Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Kedatangan Abian


__ADS_3

Sreak ....


Jilbab lebar yang selalu menutupi kepala Hania terlepas karena tarikan kuat dari Gea.


"Ge ...," lirih Hania terduduk lemas di lantai. Rambut panjang terikat rapi menjuntai sampai sebatas pinggang yang selalu tertutup rapat kini terbuka di depan umum ; dilihat banyak orang. Hania merasa sangat sedih juga kecewa dengan tindakan Gea. Dia merasa seperti ditelanjangi di depan umum.


Hania menangis tersedu-sedu. Sedangkan Gea diam dengan menatapi jilbab yang ada di tangannya. Lalu bergantian memandang ke arah sahabat yang sudah dipermalukan. Entah apa yang sedang dipikirkan.


Cetak cetak ....


Suara langkah seseorang mendekat. Tiba-tiba menutup kepala Hania dengan kain jaket. Hania yang tidak memiliki daya lagi mendongak secara perlahan.


"Mas Abian ...," ucapnya tergagap. Kabut kesedihan masih melekat pada raut wajahnya.


Pria bernama Abian itu menatap Hania sekilas dengan pandangan iba, lalu berikutnya beralih menatap Gea. "Lo seorang wanita, tapi tega mempermalukan wanita lain dengan cara seperti ini, apalagi Hania adalah orang terdekat lo sendiri. Apa lo udah gak punya hati, Ge!?" sentaknya.


"Kenapa gue gak tega!? Dia aja tega nusuk gue dari belakang. Dia pernah bilang gue gak ada harga diri, tapi apa lo tau kalau dia sendiri yang gak punya harga diri karna dia sekarang berselingkuh dengan Gaka. Jangan tanya gue punya hati atau gak. Hati baik gue udah mati gara-gara pengkhianatan dia!" Gea berbicara dengan air mata bercucuran, tapi tangannya sigap menghapus.

__ADS_1


"Dulu dia orang terdekat, tapi sekarang enggak lagi! Dia udah jadi pengkhianat. Dia munafik!" jerit Gea tak kontrol dengan membanting jilbab Hania ke lantai.


"Mas, cukup! Jangan berdebat lagi dengan Gea. Percuma, dia sekarang sedang dilingkupi amarah," ujar Hania dengan suara serak dan lirih.


Abian mengusungkan telapak tangan di depan Hania. "Ayo kita pergi dari sini."


Hania tidak menerima usungan tangan Abian, dia berusaha untuk berdiri sendiri. Dan tanpa sepatah katapun berbalik pergi meninggalkan Cafe. Tak hanya sampai di situ kesedihannya, saat berjalan keluar pun beberapa orang masih memaki dan meneriakinya. Dia hanya bisa menahan isak tangis dan secepatnya ingin keluar dari cafe itu.


Sebelum pergi menyusul Hania, Abian kembali menatap Gea dengan murka. "Lo bilang Hania berselingkuh dengan Gaka?!" Dia tersenyum miring. Seolah senyuman itu mengandung ejekan. "Lo yang pantas menyandang kalimat itu kalau sampek sekarang lo sama Gaka belum putus."


"Maksud lo?" tanya Gea. Dia sama sekali tidak mengerti maksud ucapan pria yang berjalan memakai tongkat itu.


Duar ....


Seperti terkena aliran listrik dengan tegangan tinggi. Gea seketika mematung dengan wajah syok. "I-itu gak mungkin! Lo ... lo bohong!" ucapnya terbata.


"Kalau gue bohong, lo bisa tanyakan itu pada Gaka!" Abian beralih menatap sekeliling. "Sekarang kalian tahu 'kan? Wanita tadi bukan selingkuhan pacarnya ini, tapi istri sahnya."

__ADS_1


Penjelasan Abian membuat pengunjung terdiam. Setelah itu Abian berusaha mengejar Hania yang ternyata sudah meninggalkan ruangan Cafe.


Meski kesulitan mengejar langkah Hania, tapi dia berteriak agar Hania mau berhenti. "Han! Tunggu!"


Dan benar saja, wanita tampak mengenaskan itu berhenti dan menolehi Abian.


"Huft ... huft ...." Abian terengah-engah.


"Terima kasih udah datang dan memberikan jaket ini," ucap Hania. Pandangannya menunduk.


"Aku bener-bener gak mengerti, Han. Kenapa jadi seperti ini?"


"Jangan menuntut penjelasan sekarang, Mas, jangan sekarang. Aku ingin pergi dari sini." Pelupuk mata Hania kembali menggenang cairan bening. Penampilannya mengenaskan, mengundang perhatian banyak orang. Karena sekarang sedang berdiri di pinggir jalan raya.


"Kalau kamu ingin pergi sekarang, kamu bisa naik mobilku."


Selama berada di Jakarta, Abian menginap di rumah keluarga Gaka. Tentu dengan segala fasilitas yang didapat, termasuk mobil dan supir pribadi.

__ADS_1


Satu lagi, bagaimana Abian bisa muncul di Cafe itu. Tadinya dia sedang pergi jalan-jalan membuang pikiran jenuh, pada saat dia melewati bangunan Cafe, dia tergerak untuk singgah. Beberapa kali dia pernah kesana karena diajak oleh Gaka.


__ADS_2