Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Mual


__ADS_3

Hania tersenyum mengantar kepulangan Gea dan Ibu Gina kembali ke Surabaya. Yah, kesalahpahaman di antara mereka sudah terurai. Gea sampai bersimpuh di kaki Hania untuk meminta maaf atas perlakuan buruknya selama ini.


Kali ini wanita itu benar-benar tulus meminta maaf dan berkata sudah mengikhlaskan Gaka untuk Hania.


Untuk menutup lembaran ingatannya bersama Gaka, Gea memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Memulai kehidupan baru dengan keadaan baru. Memang Gea berpura-pura amnesia, namun untuk kelumpuhan kedua kakinya itu sungguhan.


Bukan hanya itu, Gea juga mengembalikan beberapa fasilitas dari Gaka. Apartemen, kartu debit, dan juga satu unit mobil sport yang selama ini dipakai Gea untuk pergi kemanapun.


Pengembalian itu dia titipkan kepada Hania, karena Gea tidak ingin bertemu langsung dengan Gaka. Dia tak mau terbayang lagi dengan pria itu.


Hania keluar dari pintu bandara dan langsung masuk ke mobil Pak Arya. Pria paruh baya itu melajukan mobilnya menuju kantor SAG Grup.


"Terima kasih, ya Allah, semua sudah berakhir dengan damai. Terima kasih sudah membuat Gea mengerti," gumam Hania lirih. Hatinya merasa senang sekaligus lega dengan hubungan pertemanannya yang kembali baik dengan Gea. Wanita itu berjanji akan sering memberi kabar dan berteman seperti dulu.


Hania pun memberi banyak kata penyemangat untuk Gea agar tidak rendah diri dengan keadaan yang sekarang. Dia memberi pesan supaya Gea mau berubah, dan mendekatkan diri pada Tuhan.


Tring ....


Hania sedikit terkejut dengan deringan ponsel miliknya. "Iya, Mas?" Terang saja Gaka yang menelpon.


'Masih di bandara?' tanya Gaka dari seberang telepon.


"Udah pulang. Ini mau langsung ke kantor."


'Yah, gue barusan keluar kantor. Mau rapat.' Terdengar helaan napas panjang Gaka.


"Lah emang kenapa? Biasanya juga keluar kantor," ujar Hania.


'Gak bisa makan siang bareng. Rapatnya lumayan lama, ada 2 jam-an.'


"Gak pa-pa, Mas, nanti aku makan bareng temenku."


'Gimana Gea?' tiba-tiba Gaka berceletuk menanyakan Gea.


"Kamu mau tanya tentang Gea apa karna kamu khawatir?"


'Ck. Tanya doang inih. Mastiin aja kalau dia beneran pergi.'


"Udah. Pesawat Gea terbang sepuluh menit yang lalu."


'Oke, ya, dah, nanti ketemu di rumah aja. Love you, sayang.'


"Dih, bucin banget, sih, Mas." Hania terkekeh.

__ADS_1


'Muach.'


"Iiih, ku matiin telponnya."


Klik. Hania sungguh mematikan sambungan telepon. Netranya menatap layar ponsel yang masih belum off.


"Lucu kalau kamu bucin gini, Mas. Inget dulunya kamu gak kalah kejam dan nyebelin kek setan." Wanita itu tersenyum lucu. Mengingat awal mula bertemu dan melihat Gaka, pria yang paling tidak ingin ditemui lagi. Akan tetapi, takdir memang tidak ada yang tahu. Sekarang, mereka justru saling mencintai.


Sampai di kantor.


Hania yang tidak membawa bekal makan siang memutuskan untuk langsung pergi ke kantin dan membeli makanan. Semenjak pernikahannya terbongkar, kini seluruh staf kantor sangat ramah dan segan kepadanya.


"Mbak Bunga dan Mbak Andira kemana, ya?" Netra Hania berkeliling ke bangku-bangku yang ada di kantin, namun dua temannya tidak ada.


Ddrrk! Hania berpegangan pada meja kayu, saat tubuhnya hampir oleng. "Kok tiba-tiba pusing gini, sih?" gumamnya. Dia meraih kursi dan duduk sejenak sambil menunggu pelayan kantin membungkus makanan.


Setelah mendapat makanan, Hania memutuskan untuk masuk ke ruangan Gaka. Di sana dia bisa beristirahat karena ada kamar khusus di dalam ruangan.


Entah kenapa tiba-tiba badannya terasa meriang. Dan juga mual.


"Hoek!" Beberapa kali ingin muntah, tapi tak ada yang keluar. Wanita itu bersandar di samping dinding wastafel.


"Kenapa, ya? Perasaan tadi baik-baik aja." Dia bercermin. Dan ternyata sedikit pucat. Karena badannya semakin tidak enak, Hania meminta izin kepada HRD untuk pulang. Dan langsung disetujui.


Di rumah.


Ceklek .... Rupanya Gaka sudah pulang dan langsung menghampiri Hania. Mencium seluruh wajah istrinya dan ikut terbaring.


"Gak langsung mandi dulu, Mas?"


Pria yang mendusel-dusel dibelakang tubuh Hania itu menggeleng. "Nanti ajalah mandinya. Celap-celup dulu."


"Tapi udah sholat Asar 'kan?" Hania bertanya.


"Udah, sayang. Tenang aja." Gaka melepas kancing kemejanya satu-per-satu. Harum parfum maskulin menguar lebih kuat. Dan itu tiba-tiba malah membuat Hania mual parah.


"Hoek!" Hania membekap mulut dan segera berlari ke kamar mandi. Di dalam terdengar lagi suara muntahan.


Gaka terkejut sekaligus bingung tiba-tiba Hania muntah. "Apa dia sakit?" gumamnya. Lekas menyusul ke kamar mandi.


"Lo sakit?"


Hania sudah menyiram bekas muntahan dan sedang membersihkan sekitar mulutnya. "Jangan deket dulu, Mas, aku mual bau parfum mu."

__ADS_1


"Hah?" Gaka terbengong. Parfum yang digunakan bukan parfum kaleng-kaleng yang dijual bebas di store manapun. Bahkan parfum itu dia pesan khusus dari Cambridge, dengan harga lumayan tinggi. Bagaimana bisa Hania mual dengan harumnya.


Varian yang digunakan memang beda dari sebelumnya, namun masih terbilang oke.


Gaka berdiri sambil mengendus bau parfumnya sendiri. "Wanginya okeh. Seger gini kok lo mual, sih?"


Hania menutup hidung dengan telapak tangannya. "Gak tau, Mas, baunya eneg banget."


"Oke deh, gue mandi dulu aja," ujar Gaka.



Malam hari. Hania kembali muntah saat melihat Gaka menyantap pasta dengan saus sambal merah.


"Ada yang gak beres, nih. Dari tadi aneh, muntah mulu. Masuk angin kali," kata Gaka begitu Hania keluar dari kamar mandi.


"Gak tau, Mas, pulang dari bandara tadi agak gak enak badanku."


"Eh, apa Kunti itu jampi-jampi lo biar sakit?"


Buk! Hania memukul lengan Gaka. "Apa sih, Mas? Gea beneran udah berubah. Jangan suudzon lagi sama dia."


"Ya kale aja dia masih ada niat buruk. Kalau masih gak enak, kita periksa ke rumah sakit aja."


"Udah malem, Mas, besok aja. Aku mau istirahat."


"Yah, gak celap-celup dung?" Gaka memasang wajah sedih.


"Libur dulu ya, Mas."


"Okeh deh. Malem ini peluk aja." Gaka mengekori Hania naik ke atas tempat tidur.


"Em, Mas, bau mu masih gak enak deh, Mas. Tolong agak jauh dikit, Mas. Aku mual lagi."


"Eh, gak enak gimana? Gue udah ganti parfum yang sebelumnya, kok, masih gak enak? Lo kenapa sih?" Gaka sedikit terlihat kesal. Kesal karena dari tadi gagal berdekatan dengan istrinya.


"Gak tau, pokoknya mual lagi."


Gaka memberengut dan sedikit menjauh. "Gue kira gak bakal ada gangguan lagi. Gea pergi, inih lagi ada-ada aja, pakek mual terus," gerutunya.


.


.

__ADS_1


Maaf ya Akak Mei percepat alurnya, biar keluarga mereka cepet bahagia dan lengkap. Udah akhir bulan banget ini🤭


Yang rajin komen, boleh dong follow Akak Mei.


__ADS_2