
" Toni Handoko Aku Novitria Lestari menalak dirimu, haram bagi tubuhmu, dirimu, menyentuhku" Ucapku menggema di ruangan.
" Aku sarankan jika kalian mau melakukan penyatuan lagi, lebih baik kalian menikah terlebih dulu" Ucapku melihat Bang Toni menatapku sendu.
" Dan kamu, kau ku pecat" Ucapku menunjuk wajah Sinta.
Ku buka pintu melangkah keluar ruangan Bang Toni bersama Sasa dan Dila, tak lama Aku mendengar teriakan Sinta memanggil Bang Toni histeris, Aku hentikan langkahku melihat Adi berlari masuk ke dalam ruangan yang baru saja kami tinggalkan, tapi Aku lanjutkan langkah ku keluar dari showroom meski Aku penasaran, apa yang terjadi di ruangan itu?
Aku Sasa dan Dila masuk ke dalam mobil, tapi Sasa tidak menjalankan mobilnya, Sasa menatapku dan Dila mengelus bahuku hingga Aku tersadar dari pikiran ku yang masih tertuju di dalam ruangan itu.
" Tunggu sebentar, Aku ingin tau apa yang terjadi" Ucapku tanpa beralih menatap pintu showroom.
" Huff " Ku dengar Sasa menghela nafas panjang.
Setelah sepuluh menit menunggu, kami melihat mobil ambulan memasuki lobi showroom, beberapa orang keluar dari mobil ambulan membawa tempat tidur dorong masuk ke dalam showroom, tak lama mereka keluar dengan tempat tidur dorong yang sudah ada seseorang berbaring di atasnya, Ku lihat Adi dan Sinta berjalan mengikuti, Sinta menangis histeris memanggil nama Bang Toni.
Deg
" Bang Toni " Lirih ku
" Pakaian itu, Aku ingat betul pakaian yang di kenakan bang Toni Karna Aku yang menyiapkannya, tidak salah lagi orang yang berbaring di tempat tidur itu bang Toni, Kenapa seluruh tubuhnya banyak darah?" Ucapku dalam hati.
" Sa... Dil... Apa yang terjadi sama bang Toni? " Ucapku dengan suara bergetar.
" Itu bang Toni , aku ingat bang Toni memakai baju itu Karna Aku yang menyiapkannya tadi pagi" Ucapku lagi.
" Kenapa di tubuh bang Toni banyak darah Sa Dil? " Tanyaku pada Sasa dan Dila yang hanya di jawab dengan gelengan kepala.
Meski Bang Toni sudah menyakitiku, tak ku pungkiri bahwa hati ini masih menyimpan rapi nama Bang Toni di sana, ke khawatiran ku bertambah melihat banyak darah di sekujur tubuhnya, tapi aku enggan mendekat Karna Ada wanita simpanannya berada di dekatnya.
__ADS_1
Mobil ambulan pun ditutup dengan tubuh Bang Toni di sana di temani Adi juga Sinta, tak lama bunyi sirine mobil ambulan berbunyi tanda darurat, Aku melihat mobil ambulan keluar dari showroom hingga tak terlihat.
" Nov... Apa kita ikuti mobil ambulan nya? " Tanya Sasa padaku yang masih mengatur detak jantung ku.
" Gak usah Sa, sudah ada Adi dan Sinta yang mengurusnya" Ucapku menatap Sasa.
" Terus kamu mau ke mana Nov? " Tanya Dila
" Aku ingin pergi ke sebuah tempat di desa pinggiran kota, Aku ingin menenangkan diri di sana beberapa hari" Ucapku menatap kosong.
Aku juga tidak mengerti, Aku mengira hatiku sudah kuat tapi ternyata hatiku masih rapuh, apalagi melihat Bang Toni sepertinya terluka cukup parah.
Kebersamaan kami hampir lima tahun, berpacaran terus menikah, sudah banyak suka duka yang kami jalani bersama, kami berjuang bersama demi mendapatkan restu ke dua orang tuaku, tak akan mudah melupakan semuanya, banyak kenangan indah selama hampir lima tahun ini tapi beberapa bulan juga terasa menyakitkan atas penghianatan yang Bang Toni lakukan.
" Aku ikut" Ucap Sasa
" Aku juga" Ucap Dila juga
Aku pulang ke rumah ku dengan Bang Toni, membereskan barang - barang ku untuk aku kirim ke rumah orang tuaku juga untuk pergi ke desa di pinggir kota.
Ku lihat foto pernikahanku dan bang Toni di dinding kamar kami, tak ada niatku menurunkannya biarlah bang Toni yang mengurusnya, Aku buka cincin pernikahanku Ku letakkan di atas nakas di atas kertas yang sudah aku torehkan tinta di dalamnya dengan ucapan doa untuk kebahagiaan bang Toni kedepannya.
Ku tatap ruang demi ruang rumah yang hampir tiga tahun ku tempati bersama bang Toni, mengingatkan ku akan kenangan bersamanya, bersama suamiku, kekasih halalku, tak terasa air mataku mengalir, semuanya sudah berakhir, rumah tanggaku hancur di usiaku hampir dua puluh tiga Tahun.
" Non Novi mau kemana kok bawa koper banyak non? " Ucap bik Ani melihatku keluar dari kamar membawa koper di kedua tanganku.
" Bik Novi mau pergi mungkin sekali kali Novi ke sini lihat bibik" ucapku tersenyum
" Emang non Novi enggak pulang kesini lagi? " Tanya bik Ani
__ADS_1
" Iya bik Novi dan Bang Toni akan bercerai" Ucapku sendu
" Apa non... Tapi tadi pagi bibik lihat non dan den Toni romantis seperti biasa, kenapa sekarang bercerai non? " Ucap bik Ani sedih
" Iya bik mungkin jodoh kami hanya sampai di sini, Novi titip rumah ya bik nanti gaji bibik Novi transfer tiap bulan sampai rumah ini terjual" Ucapku menggenggam tangan bik Ani.
" Bibik selalu mendoakan yang terbaik buat non, supaya non selalu di limpahkan kebahagiaan, tapi jalan menuju kebahagiaan yang abadi itu banyak ujiannya, bibik yakin non akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi itu jadi non jangan putus asa akan ujiannya" Ucapan panjang bik Ani membuat semangatku kembali untuk memulai hidup kedepannya
" Terima kasih ya bik, Novi pamit jaga kesehatan ya bik" Ucapku memeluk bik Ani.
Aku Sasa dan Dila menempuh perjalanan selama tiga jam menuju desa yang aku maksud, dulu aku Sasa dan Dila pernah ke desa itu untuk kemping atas rekomendasi dari teman kampus kami yang saudaranya tinggal di desa itu.
Setelah hampir tiga jam kami mulai memasuki desa dengan kondisi jalan bebatuan kecil tapi pemandangannya sangat indah, kami di suguhkan barisan perbukitan hijau dengan hamparan padi dan berbagai macam tanaman sayuran dan buah segar.
Ku buka kaca mobil, Ku hirup dalam - dalam udara pedesaan yang asri, terasa sejuk dan damai.
" Desanya masih sama ya, sejuk dan damai" Ucap Sasa yang kami jawab dengan anggukan.
" Aku gak sabar pengen ke air terjunnya" Ucap Dila antusias membuatku dan Sasa tertawa
" Oke kita sudah sampai" Ucap Sasa menghentikan mobil nya di depan rumah salah satu warga yang akan menyewakan rumahnya pada kami untuk beberapa hari.
" Assalamu'alaikum... " Ucap kami bertiga bersamaan.
" Waalaikumsalam... Eh sudah pada datang toh, yuk masuk" Ucap mbak Atik ramah menyalami kami bergantian.
" Kamarnya sudah saya siapin, tadi juga saya ada masak tapi udah dingin kalau adek - adek mau makan biar di angetin dulu" Ucap mbak Atik lagi.
" Iya mbak Terima kasih ya... Mbak istirahat aja ini udah malam, kalau kami lapar akan kami angetin sendiri makanannya" Ucapku melihat mbak Atik
__ADS_1
" Sa... Dil... boleh Aku tempati kamar sendirian? " Tanyaku pada Sasa dan Dila