Kekasih Halal Yang Berkhianat

Kekasih Halal Yang Berkhianat
Bab 37 Toni Sakit


__ADS_3

"Bunda kita harus pamit, Toni masuk rumah sakit Bun" Ucap ayah Ridho meng khawatirkan keadaan Toni.


" Apa... " Kami semua kaget mendengar berita Toni masuk rumah sakit.


" tadi memang wajah bang Toni nampak pucat" Ucap Novi dalam hati.


Orang tua Toni dengan panik meminta ijin untuk pamit ke rumah sakit, tapi Novi, mamah dan papah nya juga ikut ke rumah sakit.


" Sayang bukannya kamu tadi habis ketemu sama Toni ?" Mamah Novi bertanya pada Novi yang sedang fokus menyetir.


" Iya mah, tapi memang tadi wajah bang Toni nampak pucat" Novi mengingat wajah Toni yang pucat juga senyum paksa Toni yang sedang menahan sakit.


" Sebenarnya mamah juga melihat ketulusan hati Toni mencintai kamu nak, tapi mengingat pengkhianatan Toni yang sudah menyakiti hati kamu" Ucapan mamah Novi terhenti.


" Mamah tidak menyangka kalau Toni tega menyakiti kamu nak" Mamah Novi mengingat perjuangan Novi dan Toni meyakinkan mereka orang tua Novi untuk mendapatkan restu.


" Sudah mah, semua sudah jadi takdir Novi anak kita, menjalani ujian hidup seperti ini, kita selaku orang tua hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan Novi , ada pelangi setelah hujan ada kebahagiaan yang akan datang pada anak kita Novi" Papah Novi menenangkan mamah Novi yang sudah menahan tangis.


" Iya mah papah benar ini sudah takdir yang harus Novi jalani, mamah sama papah doakan Novi yah " Ucap Novi melihat mamah dan papah nya melalui kaca spion depan, Novi tersenyum melihat keharmonisan mamah dan papah nya yang terjaga sampai dengan sekarang.


Novi ingin seperti ke dua orang tuanya, selalu nampak harmonis, Novi selalu melihat kebahagiaan penuh cinta di mata ke dua orang tuanya,saling menjaga, juga setia.Tapi sekali lagi ini lah takdirnya.


" Aku tidak akan mengenal cinta dari seorang laki - laki lagi, aku hanya percaya cinta kedua orang tuaku juga sahabatku" Ucap Novi dalam hati.


Novi seperti putus asa akan perjalanan cintanya juga merasa bahwa tidak akan ada laki - laki di dunia ini yang akan mencintainya tulus, seperti kedua orang tuanya.


Sampai di rumah sakit Novi juga mamah dan papah nya mengikuti ayah dan bunda Toni ke ruang UGD.


Tidak lama dokter terlihat keluar dari ruang UGD.


" Dokter saya ayah dari Toni Handoko, bagaimana kondisi anak saya dok?" Ayah menatap dokter dengan wajah yang cemas.


" Baik pak ayo ikut saya keruangan saya, akan saya jelaskan di sana" Ucap dokter yang nampak berjalan menuju ke ruangannya.


" Ayah, apa Novi boleh ikut?" Ucap Novi ragu - ragu.

__ADS_1


" Boleh nak, kamu masih sah istri dari Toni, jadi kamu juga berhak tau bagaimana keadaan Toni saat ini" Ucap Ayah Toni menatap sendu menantunya.


Novi mengikuti langkah dokter dan juga ayah dan bunda Toni menuju ke ruangan dokter yang menangani Toni setelah meminta ijin pada mamah dan papah nya.


" Begini pak buk, luka di alat pribadinya sudah sembuh tapi setelah saya periksa secara seksama, indikasi kemungkinan saudara Toni mengidap penyakit kanker otak itu ada" Ucapan dokter membuat semua terkejut.


" Membutuhkan diagnosis medis untuk mengetahuinya. Gejala berupa sakit kepala baru atau semakin bertambah, penglihatan kabur, hilang keseimbangan, kebingungan, dan kejang. Akan tetapi pada beberapa kasus, tidak ada gejala apapun yang timbul di tubuh pasien, dan kemungkinan saudara Toni termasuk pada kasus yang tidak mengalami gejala apapun, namun setelah mengetahui sudah pada tahap stadium yang membahayakan " Pernyataan yang di ucapkan dokter mengenai kondisi Toni membuat bunda Sarah terisak histeris.


" Anakku yah... hiks hiks hiks" Raung bunda Sarah di pelukan Ayah Ridho.


" Bang Toni hiks hiks hiks " Novi juga menangis mendengar kenyataan yang di alami Toni yang masih sah menjadi suaminya.


" Dokter tolong berikan tindakan untuk anak saya Toni dok, agar mendapatkan penanganan yang tepat, dan mudah - mudahan prediksi dokter tidak benar" Ucapan ayah Ridho melemah.


" Baik lah pak kami akan memulai prosedurnya terhadap saudara Toni, berdoa saja mudah - mudahan prediksi saya salah" Ucap dokter membuat kami cepat menganggukkan kepala.


Novi juga ayah dan bunda Toni keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang sendu, walau dokter belum memastikan penyakit yang di derita Toni akan tetapi ada rasa khawatir yang timbul di hati Novi .


" Mah pah, boleh Novi di sini temani bang Toni? " Ucap Novi meminta ijin.


" Maaf jeng kami pulang dulu ya, kami doakan yang terbaik buat Toni " Ucap mamah Novi lagi, memeluk bunda Sarah.


" Makasih ya jeng atas doanya, maafkan semua kesalahan Toni ya jeng hiks hiks hiks" Ucap bunda Sarah terisak di pelukan mamah Novi.


" Semuanya sudah takdir jeng, kalau begitu kami pamit, Assalamualaikum " Pamit mamah dan papah Novi .


" Waalaikumssalam " Jawab Novi dan kedua orang tua Toni .


Novi ,ayah dan bunda Toni sudah berada di ruangan Toni, terlihat Toni berbaring di ranjang pasien dengan salah satu tangannya terpasang jarum infus, juga mata yang masih tertutup rapat karna obat yang di berikan dokter.


" Sayang kamu tidurlah di sofa, kamu pasti lelah kan?" Ucap bunda Sarah pada Novi yang sedang duduk di samping Toni .


" tidak apa apa Bun, Novi tidur di sini aja , bunda sama ayah aja yang tidur di sofa" Ucap Novi tanpa mengalihkan pandangannya dari Toni .


Novi pun tertidur di samping Toni sambil duduk dan kepalanya bersandar di ranjang Toni .

__ADS_1


Toni membelai lembut kepala Novi, tampak binar kebahagiaan di wajah pucat nya, karna saat membuka mata tampak wanita yang ia rindukan tidur di sampingnya.


" Bang Toni udah bangun?" Tanya Novi sambil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karna tidur yang tidak nyaman.


" Iya dek " Jawab Toni memperlihatkan senyum manisnya .


" Sayang ini sarapannya, ayah tadi beli di kantin rumah sakit" Ucap bunda Sarah pada Novi.


" Iya Bun Novi mandi dulu ya" Ucap Novi tersenyum manis.


" Kenapa Abang gak makan?" Ucap Novi setelah keluar dari kamar mandi melihat ayah dan bunda sedang melahap makanan tapi tidak dengan Toni .


" Abang mau adek yang suapi" Ucap Toni melihat Novi penuh cinta.


" Ya udah sini Novi suapi" Ucap Novi di potong cepat oleh Toni .


" Adek, adek yang Suapi" Ucap Toni


" Iya sini adek yang suapi" Ucapku tersenyum manis.


Novi menyuapi Toni sampai makanannya habis dengan pandangan mata Toni yang tidak pernah lepas dari wajah cantik Novi .


" Apa seperti ini keadaan saat Abang merawat Sinta? menyuapi dan memperhatikannya?" Pertanyaan Novi membuat pandangan Toni sendu.


" Maaf kan Abang dek tanpa Abang sengaja, Abang memberi kan celah pada wanita lain untuk masuk ke dalam kehidupan kita" Ucap sesal Toni .


" Adek yakin Abang tau apa sebab adek tidak bisa menerima Abang kembali " Ucap Novi sendu.


" Iya dek, itu semua karna ulah Abang hingga adek menjauh dari Abang" Toni menunduk tidak mau memperlihatkan air mata yang sudah satu tetes jatuh di punggung tangannya.


" Maaf kan adek ya bang selama adek jadi istri Abang banyak kekurangan yang ada di diri adek hingga rumah tangga kita seperti ini" Ucap Novi .


" Tidak dek Abang yang sudah menghancurkan rumah tangga kita"


" Abang akan melepaskan mu dek"

__ADS_1


__ADS_2