Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Kucing Besar


__ADS_3

Pagi ini Hania menemani Gaka sarapan bersama. Pria berwajah murung itu terlihat keren dengan setelan jas berwarna abu muda. Wajah putihnya sangat kontras dengan alis tebal dan rahang kokoh yang ditumbuhi bulu jambang tipis.


Namun, wajah tampan itu harus muram karena aksi ngidam Hania kambuh lagi. Entahlah, sepertinya sang istri sangat tidak suka bila aroma tubuhnya wangi.


"Mas."


"Hem?"


"Aku ... em, aku." Hania ragu mengatakan keinginannya. Karena keinginannya kali ini juga sangat tidak disukai Gaka.


"Mau apa? Bilang aja," ucap Gaka.


"Kayaknya kamu gak ikhlas gitu nawarinnya, Mas." Hania cemberut.


Dan, yah, satu lagi yang aneh dari Hania. Istrinya itu semenjak dinyatakan hamil lebih sensitif juga lebih mudah marah. Moodnya bisa berubah-ubah hanya dalam hitungan menit. Satu menit menangis, menit berikutnya terbahak. Satu menit bahagia, menit berikutnya melow. Sangat susah ditebak.


"Ikhlas Lillahitaala, sayang. Lo mau apa, bilang aja. Mama udah wanti-wanti gue, semua yang lo minta harus dituruti. Ngidam si bayi harus terlaksana biar pas udah lahir gak ileran."


"Aku mau melihara kucing besar, Mas."


"Hah? Hewan menggelikan itu? Enggak-enggak. Hih, bayangin bulunya aja udah geli gue." Gaka bergidik geli, hanya mengatakan tentang kucing tapi seolah kucing itu sudah ada di depannya. Bulu kuduknya meremang.


Kucing atau hewan yang memiliki bulu lebat sangat tidak disukai Gaka. Saat bulu lebat itu menyentuh kulit membuatnya merinding.


"Mas, aku pengen banget. Yang belang gedek dan bulunya lebat."


"Burung gue bulunya lebat. Lo mainan itu aja."


"Mas!" sentak Hania kaget. Pagi-pagi otaknya traveling karena ucapan Gaka. Dan menyebalkan lagi pria itu malah menyengir. "Aku pengen yang hidup."


"Eh, jangan salah. Burung gue juga bisa hidup."


"Mas! Sekali lagi kamu jawab ngawur, aku aduin ke Mama."


"Mau ngadu apa?" Gaka menantang, dia tidak yakin Hania berani mengadu percakapan itu pada mamanya.


"Aku bilang kalau kamu gak mau mengabulkan permintaan calon anakmu."

__ADS_1


'Kenapa ngidamnya susah-susah dan makin ngeselin, sih,' gumam Gaka menahan dongkol. Tidak dituruti takut ramalan mitos menjadi kenyataan, begitu lahir anaknya ileran. Bila dituruti tapi hewan itu membuatnya sangat geli.


Berpikir sejenak, menimang-nimang dan akhirnya mengangguk. "Nanti biar Raga yang beli."


"Mau kucing yang besar, gemoy, dan belang. Warnanya kuning belang hitam, ya. Ada putihnya juga gak pa-pa."


"Iya."


Setelah menyelesaikan sarapan, Gaka pamit berangkat ke kantor.


"Assalamualaikum, sayang."


"Walaikum salam, Mas, hati-hati."


Gaka menyuruh Hania menahan napas karena dia akan mencium keningnya. Cup. Dia harus puas hanya mengecup kening Hania, setelah itu dia benar-benar pergi.



"Ga, dateng ke ruangan gue!"


Satu minggu lalu Gaka mengangkat Raga sebagai sekretaris pribadinya. Sedangkan Lili dipindah ke bagian sekretariat tiga. Meski begitu, Gaka menjanjikan Lili mendapat gaji setara dengan Raga agar wanita itu tidak protes.


"Istri gue ngidam pengen kucing gede'. Lo cariin, soalnya gue geli banget sama hewan berbulu."


"Kucing gede'? Sejenis Anggora atau persia, Bos?"


"Ah, gak tau jenisnya. Pokoknya minta kucing yang gede', gemoy, bulunya kuning kecoklatan dan garis hitam. Tapi kalau ada campuran putihnya juga gak pa-pa, sih. Yang gede' dan keliatan garang."


Raga mengambil tablet dan mencari ciri-ciri kucing yang disebutkan Gaka tadi. Setelah menemukan berbagai gambar kucing besar Raga memperlihatkan di depan Gaka.


"Tinggal pilih yang mana, Bos, nanti aku pesenin."


Suasana panas, kesal, dan banyak pikiran membuat Gaka tidak fokus. Dia memilih asal gambar yang ada di layar tablet tanpa membaca dengan teliti setiap keterangan.


"Tuh udah gue klik pesen," ujar Gaka. Raga menerima tablet pintar itu dan mengeluarkan ke opsi utama. Dia pikir sudah beres dengan permintaan bosnya karena Gaka memilih sendiri. Dia tidak mengecek lagi dan langsung menyimpan tabletnya kembali.


__ADS_1


Keesokan harinya. Pada sore hari, rumah Gaka kedatangan mobil box besar khusus. Kucing belang dengan ukuran besar masih tertutup kain hitam.


Kepala pelayan naik ke lantai atas untuk memberitahu bila ada barang yang datang.


"Langsung suruh di bawa ke belakang." Perintah Gaka.


Gaka dan Hania pun ikut turun ke bawah.


"Kucingnya gede' dan gemoy gak, Mas?" tanya Hania antusias.


"Gede banget dan gemoy banget. Gue sendiri yang pilih, lo pasti suka. Ciri-cirinya juga seperti yang lo sebutin kemarin."


"Aku udah gak sabar pengen langsung elus dan gendong."


"Eh, jangan digendong. Kasian calon anak kita kegencet. Cukup liat dan elus aja. Dan ingat, hewan itu harus tetap di belakang rumah, tidak boleh masuk. Kalau mau mainan dan ngasih makan, dikandangnya aja." Gaka mewanti dengan sungguh-sungguh. Dia tak mau kucing itu lepas dan masuk di dalam rumahnya. Demi apapun, dia sangat geli dan benci dengan hewan itu.


"Iya-iya, Mas." Hania memutar bola mata jengah. Mereka berdua berdiri di ambang pintu belakang. Mobil box khusus yang membawa hewan itu baru saja berhenti.


"Mas, kok keranjangnya besar banget?" tanya Hania.


"Ya'kan lo minta kucing gede' dan gemoy, ya gue pesenin yang gede."


"Tapi itu terlalu gede buat ukuran keranjang kucing, Mas."


"Tuan, ini surat-surat izin kepemilikan hewan yang dilindungi. Anda bisa memelihara sesuai ketentuan dibuku panduan. Jika ada kendala atau masalah, Anda bisa menghubungi costumer kami." Salah satu pria mendekati Gaka dan memberikan lembar surat resmi.


Gaka yang tidak begitu paham hanya mengangguk saja. Sedangkan Hania mengernyit. Dia berpikir, apa Gaka membeli kucing ala-ala sultan, kenapa ada prosedur ketat seperti itu. Dan, ada kata-kata hewan dilindungi. Hania semakin mengerut dalam.


"Pak, boleh kain penutupnya dibuka sekarang." Karena saking penasarannya, Hania meminta kain penutup segera dibuka meski kandang berukuran raksasa itu belum diturunkan dari mobil.


"Baik, Nona."


"Lek, buka kain penutupnya."


Sreak .... Kain hitam sebagai penutup itu sudah dibuka. Bola mata Hania terbelalak hampir loncat dari kelopak mata. Sama halnya juga dengan Gaka.


"Astagfirulah, itu sih anakan macan, bukan kucing, Mas!" ucap Hania tak percaya sekaligus tak berdaya.

__ADS_1


"Eh?" Gaka terkejut dan bengong.


"Ya Allah," ucap Hania.


__ADS_2