
" Selamat tinggal gadis kecilku" Ucap Danil dalam hati, membayangkan wajah Novi saat sedang tertawa lepas.
" Aduh kenapa ini, kenapa perasaanku semakin gelisah, jantungku, debarannya juga semakin kuat" Novi terus memegangi dadanya.
" Kak, kak Novi kenapa?" Wulan datang menghampiri Novi seperti menahan sakit.
" Kakak gak tau Lan, perasaan kakak sangat gelisah, jantung kakak juga berdebar Lan, rasanya gak enak Lan, gelisah terus" Wulan memapah Novi ke ruangannya, Wulan merebahkan tubuh Novi di sofa ruangannya.
" Ini kak di minum dulu airnya" Wulan menyodorkan satu gelas air putih untuk Novi.
" Makasih Lan " Novi memejamkan matanya setelah meneguk segelas air putih yang di berikan Wulan.
" Apa sudah terasa lebih baik kak?" Ucap Wulan melihat Novi masih memegang dadanya.
" Iya, makasih ya Wulan, bisa tinggalkan kakak sendiri, kakak ingin istirahat sebentar" Ucap Novi masih memejamkan matanya.
" Iya, kalau kakak butuh sesuatu kakak bisa panggil Wulan, Wulan gak akan jauh dari ruangan kakak" Ucap Wulan di jawab anggukan kepala.
" Kenapa aku teringat terus sama mas Da?" Gumam Novi membayangkan wajah tampan Danil.
Tok Tok Tok
Novi membuka mata dari tidur lelapnya karna terganggu dengan suara ketukan pintu dari luar ruangan.
" Masuk " teriak Novi dengan suara yang serak karna bangun tidur.
Pintu terbuka terlihat Wulan masuk membawa nampan berisi makan malam untuk Novi.
Novi melirik jam di dinding, alangkah terkejutnya Novi melihat jam sudah pukul sembilan malam, ternyata dia tertidur cukup lama.
" Ini kak Wulan bawakan makan malam untuk kakak" Ucap Wulan menata makanan di atas meja.
" Kakak cuci muka dulu ya Lan" Novi masuk ke dalam kamar mandi di ruangannya.
" Masakan kamu memang enak Lan" Novi mengacungkan ke dua jempol tangannya di hadapan Wulan.
" Makasih kak " Ucap Wulan tersenyum.
" Bagaimana kabar adik - adik kamu di desa Lan? aduh.... jadi kangen sama desa air terjun" Novi membayangkan berada di desa air terjun tapi menggelengkan kepalanya ketika muncul wajah tampan Danil.
" Alhamdulillah kak mereka sehat dan sekolahnya juga makin pintar karna terus belajar dari buku yang kakak kirim, terima kasih ya kak" Wulan tersenyum sambil bercerita tentang adik - adiknya yang juga banyak mengalami perubahan ketika mendapatkan bantuan dari Novi.
" Syukurlah, dan kamu harus tetap konsisten ya Lan, jangan sampai terjerumus lagi" Novi selalu mengingatkan Wulan.
" Iya kak terima kasih untuk semuanya" Ucap Wulan tersenyum. Di balas juga dengan senyum manis Novi.
__ADS_1
Dreett Dreett
Hp Novi berbunyi terlihat nama " suamiku" di sana.
" Assalamualaikum bang" Ucap Novi.
" Waalaikumssalam... Adek di mana?" terdengar suara Toni seperti khawatir.
" Adek masih di showroom bang, tadi adek ketiduran dan ini baru aja bangun" Novi berucap sambil melihat Wulan sedang membereskan tempat makan Novi.
" Adek udah makan? adek ke rumah sakit kan?" Toni bertanya dengan nada yang sangat lembut.
" Iya bang" Jawab singkat Novi.
" Apa adek sakit? adek seperti lemas gitu?" Toni masih terlihat khawatir.
" Abang... Tadi kan udah adek bilang, adek baru bangun dari tidur, ya udah ini adek mau ke rumah sakit ya, adek tutup dulu, Assalamualaikum Abang..." Ucap Novi lembut.
" Waalaikumssalam adek... " Ucap Toni tak kalah lembut.
Novi membuka pintu ruangan Toni dan terdengar tawa canda seorang anak kecil dengan ucapan yang masih belum bisa menyebutkan huruf R.
" Assalamualaikum..." Novi memberi salam pada semua orang yang ada di ruangan Toni.
" Waalaikumssalam... " Jawab mereka semua.
" Iya Bun " Novi tersenyum manis duduk di samping bunda Sarah.
" Satria masih kenal gak sama bude Novi? " Tampak anak laki - laki yang masih menginjak umur empat tahun setengah itu diam memandang wajah Novi.
" Hai Satria... " Novi melambaikan tangannya di hadapan Satria.
" Ih.... Tampannya... anak siapa ini sih... Pasti Satria lupa ya sama bude Novi..." Novi Mencolek dagu Satria dan ber pura - pura ngambek dengan memanyunkan bibirnya ke depan.
" Satlia gak Akan pelnah lupa sama bude Novi yang cantik ini" Satria juga mencolek dagu Novi dengan genitnya.
" Hahaha " Semua tertawa melihat Satria membalas colekan Novi.
" Satria yang tampan se....... Dunia kapan datang ke sini? kenapa bude gak di kasih kabar sih..." Novi berucap sambil menggerakkan tangannya menjadi bentuk bulat besar ketika berucap " dunia" untuk menggoda Satria.
" Bude Novi yang cantik se...... Langit tadi siang Satlia datang ke sini buat bude telkejut jadi gak bilang" Ucap Satria menunjuk langit.
" Eh, kok se langit aja sih masih gedean Satria dong tampannya budenya kalah" Novi pura - pura ngambek lagi.
" Enggak bude Novi yang cantik.... Satlia lupa apa namanya kalau olang pelgi ke bulan itu apa? ya Satlia bilang langit aja, kan bidadali yang cantik ada di langit bude..." Satria mencolek dagu Novi lagi.
__ADS_1
" oh... maksud Satria angkasa ya? Terus siapa bidadarinya?" Ucap Novi mencolek dagu Satria.
" Iya itu maksud Satlia, bidadali nya ya bude Novi yang cantik ini, aduh... Gemes Satlia liat bude Novi " Satria memegang pipi Novi menggerakkan ke kanan dan ke kiri.
" Hahaha.. " Tawa semua orang menggema di ruang rawat Toni akibat ulah Novi dan Satria.
Novi dan Satria sering melakukan Vidio cal bersama, mereka memang selalu saling menggoda, karna Novi senang dengan anak kecil.
" Apa kabar mbak" Ucap Ririn menyalami dan memeluk Novi.
" Alhamdulillah baik Rin, Anak kamu gemesin banget sih Rin" Novi melihat Satria duduk di pangkuan kakek Ridho.
" Iya mbak tapi suka jahil kayak papanya" Ucap Ririn tersenyum melihat Satria dan suaminya bergantian.
" Sayang, besok Abang sudah bisa pulang" Ucap Toni tersenyum melihat Novi dekat dengan Ririn dan Satria.
" Apa dokter udah ijinkan Abang untuk pulang?" Novi duduk di samping Toni.
" Udah dek, tadi Abang ijin pulang besok sama dokter, dan dokter mengijinkan Asal Abang tidak telat minum obat, Abang juga udah bilang sama bik Ani" Novi hanya tersenyum dan mengangguk.
Suasana di ruangan menjadi sangat ramai karna celotehan Satria.
Novi membereskan barang - barang yang akan di bawa pulang ke rumah Novi dan Toni. Ayah, bunda, Satria, Ririn dan juga suaminya juga ikut mengantar Toni pulang ke rumahnya.
" Den Toni... Non Novi..." Bik Ani tersenyum bahagia melihat Novi dan Toni kembali ke rumahnya lagi.
" Apa kabar bik? " Ucap Novi memeluk bik Ani.
" Baik non " Ucap Bik Ani tersenyum.
" Apa kamarnya sudah di siapkan bik?" Ucap Novi pada bik Ani.
" Sudah non" Ucap Bik Ani mengangguk.
" Ayo bang kita ke kamar aja, Abang istirahat ya" Novi memegang lengan Toni menuntunnya ke kamar mereka.
" Dek... Abang udah sehat" Toni memegang tangan Novi.
" Iya Abang udah sehat, tapi tetap harus istirahat oke" omel Novi membuat Toni tersenyum lebar.
" Abang senang adek marahi Abang, itu artinya adek balik seperti Novi Abang yang dulu, Abang kangen Novi yang cerewet" Ucap Toni dalam hati.
" Ayah, bunda, semuanya Novi antar bang Toni ke kamar dulu ya" Ucap Novi.
Novi merebahkan tubuh Toni di ranjang mereka yang dulu mereka tempati.
__ADS_1
" Abang kenapa liatin adek terus, Abang istirahat ya" Novi melihat Toni seperti ragu ingin mengatakan sesuatu padanya
" Dek... Boleh kita tetap tidur satu kamar?"