih mencintai Toni ?" Pertanyaan mamah membuat Novi reflek menatap mamahnya beberapa detik tapi tertunduk lagi melihat lantai.
" Novi memang masih mencintai bang Toni mah, munafik kalau Novi bilang gak mencintai bang Toni lagi, enam tahun kami bersama mah"
" Novi juga tipe wanita yang tidak mudah jatuh cinta, Novi sudah dua kali di kecewakan oleh laki - laki mah, Novi rasa saat ini adalah bentuk protes Novi hingga otak dan tubuh Novi menolak bang Toni " Ucap Novi masih menundukkan kepala melihat lantai dengan pandangan kosong.
Novi teringat akan masa kecilnya dulu, pernah ada seorang laki - laki kecil yang terus melindunginya dari semua orang yang berusaha menyakitinya, dia adalah teman masa kecilnya, laki - laki kecil itu berjanji padanya jika dia akan terus melindungi nya sampai mereka dewasa, dan berjanji akan menikahinya.
Tapi suatu hari, Novi dapat kabar bahwa laki - laki kecil itu pergi tanpa mengabarinya, dari saat itu Novi terus menunggu kabar dari laki - laki kecilnya yang Novi lupa akan nama juga wajahnya, dalam pikiran Novi kecil janji itu adalah benar.
Novi enggan dekat dengan lawan jenis hingga Novi beranjak dewasa, Novi sudah berpikir bahwa itu adalah janji anak kecil, hanya janji anak laki - laki yang masih kecil belum memiliki pemikiran yang bisa untuk menepati janjinya, maka dari itu Novi mau membuka hatinya untuk Toni.
" Novi sudah menyetujui permintaan bang Toni mah"
" Mah Pah, bang Toni sakit... Semalam dokter mengatakan ada indikasi bang Toni mengidap kanker otak, tapi masih indikasi dokter balum di pastikan mah, tapi Novi lihat dari kondisi tubuh bang Toni juga kata - katanya" Ucapan Novi berhenti sejenak.
" Novi yakin bang Toni sudah mengetahui tentang penyakitnya mah, maka dari itu Novi memutuskan sendiri menyetujui permintaannya" Ucap Novi lemah.
" Sayang, mamah sangat percaya sama kamu, jadi apapun keputusan kamu akan kami dukung, mamah yakin keputusan yang kamu ambil sudah kamu pikirkan baik - baik, karna ini juga soal kehidupan kamu sendiri nak" Ucap mamah Novi membelai lembut rambut Novi.
" Sayang, kamu sudah banyak menjalani ujian hidup dan itu semua kamu jadikan pelajaran untuk ke depannya" Timpal papah Novi menggenggam erat tangan Novi.
Novi sangat bersyukur memiliki orang tua yang bijak seperti mamah dan papah nya.
" Terima kasih mah pah, kalau gitu Novi balik ke rumah sakit, Novi ijin sama mamah sama papah akan tinggal serumah lagi sama bang Toni" Ucap Novi was - was.
" Iya sayang kamu hati - hati ya, kalau butuh sesuatu jangan lupa masih ada mamah dan papah yang siap kapanpun kamu butuhkan" Ucap mamah Novi di jawab anggukan kepala.
Novi melajukan mobilnya menuju restoran, membeli makan siang untuknya juga untuk ayah dan bunda Toni.
Saat Novi menunggu makanan yang tengah di siapkan, Novi merasa ingin ke toilet tapi saat melewati ruang VIP, Novi melihat seseorang yang di kenalnya berada di dalam ruang itu berdua bersama wanita yang pernah di lihatnya di cafe.
Deg
" Itu kan mas Da"
__ADS_1