Kekasih Halal Yang Berkhianat

Kekasih Halal Yang Berkhianat
Bab 95 Obat Pencegah Kehamilan


__ADS_3

Novi berjongkok, Tangan nya terulur menyentuh obat yang di lempar oleh Danil di atas lantai.


"Obat pencegah kehamilan" Ucap Novi membaca tulisan yang ada dalam kemasan obat yang di pegang nya.


"Iya obat pencegah kehamilan" Ucap Danil ketus.


"Kenapa! Kenapa Nov? Kenapa kamu gak mau memiliki anak dari mas, mas sangat ingin memiliki anak darimu, mas ingin memiliki buah hati kita, buah cinta kita, mas ingin anak darimu, dari rahimmu Nov, tapi kenapa kamu lebih memilih mencegahnya" Danil berucap sambil mengguncang bahu Novi dengan mata dan wajah yang memerah menahan amarah.


"Mas sangat mencintaimu Nov, apa alasannya? kenapa kamu gak mau memiliki anak dengan mas" Danil melihat Novi menggelengkan kepala, air matanya menetes begitu deras, bahkan Novi tidak bisa menjawab pertanyaan Danil akibat betapa sesak dada yang dia rasakan.


Novi ingin sekali berteriak bahwa obat pencegah kehamilan itu bukan miliknya, tapi lidahnya terasa kelu, Novi sangat sulit berkata - kata. Novi hanya menatap mata Danil, lewat tatapan matanya Novi berbicara itu obat bukan miliknya.


Novi tidak menyangka ada orang yang sedang memfitnahnya, tapi siapa?


Danil memutuskan pandangan mereka dengan tatapan penuh amarah dan kecewa, Novi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak bisa menjawabnya Nov? itu artinya obat itu memang milikmu, karna obat itu mas temukan di dalam laci meja rias kamu" Danil menunjuk meja rias yang sudah sangat berantakan.


"M mas" Satu kata berhasil Novi loloskan dari bibirnya. Tapi Danil langsung memotong ucapannya, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Novi.


"Kamu memiliki anak dengan Toni itu memang atas kemauan Toni sendiri, dan kamu sangat menyayanginya walau kamu tidak pernah bertemu dengannya, selama ini yang mas lihat kamu sangat sedih melihat ke dua sahabatmu sudah memiliki anak tapi kamu sendiri meminum obat pencegah kehamilan"


"Kalau memang kamu ingin mencegahnya dulu, kamu bilang sama mas, mas akan berusaha ngertiin kamu Nov, tapi kamu diam - diam meminumnya" Ucap Danil terlihat sangat frustasi.


Novi hanya bisa diam, karna Danil tidak memberikannya waktu untuk bisa menjelaskan.


Novi mencoba menenangkan hatinya, itu semua demi bayi yang ada dalam kandungannya, Novi teringat ucapan dokter sofia untuk selalu menyenangkan hatinya.


"Bahkan mas membiarkan kamu memasang kamera pengintai secara diam - diam saat kamu tidak bersama dengan mas"


Novi langsung terkejut melihat Danil yang mengetahui selama ini Novi diam - diam memasang kamera untuk terus waspada dengan yang namanya pelakor.


"Benarkan kamu memasang kamera di pakaian mas? " Novi hanya diam karna apa yang di ucapkan Danil soal alat pengintai itu memang benar.


"Mas selalu menjaga diri mas hanya untuk mu, hati dan raga mas hanya milikmu, tapi kamu sendiri yang tidak menginginkan anak dari mas, kenapa Nov" Danil menjatuhkan dirinya, bersujud di hadapan Novi.


Dengan tangan yang bergetar Novi mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Danil yang tengah menunduk. Tapi tangan Novi berhenti sebelum menyentuh kepala Danil.


Dengan susah payah Danil berdiri, tanpa berkata lagi Danil pergi keluar dari kamar meninggalkan Novi sendiri. Sedangkan Novi hanya bisa menangis meluapkan sesak di dadanya sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Maaf sayang... Mamah belum bisa mengatakan sama papah kamu, bahwa kamu sudah hadir di perut mamah nak, papah masih sangat emosi dan harus menenangkan diri dulu" Gumam Novi sambil terus mengusap - usap perutnya.


Novi melihat pena di dekatnya, di ambilnya pena itu dan Novi mencari kertas yang ada di meja rias nya. Novi menuliskan sesuatu di kertas itu, Novi yakin Danil akan kembali ke rumahnya.


Setelah meletakkan kertas di atas meja rias Novi membersihkan kamarnya terlebih dulu, di rasa sudah bersih Novi keluar dari kamarnya dan bertemu dengan Linda.


"Mbak jangan ada yang naik ke atas kecuali suami saya" Ucap Novi pada Linda, dan ucapan Novi juga di dengar oleh mata - mata Alex.


"Iya nya" Ucap Linda melihat Novi tanpa ekspresi.


Novi berjalan keluar rumahnya menuju mobil Alex, Novi bingung mau kemana, kalau Novi ke rumah kedua orang tuanya, pasti mereka banyak bertanya, sedangkan Novi saat ini hanya ingin menenangkan diri.


"Mau ke mana nya? " Tanya Alex.


"Jalan aja kak, terserah kakak mau kemana" Ucap Novi dengan pandangan kosong.


Alex melajukan mobilnya keluar dari rumah, tapi sebelum itu Alex sudah mendapatkan laporan dari mata - matanya, bahwa Novi saat ini tidak sedang baik - baik saja.


Novi melihat alat pengintai yang sangat kecil berada dalam genggamannya, di letakkan alat pengintai itu di samping tempat duduknya.


"Aku akan menenangkan diri dulu, demi anak - anakku" Ucap Novi dalam hati.


"Berhenti di supermarket ya kak, Novi mau belanja kebutuhan Novi"


"Iya nya" ucap Alex melihat Novi dari kaca spion.


"Kak Alex tunggu di mobil aja, Novi cuma sebentar" Ucap Novi.


Novi masuk ke dalam supermarket dan membeli kebutuhan untuknya juga bayinya.


Di lihat layar hpnya, tidak ada panggilan atau pun pesan dari suaminya, itu artinya Danil benar - benar marah padanya. Novi ingin pergi tanpa di ketahui oleh Alex, Novi keluar dari supermarket dan berjalan keluar dari samping supermarket dan berhasil pergi tanpa di ketahui oleh Alex.


"Loh bos nyonya bos mana? tadi katanya mau jemput bos karna ingin mengatakan hal penting langsung sama bos" Ucap Jonathan melihat Danil datang ke perusahaan tanpa istrinya Novi.


Danil hanya diam dengan wajah dinginnya, Danil melangkah masuk ke dalam ruangannya dan langsung duduk di sofa.


"Ada masalah dengan Novi Nil? " Tanya Jonathan hati - hati, karna akhir - akhir ini mood bos nya sering berubah - ubah.


"Novi selama ini menggunakan obat pencegah kehamilan, padahal aku sangat ingin memiliki anak dengannya" Ucap Danil dengan pandangan kosong.

__ADS_1


"Tapi itu gak mungkin Nil"


"Apanya yang gak mungkin Jon, aku menemukan obat ini di laci meja rias nya" Danil melempar obat yang ada di genggamannya ke meja yang ada di hadapannya.


"Itu gak mungkin, karna istriku Sasa selalu mengatakan kalau istrimu Novi sangat sedih karna sampai sekarang Novi masih belum memberikanmu keturunan"


Danil diam, saat ini otaknya tidak bisa berpikir jernih.


"Keluarlah Jon"


"Tapi Nil" Ucap Jonathan tapi langsung mendapatkan tatapan tajam dari atasannya sekaligus sahabatnya.


Jonathan keluar dari ruangan Danil dan langsung memeriksa CCTV yang ada di dalam rumah Danil, karna saat Danil mengatakan bahwa Danil mencurigai asisten rumah tangga nya, Jonathan langsung antisipasi memasang CCTV tanpa di ketahui oleh siapapun kecuali Alex.


Danil masuk ke dalam ruang rahasianya, mengambil foto pernikahan dirinya dan juga Novi. Dilihatnya lekat wajah bahagia dirinya dan Novi saat itu.


Berputar sangat jelas momen - momen kebersamaan nya dengan sang istri tercinta.


"Mas... Kok Novi belum hamil juga ya"


Deg


Terngiang ucapan penuh harap Novi menginginkan ada anak di antara mereka.


"Ya Tuhan... Apa yang sudah aku lakukan... Karna kecemburuan ku dengan Toni, aku sampai menyakiti hati istriku, kenapa aku gak bicara baik - baik dulu padanya, kenapa gak minta penjelasannya juga" Danil menjambak rambutnya frustasi.


"Aku meninggalkannya di rumah" Danil langsung teringat dirinya meninggalkan Novi begitu saja di rumah. Dengan cepat Danil keluar dari ruangannya dan menyambar dompet juga kunci mobil yang ada di mejanya. Tapi saat Danil membuka pintu ruangannya terlihat Jonathan hendak ingin masuk ke dalam.


"Nil ada yang ingin aku perlihatkan" Ucap Jonathan mencegah Danil pergi.


"Kalau urusan pekerjaan kamu handle aja, aku ada urusan yang lebih penting lagi Jon" Ucap Danil hendak pergi.


"Tapi ini menyangkut tentang obat pencegah kehamilan itu Nil" Danil langsung melihat Jonathan tajam.


"Aku sudah memaafkan istriku, aku ingin menemuinya Jon"


"Kamu lihat dulu Nil" Jonathan langsung menghidupkan hpnya agar Danil melihat sesuatu di sana.


"Dasar sial, brengsek"

__ADS_1


__ADS_2