
Di uraikan pelukannya, Danil menatap lekat mata Novi dan menyentuh pipi mulus Novi dengan lembut, mengikis jarak membuat wajah mereka semakin mendekat.
" Ehem Ehem" Terdengar suara dari arah belakang mereka yang membuat mereka reflek melihat ke belakang.
" Papah.... " Teriak Novi dan Danil bersama.
Papah Rafa bertolak pinggang memasang wajah sangar.
" Papah dan mamah mengkhawatirkan kalian, malah kalian enak - enakan di sini" Wajah Novi sudah sangat merah menahan malu, sedangkan Danil hanya biasa saja seperti tidak terjadi sesuatu.
" Masih mau enak - enakan pah... Belum terjadi yang enak - enak" Ucap Danil dengan entengnya membuat Novi melayangkan tatapan tajamnya. Sedangkan yang di tatap hanya menampilkan gigi putihnya.
" Sudah ayo masuk ke dalam, atau gak jadi ni acara tukar cincinnya.... " papah Rafa menggoda calon menantunya.
" Ya jadi dong pah" Ucap Danil cepat, menarik tangan Novi untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan papah Rafa di belakang.
" Ehemm" papah Rafa ber deham menyadarkan calon menantunya.
Danil mendengar calon mertuanya ber deham, dengan cepat Danil memutar balik badannya melihat papah Rafa yang melihat Danil menyentuh lengan Novi.
" Eh pah kok diam aja di situ, ayo pah kita masuk biar cepat tukar cincinnya ini udah larut pah" Danil melepas pegangan tangannya pada Novi, lalu mendekati calon mertuanya dan mengarahkan tangannya menuju pintu. Papah Rafa hanya menggeleng sambil tersenyum.
Papah Rafa melangkah masuk ke dalam rumah menarik tangan Novi untuk jalan bersamanya, Danil memasang wajah cemberut sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
" Eh wajah si bos kok gak enak gitu... Apa bakal gak jadi nih tukar cincinnya? " ucap Jonathan dalam hati melihat wajah cemberut Danil berjalan mendekatinya.
" Jadi papah tanyakan dulu sama kalian berdua, setelah bicara apakah kalian masih mau melanjutkan pertunangan ini? " Papah Rafa melihat Danil dan Novi bergantian.
" Lanjut pah" ucap Danil mantap, sedangkan Novi mengangguk tersenyum malu.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu sematkan cincinnya di jari pasangan masing - masing, untuk saat ini hanya kita keluarga inti saja yang menjadi saksi pertunangan ini"
Danil memasukkan tangannya di saku jasnya dan mengeluarkan kotak berudu berwarna merah, di bukanya kotak itu terdapat sepasang cincin di sana, lalu di ambilnya cincin yang lebih kecil terdapat sebuah berlian di tengahnya terukir nama pujaan hati. Di sematkan dengan lembut cincin spesial itu di jari manis Novi.
Novi juga melakukan hal yang sama di jari manis Danil dengan cincin yang lebih besar darinya.
" Semoga mas Da jodoh terakhirku" ucap Novi dalam hati melihat Danil beralih ke cincin yang melingkar indah di jari manisnya.
" Akhirnya aku mendapatkan mu dan memenuhi janjiku pada gadis kecilku, wanita yang aku cintai" ucap Danil dalam hati melihat Novi penuh cinta.
" Semoga kamu bahagia sayang" Ucap papah Rafa dan mamah Rani dalam hati.
Mamah Rani mengusap air mata yang mengalir di pipi yang mulai memperlihatkan kerutannya yang halus, dan itu terlihat oleh Novi.
" Mah... " Novi beranjak dari samping Danil menuju ke arah mamah Rani, memeluk erat wanita yang telah melahirkannya penuh sayang.
" Mamah tidak ingin melihat kamu sakit nak, karna mamah juga ikut merasakan rasa sakit itu" Mamah Rani memeluk Novi semakin erat.
" Mah.. " Danil menekuk lututnya di hadapan mamah Rani juga Novi.
" Danil janji akan selalu membahagiakan Novi anak mamah, Danil akan berusaha menghadirkan tawa lepas di wajah cantiknya mah dan Danil akan selalu melindungi Novi dari orang - orang yang ingin menyakitinya " Danil menatap lekat mamah Rani.
" Mamah akan pegang janji kamu nak Danil, jika kamu menyakiti hati dan fisik anak mamah, maka mamah sendiri yang akan mengambilnya dari kamu dan membawanya pergi jauh darimu, sampai kamu tidak akan pernah melihatnya lagi" mamah Rani berucap dengan sangat tegas di hadapan semua orang yang ada di ruangan.
Mamah Rani tidak ingin melihat anaknya di sakiti lagi, meski Novi selalu tersenyum di depannya tapi hati seorang ibu akan selalu tau kalau anaknya sedang tidak baik - baik saja, mamah Rani akan terus menjadi penguat untuk anaknya walau sebenarnya hatinya juga sangat rapuh melihat anaknya terpuruk.
" Ya nak Danil tolong jangan membuat papah dan mamah kecewa, kami harap kamu bisa membahagiakan anak kesayangan kami" Papah Rafa mengelus rambut Novi penuh kasih sayang.
" Danil akan berusaha semampu Danil pah mah" Ucap Danil tegas.
__ADS_1
" Ehem... Apa boleh saya makan kue ini? sepertinya enak hehehe" Jonathan menunjuk makanan berlapis di hadapannya.
" Eh... Boleh boleh, makan nak Jon.... Mamah pesan makanan ini semua bukan untuk di lihat saja, habiskan saja kalau kamu mau akan mamah bungkus kan untuk di bawa pulang" Mata Jonathan berbinar mendengar ucapan mamah Rani. Niat hati mengalihkan perhatian dari rasa sedih yang melanda satu keluarga eh dapat bonus kue, di bawa pulang lagi.
" Emang kalau niat sudah baik akan di balas langsung dengan kue" Ucap Jonathan dalam hati. Entah ke mana tampang dingin dan cool yang selalu di perlihatkan nya, yang ada hanya Danil dan Jonathan yang seperti kucing manis dan hangat.
" Jon emangnya kamu gak pernah makan kue? " Sindir Danil.
" Ya setiap hari memang makan kue Nil tapi kue ini emang enak, coba kamu makan enak lo... " Jonathan terus saja memakan kue lapis buatan mamah Rani.
" Maaf ya mah Jonathan kadang suka gitu kalau lagi laper walau sudah kenyang" Ucap Danil gak enak.
" Gak apa - apa nak Danil... Mamah senang kok nak Jonathan suka masakan mamah, mamah gak sia - sia membuatnya tadi juga mamah masak bareng Novi jadi bisa buat makanan agak banyak, nanti mamah bungkus kan ya nak Jon" Mamah Rani tersenyum melihat Jonathan dengan lahap makan kue hasil buatannya.
" Kalau gitu tolong bungkus buat Danil juga ya mah.. Karna Itu buatan Novi pasti sangat enak" Danil melirik Novi yang sedang tersenyum sangat manis.
" Iya nak Danil mamah juga akan siapkan untuk kamu khusus masakan Novi" Ucapan mamah Rani membuat senyum lebar Danil tercetak jelas di wajahnya.
" Aku gak pernah melihat mas Da tertawa lepas seperti itu, yang ada aku selalu melihat sikap dinginnya hingga aku menjulukinya si kutub utara, tapi sekarang dia udah jadi tunangan ku, walau aku masih ragu tapi aku akan berusaha untuk membuka hatiku untuknya" Ucap Novi dalam hati.
" Baiklah nak Danil hari ini kalian sudah bertukar cincin, lalu kapan melangsungkan pernikahannya? " Papah Rafa melihat Danil serius.
" Besok pah " Jawab Danil tak kalah serius.
" Uhuk uhuk"
" Hah... "
" Apa... "
__ADS_1