
" Sayang... Mamah dan papah sudah menerima lamaran seseorang untuk kamu nak" Mamah Rani melihat Novi dengan wajah yang ragu.
" Apa mah " Novi terkejut dengan ucapan mamahnya.
" Lamaran seseorang? mamah sama papah sudah menerima lamaran dari seseorang untuk Novi" Novi mengulangi kata - katanya lagi memastikan apa yang dia dengar salah.
" Iya sayang maafkan papah sama mamah yang sudah menerima lamarannya sebelum berbicara dengan kamu dulu, papah dan mamah sudah sangat mengenal pria itu nak, dia anak yang baik, papah sangat mengenal keluarganya dan juga dia nak, papah sangat yakin dia akan membahagiakan kamu nak" papah Rafa menatap Novi dengan sangat yakin.
" Tapi papah sama mamah tau kalau Novi masih belum siap menjalin hubungan lagi, jangan kan menikah untuk pacaran aja Novi masih berpikir ulang pah mah" Novi masih trauma dengan kisah rumah tangganya dengan Toni dulu.
Novi masih membentengi hatinya untuk tidak tersakiti lagi, memang Novi terlihat wanita yang kuat tapi kerapuhan yang ada di dalamnya hanya Novi yang merasakannya, hanya Novi yang bisa mengatasinya.
" Sayang papah sama mamah sudah terlanjur menerimanya nak, dan nanti malam dia akan datang ke sini untuk makan malam sekalian menyematkan cincin tunangan kalian nak" ucap mamah Rani lebih mengagetkan Novi lagi.
" Pah mah" Novi sudah tidak sanggup lagi berkata karna mamah dan papahnya sudah menyetujui lamarannya.
" Apa yang harus aku lakukan, aku belum mau menjalin hubungan dengan pria manapun, hatiku masih sakit mengingat pengkhianatan bang Toni dulu" Ucap Novi dalam hati.
" Aku akan membuat pria itu ilfil sama aku, dan dia yang akan memutuskan sendiri pertunangan nanti malam" ucap Novi masih dalam hati dan tersenyum senang dengan rencananya untuk menggagalkan pertunangannya malam nanti.
" Huh... Baiklah jika sudah di putuskan, Novi akan menerimanya karna dia adalah pria yang sudah di pilih papah dan mamah untuk Novi, Novi yakin pilihan papah dan mamah adalah pilihan yang terbaik untuk Novi" Novi tersenyum sangat manis tidak ingin mengecewakan papah dan mamahnya juga memikirkan rencana apa yang akan dia lakukan untuk menggagalkan pertunangannya.
Rencana - rencana konyol ber seliweran di otak kecilnya sehingga membuatnya senyum - senyum sendiri gak jelas, hal itu juga membuat papah dan mamahnya heran melihat anak nya senyum - senyum sendiri seperti orang gila.
" Pah ada apa dengan anakmu, kok senyum - senyum sendiri pah, apa karna perjodohan yang kita lakukan membuat anak kita gak waras pah" Mamah Rani jadi khawatir sama anaknya.
" Wus.. Sudah mah Novi anak yang kuat dia gak akan gila hanya karna perjodohan ini mah, Novi anak papah, anak kesayangan papah, papah sangat yakin dengan keputusan kita mah" papah Rafa meyakinkan istrinya.
__ADS_1
" Iya pah mamah juga sangat yakin dengan keputusan kita, Anan dan Dira mereka adalah sahabat terbaik kita pah, mereka adalah orang - orang yang sangat baik, kita juga bisa bersatu karna mereka juga pah" mamah Rani mengingat momen yang indah bersama dengan sahabatnya juga sahabat suaminya dulu.
" Iya mah, sebenarnya ada rasa kasihan juga untuk Toni karna jalan ceritanya sama persis dengan kita dulu, bedanya papah bisa bertahan dengan obat itu sedangkan Toni tidak, papah ingat betul betapa susahnya menahan hasrat akibat obat perangsang, tapi papah berusaha kuat dan selalu mengingat mamah, wanita yang papah cinta" Papah Rafa merangkul pinggang istrinya lembut mengingat kenangan mereka.
" Iya pah, mamah juga gak tau apa yang mamah lakukan kalau papah sampai meniduri wanita itu, mungkin mamah juga akan sama seperti Novi, melepaskan papah"
" Suuttt jangan bicara lagi mah jangan ingat itu lagi, papah gak akan sanggup hidup tanpa mamah" Papah Rafa menyentuh bibir istrinya dengan jari telunjuk lalu memeluknya erat seakan tidak ingin melepaskan istrinya.
" Pah mah ini masih di luar lo... Kalau mau romantis - romantis an di dalam kamar aja" Ucap Novi membuat wajah papah dan mamahnya jadi merah dan canggung.
" Ayo bantu mamah masak sayang" mamah Rani menarik tangan Novi ke dapur. Ibu dan anak itu tertawa bercanda bersama sambil memasak, sudah lama pemandangan seperti itu hilang semenjak Novi menikah dengan Toni. Mamah Rani tidak menyewa jasa asisten rumah tangga karna di rasa tidak perlu, mamah Rani masih bisa meng handle sendiri, tapi kalau untuk bebersih ada orang yang datang di pagi hari dan pulang siang.
" Apakah dua bidadari cantik papah perlu bantuan?" papah Rafa melihat istri dan anaknya bergantian.
" Boleh pah, emmm papah kupas wortelnya dan potong dadu, juga kupas kentangnya ya pah" Mamah Rani menyodorkan plastik berisi kentang dan wortel ke tangan suaminya, tapi tangan mamah juga ikut tertarik hingga nyaris jatuh kalau tidak di tahan oleh papah Rafa. Adegannya persis seperti india, wanitanya mau jatuh dan si pria menangkapnya hingga mata saling bertatapan.
" Papah sama mamah lupa kalau ada orang ketiga disini? " ucap Novi tersenyum melihat kecanggungan papah dan mamahnya.
" Papah udah sana gak usah bantu di dapur" Mamah Rani mengusir suaminya karna malu.
" Loh kan papah mau bantu mah" Papah Rafa langsung duduk di lantai mengupas wortel.
" Semoga papah dan mamah selalu bahagia sampai maut memisahkan" Doa Novi melihat papah dan mamahnya saling canggung, padahal usia sudah tua tapi jiwa mereka masih jiwa muda, masih seperti cinta anak ABG, tapi Novi sangat bahagia bahkan iri melihat orang tuanya masih di penuhi oleh cinta dari masing - masing pasangannya.
" Apa aku akan bisa mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang, tapi aku masih takut untuk memulainya" Ucap Novi dalam hati.
" Sayang kok melamun... " Tepukan mamah Rani menyadarkan Novi dari acara melamun nya.
__ADS_1
" Hah siapa yang melamun mah" Elak Novi.
" Sayang sepertinya sudah beres semuanya, kamu mandi sana dandan yang cantik ya sayang" Mamah Rani mendorong tubuh Novi untuk membersihkan diri di dalam kamar, dan Novi dengan langkah gontai masuk ke dalam kamarnya.
" Aduh kenapa aku gak pede ya keluar seperti ini, tapi mau gimana lagi, aku harus buat pria itu ilfil sama aku dan akhirnya memutuskan pertunangan ini" Novi melihat lagi dandanannya di cermin.
" Sayang.... Keluar nak... Tamu nya sudah datang" Teriak mamah Rani.
" Iya mah, mamah duluan aja nanti Novi nyusul" Novi juga ikut teriak.
" Aduh jantungku kenapa dag dig dug gini" Novi memegang dadanya sendiri, karna debaran jantungnya mendadak berdetak hebat.
" Haaahh.... Huuufff" Novi mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan, untuk menormalkan jantungnya.
Novi keluar dari kamar dan menuruni anak tangga secara perlahan menuju ruang tamu, terdengar suara tawa dari ruang tamu yang seperti tidak asing di telinga Novi.
Hanya ada dua tamu di sana yang hanya Novi lihat adalah punggung dua pria yang sedang ber cerita dengan ke dua orang tuanya.
" Assalamu'alaikum... " Novi mengucapkan salam untuk orang yang ada di ruang tamu, dan reflek kedua orang tuanya juga tamunya kompak menatap ke arah Novi sambil menjawab salam Novi.
" Wa'alaikumusalam... "
" Sayang"
" Novi"
" Mas Da"
__ADS_1