
Saat Novi menunggu makanan yang tengah di siapkan, Novi merasa ingin ke toilet tapi saat melewati ruang VIP, Novi melihat seseorang yang di kenalnya berada di dalam ruang itu berdua bersama wanita yang pernah di lihatnya di cafe.
Deg
" Itu kan mas Da" Ucap Novi dalam hati.
Di dalam ruang Novi hanya melihat wajah wanita yang berpakaian seksi dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya, sedangkan Danil hanya terlihat punggungnya saja. Novi mengarahkan kameranya ke arah ruangan yang terdapat Danil juga wanitanya di sana dan langsung membidiknya.
Di lihatnya hasil fotonya di layar hp nya, terlihat sangat romantis.
" Semoga kamu bahagia mas Da" Gumam Novi melihat Danil makan di hadapan wanitanya dari sela pintu ruangan yang terbuka sedikit.
Novi menyelesaikan urusannya ke toilet dan bergegas ke rumah sakit.
Saat Novi berada di parkiran restoran terdengar seseorang memanggilnya.
" Nona Novi...." Teriak nya.
" Eh Jon ada apa?" Ucap Novi tersenyum tipis sama asisten dari si kutub Utara.
" Nona juga disini? Beli makan siang ya?" Ucap Jonathan.
" Iya ni Jon, oh ya Jon jangan panggil nona dong, panggil aja Novi kan lebih enak di dengar Jon" Ucap Novi menatap Jonathan.
" I iya Nov" Jonathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Aduh gimana kalau bos tau kalau aku manggil nona Novi hanya nama aja, bisa mati aku" Ucap Jonathan dalam hati.
" Jon, kamu kenapa? kok melamun?" Ucap Novi melambaikan tangannya di hadapan Jonathan.
" Eh tidak apa - apa Nov" Ucap Jon malu.
" Ya sudah aku pamit ya, buru - buru takut makanannya dingin" Ucap Novi melangkah menuju mobilnya.
" Iya Nov jangan lupa besok ada pertemuan untuk penanda tanganan berkas" Ucap Jonathan mengingatkan.
" Iya makasih ya udah di ingatkan, bye Jon" Ucap Novi melambaikan tangannya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
__ADS_1
" Assalamualaikum... " Novi mengucap salam membuka pintu ruangan Toni, terlihat bunda Sarah dengan mata sembabnya seperti habis menangis.
" Abang senang adek udah balik lagi ke sini, Abang lapar dek, mau di suapi" Toni menatap Novi senang.
" Bunda kenapa bang? seperti habis nangis" Novi melihat wajah sembab bunda Sarah.
" Bunda tidak apa - apa sayang, jangan khawatir ya" Ucap bunda Sarah.
" Bunda sama ayah makan dulu, itu udah Novi belikan makanan, kalau bunda mau istirahat pulang aja, biar Novi yang jaga bang Toni Bun" Ucap Novi menunjuk makanan yang di belinya di atas sofa.
" Iya sayang, makasih ya udah mau jagain Toni " Bunda Sarah tersenyum melihat Novi.
" Jangan sungkan Bun, Novi juga masih istri sah bang Toni, jadi ini bakti istri sama suaminya" Toni tersenyum melihat Novi.
" Kamu memang wanita yang sempurna sayang, dan sebentar lagi akan pergi dari sisi Abang" Ucap Toni dalam hati.
" Ayo bang makan, aaaak" Novi menyuapi Toni dengan tangannya sendiri tanpa memakai sendok.
" Andai waktu dapat di ulang" Ucap Toni dalam hati.
" Iya kalau kesambet bidadari secantik kamu, Abang akan terus melamun, ngelamun soal kamu" Ucap Toni mulai terbawa suasana.
" Abang ada - ada aja" Novi menggelengkan kepala melihat Toni sudah kembali seperti dulu.
Siang itu di warnai dengan tawa dan canda Toni dan Novi seperti teman, bukan seperti sepasang suami istri.
" Abang senang dek, kamu sudah mau dekat dengan Abang, walau hanya sebatas teman, Abang masih melihat cinta di mata kamu untuk Abang, tapi juga melihat kekecewaan di sana, tapi di hati Abang hanya ada cinta untuk kamu seorang" Ucap Toni dalam hati melihat Novi membersihkan tempat tidur Toni agar lebih nyaman di tempati.
" Dek... Duduklah ranjang ini sudah sangat nyaman, kamu juga istirahat"
" Iya bang kita istirahat sama - sama ya" Novi tersenyum manis melihat Toni, entah kenapa keikhlasan hatinya berdamai dengan kenyataan menuntunnya untuk berusaha menahan ego agar tidak menolak Toni.
Toni memejamkan mata, Novi juga duduk di samping Toni merebahkan kepalanya di ranjang Toni dengan tangan sebagai bantal nya. Toni membuka matanya setelah mendengar nafas teratur keluar dari bibir Novi.
" Makasih sayang, udah kasih Abang kesempatan dekat denganmu selama satu bulan ini" Ucap Toni membelai lembut rambut Novi dengan pandangan tak lepas dari wajah cantik Novi.
Toni turun dari ranjang, mengangkat tubuh Novi pindah ke ranjang tempat tidurnya, agar tidur Novi lebih nyaman. Toni duduk di tempat yang Novi duduki, menatap intens Novi yang sedang menutup matanya tertidur pulas.
__ADS_1
" Eh kenapa adek yang tidur di sini bang?" Novi bingung kenapa dia yang tidur di ranjang pasien, padahal tadi dia tidur di tempat duduk.
" Maafkan Abang dek, Abang yang pindahin kamu ke ranjang agar tidur kamu nyaman" Ucap Toni tersenyum tipis.
" Ya udah Abang tidur lagi di ranjang, kan Abang yang sakit" Novi turun dari ranjang.
" Abang sudah sehat dek" Ucapan Toni terhenti karna Novi melihat tangan Toni ingin menyentuh pipinya.
" Maaf" Toni menurunkan kembali tangannya.
" Abang istirahat ya, adek mau temui dokter dulu, ada yang ingin adek tanyakan" Ucap Novi ingin keluar dari ruangan, tapi di hentikan oleh Toni.
" Apa adek mau tanya tentang penyakit Abang?" Toni bertanya dengan tatapan sendunya.
" Iya bang, kemaren Abang menjalani prosedur untuk mendiagnosa penyakit Abang, adek cuma mau memastikan aja kalau Abang sehat" Ucap Novi.
" Tapi apa yang dokter katakan itu benar dek, Abang memang mengidap kanker otak, dan sudah ke tahap bahaya" Toni tersenyum tipis.
" Dari mana Abang tau?" Ucap Novi menatap Toni.
" Ayo adek duduk dulu" Novi mengikuti apa kata Toni.
" Abang sudah setahun ini mengetahui penyakit Abang, karna Abang sering sakit kepala dan sakitnya tidak biasa, akhirnya Abang memeriksakan tubuh Abang dan di kejutkan dengan kenyataan kalau Abang mengidap penyakit itu"
" Abang sering berbohong tapi tidak selalu ke tempat wanita itu, ke tempat wanita itu hanya setengah jam itupun Abang selalu beralasan untuk cepat pulang, Abang gak pernah menginap di tempat wanita itu dek, Abang berobat ke dokter langganan Abang dan pengobatannya sampai tengah malam dan kadang juga Abang gak pulang"
" Tapi pengobatannya tidak berhasil dek, sudah setahun Abang berobat tapi gak berhasil juga" Ucap Toni lemah.
" Maaf kan adek bang, adek sebagai istri gak tau tentang kondisi Abang hiks hiks hiks" Novi terisak menundukkan kepalanya.
" Sayang... Abang juga yang salah, gak jujur sama adek, Abang selalu berpikir kalau adek pasti akan sangat sedih juga khawatir sama Abang"
" Abang mau adek selalu sehat dan bahagia, Abang gak mau melihat ada air mata di wajah adek, tapi ternyata Abang sendiri yang sudah membuat adek menangis juga menyakiti hati kamu dek" Ucap Toni bergetar menahan tangis.
" Sudah bang, adek udah mengikhlaskan semuanya, adek mau sekarang Abang pikirkan perobatan untuk penyakit Abang, adek akan terus dukung Abang untuk sembuh" Ucap Novi menggenggam tangan Toni, mencoba memberi semangat dengan sentuhan yang hanya bisa Novi lakukan dengan memegang tangan Toni.
" Maaf kan Abang dek, karna sudah sangat menyakitimu, Abang tau cinta adek masih sama Abang tapi rasa kecewa adek memberikan jarak yang sangat jauh untuk kita walau kita sedekat ini" Ucap Toni dalam hati, tangan Toni menyambut belayan tangan Novi lembut di punggung tangan Toni.
__ADS_1