Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Malu


__ADS_3

Bu Mirna tersenyum tulus dan menghargai Gaka yang meminta maaf dengan sungguh-sungguh.


"Iya, Nak. Insya Allah, kami sudah memaafkanmu."


"Terima kasih, Bu."


"Bu, kami tetap akan memberi kompensasi untuk ibu. Kami akan senang bila ibu mau menerimanya," ucap Tuan Haru menyela.


"Sebenarnya saya tidak enak hati menerima kebaikan Tuan, em ... maaf, Pak Haru maksutnya. Kompensasi yang kemarin saja sudah begitu banyak." Bu Mirna merasa tidak enak hati.


"Tidak Ibu, tolong terimalah," ujar Vara ikut menimpali dan sedikit memaksa.


Dan beberapa saat, akhirnya Bu Mirna mengangguk. "Terima kasih, Pak Haru, Ibu Vara, Nak Gaka." Hanya bisa berterima kasih.


Mereka melanjutkan dengan mengobrol ringan. Vara bertanya-tanya tentang keseharian Bu Mirna dan Hania.


"Bu, saya boleh numpang ke kamar mandi?" Gaka menyela obrolan mereka.


"Boleh."


"Nduk, kamu tunjukin arahnya," titah Bu Mirna.


Hania masuk ke dalam dan diikuti oleh Gaka.


"Ibu pasti bangga memiliki putri yang berakhlak baik. Bagaimana cara ibu mendidik, bahkan bisa tumbuh menjadi gadis sholehah? Gadis yang tidak mengikuti perkembangan jaman?" Tampak sekali Vara berbicara dengan kekaguman dimatanya.


"Benar, Bu, saya bangga sekali memiliki putri seperti Hania. Dari kecil kami memberinya pemahaman tentang agama, berperilaku baik dan selalu memberikan kasih sayang penuh." Bu Mirna bercerita.


Wajah Vara berubah sedih mendengar kalimat 'selalu memberinya kasih sayang'. Sadar hal itu jarang sekali dia berikan pada Gaka karena dia dan Tuan Haru selalu sibuk mengejar urusan dunia. Gaka tumbuh dengan asuhan baby sitter juga para pengawal saja. Mungkin itu yang menjadikan Gaka seperti sekarang ; keras kepala, tidak mau dinasehati, selalu membuat ulah, dan juga seperti berandalan. Menjadi egois dan selalu bersikap semaunya sendiri.


"Di ujung ruangan kecil itu kamar mandinya," ujar Hania menunjukan kamar mandi dirumahnya pada Gaka.


"Kecil banget," gumam Gaka nampak aneh memandang ke bilik kecil itu.


"Walau kecil, badanmu masih bisa masuk," sahut Hania yang ternyata mendengar gumaman nya.


Gaka melirik sinis.


"Meooonggg."


"******! Bangsat!" Gaka berjingkat kaget ketika hewan kecil dan imut itu mendusel dikakinya.


"Astagfirullaha'azdim ...." Hania menggeleng pelan. Apa yang keluar dari mulut pria itu selalu saja omongan kotor. Segala umpatan dan kata-kata yang tidak baik.


"Hei! Jauh-jauhin hewan itu!" Gaka menepi di dekat meja dapur. Wajahnya ketakutan melihat kucing imut berbulu putih yang akan kembali berjalan mendekatinya.


"Kenapa?"


"Geli gue."


"Meoong ...."

__ADS_1


"Hist! Diem di situ, anjing," umpat Gaka kesal.


"Dia kucing bukan anjing."


"Bodo' amat. Pokoknya jauh-jauh dari gue!" Pria itu sambil perlahan masuk ke kamar mandi. Matanya tetap awas melihat kucing itu.


"Meong ...."


"Hei! Lo jagain kucing itu jangan sampai kesini! Lo tungguin gue!" Kepala Gaka menyembul di balik pintu.


Hania tersenyum tipis. Bagaimana pria kasar itu takut dengan hewan berbulu dan sangat imut. Wajahnya terlihat garang, tapi faktanya takut dengan kucing.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Gaka celingak-celinguk mencari hewan yang baginya menggelikan itu. Sepertinya sudah tidak ada, berarti aman.


"Dia udah keluar," ucap Hania.


"Lo masih nungguin gue?"


"Kamu yang pesen."


Gaka tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Dia berjalan dan hampir mendekati Hania.


"Ya ampun, kamu seperti anak kecil," pekik Hania menutup mata dengan telapak tangannya.


Melihat gelagat Hania, Gaka langsung tertuju ke bawah. Raut mukanya berubah memerah, menahan malu. 'Setan! Malu-maluin aja lo, Gaka! Bisa gini! Bodoh banget.'


Setelah membenarkan resleting celana, untuk membuang malu, Gaka melewati Hania begitu saja. Namun gadis itu terdengar menahan tawa.


"Huh! Kalau mau berhenti tuh bilang," kesal Hania. Dia mundur ke belakang.


"Mata lo nggak buat ngeliat, sih," ujar Gaka.


"Celana kamu belum bener aja aku tau, berarti mataku udah aku gunakan untuk melihat."


"Hei, gak usah diperjelas gitu." Gaka bersungut untuk menyembunyikan rasa malu. "Dan satu lagi, jangan bilang-bilang ke Gea!" pesannya.


"Ngapain juga aku bilang-bilang ke Gea!" Hania acuh.


Gaka kembali berjalan, belum ada 2 langkah dia kembali membalikkan badan. "Tentang kucing juga."


"Astagfirullah, iya-iya." Hania kesal karena hampir menabrak tubuh pria itu lagi.


Saat kembali ke ruang tamu, semua masih berbincang-bincang.


"Ma, Pa, ayo, pulang," ajak Gaka.


"Kenapa buru-buru Nak Gaka, sebentar lagi maghrib, bisa sholat di Mushola depan gang tadi," ujar Bu Mirna.


"Hah?" Gaka kebingungan. Sholat? Entah sudah berapa tahun pria itu tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Iya, Nak, kita sholat dulu aja," kata Vara. Sedangkan Tuan Haru diam saja.

__ADS_1


"Sholat? Malaikat gak akan percaya kalau gue sholat. Yang ada gue diketawain Malaikat Raqib," gumam Gaka.


"Langsung pulang ajalah, Ma, sholat di rumah," ucap Gaka mengajak pulang.


"Yakin sholat di rumah?" ulang Vara. Gaka tidak menjawab dan membuang muka.


"Baiklah, Ibu, sepertinya kami harus pamit sekarang saja. Biar nanti kami sholat di Hotel."


Bu Mirna mengangguk menyetujui.


"Kami pamit ya, Bu, terima kasih untuk jamuannya."


"Sama-sama Bu Vara, saya yang harusnya banyak terima kasih."


"Saya sudah kirim ke rekening almarhum suami ibu. Saya sarankan putri ibu juga membuat rekening sendiri biar lebih gampang untuk mengurusnya," ucap Tuan Haru. "Kalau tidak, besok biar Abian yang mengatar putri ibu."


"Iya, Pak, sekali lagi terima kasih," ucap Bu Mirna.


Saat pulang, Gaka memepeti Hania. "Inget! Jangan bilang sama Gea."


"Nggak janji."


"Awas aja kalau Gea tau."


"Ya bodo'!"


"Nyebelin lo." Gaka mendengus.


"Kamu yang lebih nyebelin."


"Gaka, ayo! Kamu mah liat cewek cantik nggak mau pulang," ujar Vara tersenyum.


"Apaan sih, Ma." Gaka berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam mobil setelah dibukakan pintu oleh supir Tuan Haru.


"Gaka, cari pacar tuh seperti Hania. Cantik, alim, baik dan lembut."


Gaka memperagakan orang muntah, muak mendengar pujian mamanya untuk gadis menyebalkan itu.


"Mama nggak akan mikir lama buat restuin kamu sama gadis seperti itu, Nak. Mama seneng banget kalau kamu bisa berjodoh dengan gais baik."


"Ma, jangan berharap banyak. Liat kelakuan putra kita. Allah bakal mempertimbangkan jodoh yang sesuai," sahut Tuan Haru.


Gaka menolehi kedua orang tuanya dengan raut kesal.


"Mama hanya berharap yang baik, Pa. Gak salah 'kan?"


"Mama Papa nggak jangan mikir jauh. Gaka belum mikir buat nikah. Gini aja malah enak."


"Mama pengen kamu cepet nikah biar nggak kelamaan buat dosa, Nak."


Gaka terdiam. Seburuknya dia, tetap tak tega melihat orang tuanya bersedih.

__ADS_1


__ADS_2