
Empat hari di rawat di rumah sakit, kini Bu Mirna sudah diperbolehkan pulang dengan catatan harus kontrol satu minggu sekali.
Hania memesan taksi online untuk mereka pulang ke rumah. Tak banyak barang yang dibawa, hanya satu tas pakaian dan satu tas gantung untuk menyimpan barang berharga.
Dalam perjalanan pulang Hania melamun dengan menatapi pemandangan luar. Uang tabungan mereka sudah habis untuk membayar tagihan rumah sakit Bu Mirna. Hanya tersisa dua ratus ribu rupiah, itupun untuk modal jualan lagi.
Pikiran Hania terasa penuh, bagaimana dia harus berjualan sedangkan ibunya masih butuh pemulihan. Dan dia takkan tega membiarkan ibunya di rumah sendirian.
"Han, kamu ngelamunin apa, Nduk?" Bu Murni mengelus punggung tangan Hania. "Apa kepikiran dengan sosok pria bernama Abian itu?"
"Bu?" Hania terkejut lalu menoleh cepat. Bisa-bisanya ibunya berpikiran demikian.
"Kalau kamu sama dia, Ibu merestui, Nduk. Selama ini kamu nggak pernah punya kenalan pria, Ibu pikir dia menyukaimu karna Ibu bisa lihat dari sikapnya dan cara dia memandang kamu."
Mas Abian memang terlalu kelihatan dengan raut wajahnya. Semua orang pasti menilai begitu. Mas Abian baik, tapi aku belum ada pikiran apapun untuk berhubungan serius dengan pria.
"Nduk, melamun lagi."
"Eh, maaf, Bu." Hania menoleh lagi. "Ibu tau, Hania nggak mau terlalu dekat dengan pria. Mengklaim satu lawan jenis sebagai pacar, kalau pun jodoh, Hania maunya langsung dikhitbah."
Bu Mirna tersenyum bangga pada putrinya, berkat didikannya bersama almarhum suami, Hania tumbuh menjadi wanita sangat takut dengan larangan Allah. Bahkan Hania selalu menjaga marwahnya.
Pembicaraan mereka terhenti, saat tak terasa sudah sampai di depan pelataran rumah mereka Hania tak sengaja melihat ada mobil MPV terhenti di halaman rumah.
"Itu mobil siapa ya, Bu?"
"Ibu juga nggak tahu. Atau mungkin Tuan Haru."
Hania keluar dari dalam mobil terlebih dulu, lalu dia membantu ibunya.
"Hania?"
"Mas Abian?"
Keduanya sama-sama terkejut. Abian terkejut karena alamat yang dikirim Tuan Haru adalah alamat rumah Hania. Sedangkan Hania sendiri terkejut karena untuk kedua kalinya pria bernama Abian muncul di depannya tanpa disangka-sangka.
Hania membayar argo taksi dan menyuruh Abian masuk ke rumahnya. Abian membantu membawakan tas jinjing mereka.
"Silahkan duduk, Nak Abian."
"Iya, Bu."
"Sebentar, Mas, aku buatkan minum dulu."
"Iya."
__ADS_1
Tak lama Hania sudah kembali dengan dua cangkir dan diletakan di depan ibu juga Abian.
"Saya nggak tau kalau ini alamat rumahmu," kata Abian melihat Hania. "Padahal saya kesini mau menyampaikan amanah dari seseorang."
"Amanah dari siapa, Nak?" Bu Mirna menyela dan bertanya.
"Begini, Bu, saya disuruh Tuan Haru untuk menyampaikan titipan beliau." Abian mengambil amplop coklat dari tas Sling Bag yang bertengger di antara bahu dan dadanya.
"Nak Abian kenal dengan Tuan Haru?"
"Saya bekerja dengan Beliau. Dan, kebetulan juga ternyata almarhum pak Efendi bekerja jadi satpam di kantor cabang Beliau. Jadi Beliau benar-benar ingin bertanggung jawab supaya anak dan istri pak Efendi tidak kesusahan meski ditinggal oleh kepala keluarga. Beliau berkata, kemarin ibu hanya meminta sedikit dan itu tidak sebanding dengan apa yang harus ditanggung jawabkan oleh keluarga Tuan Haru."
"Tapi Nak, kami sudah mengikhlaskan. Dan kami anggap semua sudah selesai. Jadi Tuan Haru tidak perlu bertanggung jawab atau merasa tidak hati. Sampaikan pada Beliau agar tidak memikirkan keluarga kami lagi. Oh ya, dan kami justru berterima kasih, kemarin Tuan Haru juga sudah mengirim sembako."
Meski saat ini mereka tidak memiliki uang, tetapi Hania mendukung penolakan ibunya. Dia tidak mau menjual kesedihan untuk memanfaatkan orang lain. Kehidupan mereka, mereka akan berusaha sendiri. Begitu pikir Hania.
"Saya luruskan dulu tentang sembako kemarin, Bu. Yang mengirim sembako bukanlah Tuan Haru, melainkan putranya yang bernama Gaka."
Hania dan ibunya saling melihat, tentu saja bingung dan itu di luar dugaan mereka. Bagaimana pria 'tak berakhlak' itu mengirim barang pada mereka. Apa alasannya?
"Gaka menyuruh saya mengirim sembako ke alamat ini, dia bilang sebagai ucapan terima kasih karena seseorang sudah menyelamatkannya saat hampir tertabrak mobil. Apa kamu yang menyelamatkan Gaka?" tanya Abian diakhir ucapannya.
Hania mengangguk. "Beberapa hari lalu aku nggak sengaja melihat pria yang nyebrang jalan tanpa melihat kanan-kiri, padahal ada mobil dari arah timur dan itu jaraknya lumayan dekat. Tiba-tiba aja tangan ini reflek narik tangan dia." Hania bercerita.
"Iya, Bu. Waktu itu Hania bilang abis nyelamatin orang, orangnya itu ya Gaka."
"Anak dari korban yang ditabrak dan dilain waktu justru anak korban itu jadi penyelamat si penabrak ayahnya. Takdir memang nggak ada yang tau," gumam Abian.
"Kamu nggak kesal dengan Gaka, Han?"
"Awalnya marah, Mas, tapi belajar mengikhlaskan itu lebih baik daripada memelihara kemarahan."
Ah 'kan aku semakin mengagumi sosok bidadari di bumi. Batin Abian.
"Tapi kemarin kalau tau itu orang yang nabrak ayah, aku bakal pikir-pikir untuk nyelametin dia."
"Eh?" Abian terkejut.
"Nduk ...!" Bu Mirna menatap tidak setuju.
Hania justru melebarkan senyuman. "Maaf, aku nggak serius."
"Kamu bisa bercanda juga, Han," sahut Abian.
"Bisalah Mas."
__ADS_1
"Nduk, perlu diingat. Nolong orang itu harus ikhlas dan tidak boleh pilih-pilih, siapapun orangnya wajib kita tolong kalau dia sedang kesusahan."
"Iya, Bu, Insya Allah, Hania paham dengan itu. Hania akan menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan."
Hati Abian terasa adem mendengar tutur kata Hania yang lembut, betapa wanita itu sangat baik. Tak salah bila rasa kagum dan perasaanya semakin membesar. Hania memang gadis berbeda.
"Ekhem ...." Deheman Bu Mirna membuat tatapan Abian pada Hania buyar. Pria itu menunduk dengan bergerak asal karena malu terciduk sedang memandangi Hania.
Bu Mirna tersenyum tipis. Dasar anak muda.
~
Sore hari, Hania harus pergi ke Apotek untuk menebus obat ibunya juga membeli ramuan pereda sakit perut karena dia sedang kedatangan bulanan.
Di emper Apotek, Hania melihat seorang pria yang tidak asing. Dia mengacuhkannya dan lewat begitu saja. Sampai di depan penjaga Apotek, Hania langsung memberitahukan obat yang ingin di beli.
"Heh, lo gak antri. Gue yang dateng lebih dulu."
Hania menoleh. "Maaf, itu bukan salahku karna kamu malah sibuk main hp," jawabnya tanpa keramahan karena Gaka pun berbicara dengan nada dingin.
"Alasan! Gue main hp karna mau liat resep obatnya."
"Bisa aja itu alasan kamu juga."
"Ck! Cewek ini! Pasti bikin mood gue ancur. Huh!" Gaka mendekus. "Eh bukan ancur lagi, tapi berantakan parah."
"Terserah kamu bicara apa. Tapi maaf, tolong ikhlaskan antrian kamu buat saya, ibu saya di rumah sendirian. Saya harus cepet pulang."
Mendengar alasan Hania, Gaka terdiam dan membiarkan Hania memesan lebih dulu. Dia memilih kembali berfokus pada ponselnya.
'Apa karna gue di sini-sini aja jadi sering ketemu cewek nyebelin ini? Bikin mood parah,' batin Gaka.
Hania sudah selesai dengan pesanannya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu ketika kembali melihat Gaka.
"Terima kasih," ucapnya saat akan melewati pemuda itu.
"Eh?" Gaka sampai terkejut. Ucapan itu untuk dia atau orang lain.
"Kamu nggak denger saya bilang terima kasih." Hania mengulang.
"Gue nggak budek. Santai aja, antrian cuma tiga menit ini," kata Gaka.
"Terima kasih untuk sembako yang kamu kirim beberapa hari lalu. Itu sangat bermanfaat. Mudah-mudahan menjadi kebaikanmu dan sedikit bisa mengurangi dosa."
"Hah???"
__ADS_1