
Novi merebahkan tubuh Toni di ranjang mereka yang dulu mereka tempati.
" Abang kenapa liatin adek terus, Abang istirahat ya" Novi melihat Toni seperti ragu ingin mengatakan sesuatu padanya
" Dek... Boleh kita tetap tidur satu kamar?" Toni menghembuskan nafas panjangnya dan sangat berharap Novi mau mengatakan " iya ", tapi Toni juga tau keinginannya tidak mungkin akan di terima oleh Novi.
" Maaf" Ucap Toni lemah.
" Iya bang, walau bagaimanapun adek masih istri sah Abang" Novi tersenyum melihat Toni yang reflek duduk dari rebahan nya.
" Makasih dek kamu sangat baik" Toni menggenggam erat tangan Novi.
" Abang istirahat ya, adek mau temui ayah sama bunda dulu" Novi menyelimuti Toni dan keluar menemui ayah dan bunda Toni juga keluarga adiknya Ririn.
" Apa Toni tidur nak?" Bunda Sarah bertanya pada Novi yang kini ikut bergabung duduk di ruang TV.
" Iya Bun, maaf ya Bun Novi gak mau bang Toni lelah " Ucap Novi gak enak.
" Gak apa - apa sayang" Bunda Sarah tersenyum pada Novi.
" Mbak, makasih ya atas semuanya, pantas bang Toni sangat mencintai mbak, mbak orang yang baik, mbak juga yang membuatku termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi" Novi sangat terharu dengan ucapan Ririn.
" Iya sama - sama Rin" Ucap Novi.
" Sayang, kami pamit pulang ya, tolong jaga anak bunda ya nak" Pamit Bunda sarah.
" Iya Bun" Ucap Novi.
" Bude Satlia ke rumah nenek ya... jangan kangen ya bude cantik..." Ucap Satria.
" Iya Satria yang tampan... Kalau bude kangen, bude akan hubungi mama Ririn" Ucap Novi membelai lembut kepala Satria.
" Kami pamit ya mbak, Assalamualaikum" Ucap Ririn.
" Waalaikumssalam" Novi melambaikan tangannya melihat mobil ayah Ridho sampai menghilang dari pandangan.
" Bik tolong siapkan makan malam untuk kami, buat sup aja ya bik" Ucap Novi.
" Iya non " Ucap Bik Ani mulai menyiapkan bahan untuk memasak.
Novi melihat Toni sudah segar dengan rambut yang masih basah.
" Ayo bang kita makan" Novi menuju pintu keluar kamar di ikuti Toni dari belakang.
Novi masih melayani Toni di meja makan, Novi juga masih menyiapkan pakaian Toni karna itulah permintaan Toni. Tapi Toni juga merasakan jika Novi masih belum bisa bersentuhan dengannya kecuali pegang tangan.
Sudah dua Minggu berjalan, Novi dan Toni juga masih tinggal bersama dan tidur seranjang tanpa ada hal lebih yang mereka lakukan.
__ADS_1
Toni merasa bahwa hubungan mereka kembali seperti saat mereka masih pacaran.
" Dek kenapa Abang pakai pakaian kerja biasa Abang?" Novi tersenyum tipis.
" Bang... Abang kerja lagi ya di showroom adek, biar Abang gak bosan di rumah" Ucap Novi.
" Baiklah Abang senang kita bisa kerja bareng, setiap hari kita selalu sama - sama, di rumah, di showroom" Toni senang membayangkan dirinya selalu di samping Novi.
" Cuma Abang yang kerja, adek ya di rumah jadi ibu rumah tangga" Ucap Novi santai.
" Abang gak mau kalau adek gak ikut kerja juga, Abang akan ajarin adek apa yang Abang tau selama menjalankan showroom, jadi adek bisa menjalankan nya sendiri" Ucap Toni.
" Ya sudah Abang duluan aja, adek akan datang siang nanti sambil membawa makan siang untuk abang" Toni tersenyum senang sambil menganggukkan kepalanya.
Novi mencium punggung tangan Toni dan Toni memberanikan diri mencium keningnya dengan hidungnya. Hingga Novi terkejut dan menatap Toni dengan tatapan tanpa ekspresi.
" Maaf " Sesal Toni. Tapi tak ada jawaban dari Novi.
Toni menjalankan mobil dengan pikiran tertuju pada sikapnya pada Novi, yang tanpa ijin Novi, Toni dengan beraninya mencium keningnya, hingga Toni tersadar dan kalut melihat mobilnya akan menabrak pohon di pinggir jalan.
Ciiitttt
Debaran jantung Toni mendadak cepat, sedikit lagi mobilnya menabrak pohon, Toni bergegas keluar dari mobil untuk melihat apakah ada yang rusak dengan mobilnya.
" uh... untung saja cepat ngerem" Ucap Toni melihat mobilnya masih mulus. Toni masuk lagi ke dalam mobil mengatur debaran jantungnya.
" Assalamualaikum bang... Udah sampai showroom? kok cepat sampainya?" Ucap Novi.
" Waalaikumssalam... Dek Abang kepikiran adek terus, tadi dengan sengaja Abang cium kening adek tanpa ijin, Abang jadi gak fokus nyetir sampai Abang mau menabrak pohon di pinggir jalan, maafkan Abang ya dek, maaf" Sesal Toni.
" Terus gimana keadaan Abang?" cemas Novi.
" Abang gak apa - apa dek, maaf kan Abang ya dek" Ulang Toni lagi.
Hening
" Dek... Abang minta maaf ya" Ulang Toni lagi.
" Iya " Jawab Novi singkat.
" Ya udah Abang mau jalan lagi, adek jadikan ke showroom? " Ucap Toni.
" Iya " Jawab Novi.
Toni sampai di showroom dengan hati yang sudah tenang, para karyawannya tidak menyapanya seperti biasa, tapi Toni tidak menghiraukannya karna memang dialah yang salah, Toni langsung masuk ke dalam ruangannya dulu, dilihatnya dengan seksama, tata ruangannya sudah berbeda dari yang dulu.
" Semuanya sudah di ubah sama buk Novi pak, semua barang yang ada di ruangan ini di buang dan di gantikan dengan yang baru, sesuai dengan keinginan dari buk Novi" Adi masuk ke dalam ruangan Novi tanpa mengetuk pintu karna pintu masih terbuka lebar, Toni masih terpaku melihat ruangannya sudah sangat berbeda.
__ADS_1
Ruangan Novi sekarang bernuansa putih dan gold nampak sederhana tapi elegan. Sedangkan ruangan Toni dulu Nuansa putih dan abu - abu.
" Iya itulah yang harus Novi lakukan, agar hatinya tidak terus menerus sakit" Ucap Toni mengingat kebodohannya.
" Iya pak, buk Novi memiliki hati yang sangat luas, tapi jika terusik tak akan ada kata maaf, seperti apa yang di lakukan nya pada Sinta" Adi mengingatkan Toni akan sesuatu yang sangat menyakiti hati Novi.
" Adi, bagaimana showroom saat ini?" Toni bertanya pada Adi, karna selama Novi memegang kepemimpinan di showroom Adi lah yang selalu membantu Novi.
" Showroom baik pak, bahkan sangat baik semenjak di tangani oleh buk Novi, buk Novi adalah wanita yang sangat cerdas apa lagi selalu ada yang membantunya selama ini" Ucap Adi membuat Toni menganggukkan kepalanya.
" Iya papah Rafa memang sangat menyayangi Novi, karna itu beliau selalu membantu anaknya Novi" Toni duduk di sofa dalam ruang.
" Bukan papahnya buk Novi yang selama ini membantunya, tapi pak Danil" Ucap Adi santai.
" Pak Danil dari perusahaan NL Grup? Perusahaan yang sekarang sangat berkembang sampai ke Rancah luar negri?" Toni melebarkan matanya karna terkejut.
" Iya pak" Jawab Adi singkat.
" Apa mereka sedekat itu Di?" Tanya Toni menyelidik.
" Mereka hanya ada hubungan rekan bisnis pak, buk Novi sangat menjaga ikatan pernikahannya, walau banyak pria meliriknya" Ucap Adi tersenyum tipis.
" Maksud kamu, apakah banyak pria yang menginginkan istriku Di?" Ucap Toni dengan nada bicara yang sudah meninggi.
" Jujur ya pak, selama saya bekerja dengan buk Novi, tidak ada satu sikap dari buk Novi yang membuat pria yang ada di dekatnya ilfil, malah buk Novi seperti wanita idaman pria tanpa celah, sangat sempurna, bicaranya yang lemah lembut tapi saat dia tegas sangat elegan hingga musuh pelan - pelan mundur, sikapnya yang menawan, juga cara berpakaiannya yang elegan, terlihat seksi tapi sopan" Adi tersadar akan ucapannya yang akan merugikan dirinya.
" Dan kamu juga terpesona dengan istriku Novi Adi...." Ucap Toni menatap tajam Adi.
" Eng enggak pak Toni, saya mana berani pak" Adi mengusap tengkuknya salah tingkah.
" Maaf pak Toni saya benar - benar kagum dengan buk Novi, bukan hanya cantik tapi juga smart, pantas pak Toni sangat tergila - gila sama buk Novi" Ucap Adi dalam hati.
" Tapi memang itulah Novi, sangat sempurna" Toni menatap Adi dengan wajah sayu.
" Iya bapak beruntung mendapatkan buk Novi kembali" Ucap Adi tersenyum tipis.
" Adi saat saya di showroom, saya tidak ingin ada karyawan lain masuk ke ruangan ini, apa lagi wanita, kecuali istriku Novi dan kamu" Ucap Toni tegas.
" Baik pak" Adi pergi meninggalkan ruangan Toni dan mengumumkan jika tidak ada yang boleh masuk ke ruangan kecuali dirinya.
Banyak karyawan yang menggosipkan tentang Toni yang berselingkuh dengan Sinta.
" Kenapa gak dari dulu ya kasih aturan kayak gini, kasihan buk Novi"
" Ada apa ini " Terdengar suara wanita pemilik showroom, membuat yang bergosip ria mematung di tempat.
" Buk Novi...."
__ADS_1