Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Kaum Misquen.


__ADS_3

Hari-hari dilalui begitu saja. Sudah satu minggu Gaka dan Hania tinggal di rumah baru mereka. Hania terlihat semakin bersemangat. Rutinitas paginya lumayan membuat sibuk, meski begitu wanita itu malah terlihat senang.


Setiap pagi menyiapkan sarapan, membuatkan kopi dan membangunkan Gaka yang sangat susah di bangunkan. Lalu, menyiapkan baju dinas ke kantor. Dan bila masih ada waktu, dia akan berkebun sebentar menanam berbagai macam bunga dan sayuran.


"Mas, bangun! Kamu bisa telat ke kantor." Hania memukuli tubuh Gaka dengan guling. Pria yang menyembunyikan kepala di bawah bantal itu sama sekali tidak bergerak.


"Mas! Astagfirullah, ni orang apa kebo sih! Tiap hari susah banget dibangunin!" kesal Hania. "Lama-lama bosen juga bangunin kamu tiap hari," gumamnya.


"Gue baru merem subuh tadi. Biarin gue tidur satu jam lagi," ucap Gaka yang hanya terdengar seperti gumaman saja.


Bukan Hania tidak tahu kalau semalam Gaka pergi dan baru pulang pukul tiga dini hari. Tapi dia tidak bisa membiarkan Gaka telat pergi ke kantor.


"Satu jam lagi kamu bakal telat ke kantor."


"Telat gak apa. Pagi ini jadwal rapat kosong. Gue bisa masuk agak siang."


"Ada pemimpin perusahaan seperti kamu, ya, Mas." Hania menggelengkan kepala. "Ya udahlah, terserahmu." Dia sedikit menggeser posisinya.


"Iya, halo, Mas Al? Sebentar lagi saya sampai di kantor. Oke, nanti kita ketemu di sana."


"Hiya!!! Berani-beraninya lo telpon pria lain!!!" Gaka berteriak marah. Dia membuang bantal yang ada di atas kepala dan langsung duduk di tepi ranjang.


"Ha ha ...." Hania tertawa ngakak melihat reaksi Gaka.


Gaka mengusap wajah, baru sadar jika Hania cuma mengerjainya.


"Sialan! Lo ngerjain gue?" desisnya.


"Kalau gak dikerjain dulu, kamu gak bangun-bangun. Lagian, kamu lupa aku belum beli ponsel, gimana mau hubungi Mas Al." Hania terkekeh.


"Hei, jangan sebut pria melarat itu di depan gue! Bikin kuping gue sakit."


"Kuping yang sakit atau hati yang sakit?" Hania semakin gencar meledek Gaka. Dia tertawa melihat pria itu mengomel dan bersungut kesal.


Gaka bangkit dan langsung menuju kamar mandi, masih mengomel dan mengucap segala umpatan.


Hania pun bergegas ke ruang ganti untuk bersiap karena dirinya juga harus pergi ke kantor.


"Lo nanti harus lembur," kata Gaka.


"Kenapa lembur? Hari ini aku gak ada jatah lembur, Mas."


"Gue lembur, lo juga harus lembur."


Saat ini mereka berada di satu mobil. Jika Gaka tidak ada rapat pagi, mereka akan pergi ke kantor bersama. Tapi jika Gaka ada jadwal rapat pagi, Hania akan di antar supir pribadi.


"Pokoknya lo harus tunggu gue. Titik!"


"Huh! Dasar pemaksa!" Dia membuang pandangan ke samping.

__ADS_1


"Nunggunya jangan di dekat pos satpam! Tunggu di basement."


"Iya-iya."


Di kantor.


"Han, tunggu!"


Hania berhenti mendengar suara Gea memanggilnya. Wanita memakai pashmina crinkle coklat muda itu menoleh, melebarkan senyuman untuk Gea.


"Kamu juga baru datang, Ge?" tanyanya berbasa-basi.


"Iya, gue baru nyampek." Gea berusaha membalas senyum meski muak. "Ohya, kemarin lo kemana?"


"Kemarin aku jalan-jalan ke taman kota."


"Sama siapa?" Gea bertanya cepat membuat Hania menoleh.


"Sendirian."


"Oh." Gea mengangguk. Tanpa Hania ketahui, wanita itu tersenyum sinis. 'Apa lo sama Gaka udah sekongkol bohongi gue!'


Malam hari.


Sesuai kesepakatan tadi, Hania menunggu Gaka di Basement. Sudah sepuluh menit dia menunggu, tapi Gaka belum muncul.


"Siapa yang kesetanan?" Tiba-tiba suara Gaka menyahut. Hania berbalik dan seketika keningnya berkerut penuh.


Gaka sudah berubah penampilan. Pakaian kantornya sudah terlepas dan di ganti dengan pakaian biasa. Celana levis hitam, sneaker putih dan hoodie putih. Tak lupa aksesoris topi dan penutup hidung.


"Aku ragu ini kamu, Mas," ujar Hania.


"Ragu gimana? Liat, di depan lo ini emang gue." Gaka membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.


"Kenapa penampilan kamu berubah?"


"Udah, ayo, kita cabut." Gaka menarik pergelangan tangan Hania.


"Mas ...!" pekik Hania.


"Ups ... sorry, lupa." Gaka menyengir dan melepas pegangan tangannya. Mereka masuk ke dalam mobil dan mobil itu melesat pergi ke jalan raya.


"Kita mau pulang 'kan?" tanya Hania.


"Enggak. Gue mau ajak jalan-jalan dulu."


"Kemana? Jangan aneh-aneh, Mas. Aku masih takut pergi pas langit udah gelap. Aku takut kesasar lagi."


"Ssttt, lo pergi sama gue. Apapun yang terjadi, gue gak mungkin ninggalin lo. Tenang aja."

__ADS_1


"Tapi ...." Hania tetap ketar-ketir meski Gaka berkata meyakinkannya. Dia masih trauma saat Gea meninggalkannya di keramaian. Dia takut karena suatu hal Gaka juga bisa meninggalkannya.


Tak lama mobil Gaka terhenti di sebuah toko besar menjual berbagai tipe dan merk ponsel. Dia mengajak Hania masuk.


"Selamat datang di Graha Cellular." Seorang pegawai menyambut ke datangan Gaka dan Hania.


Gaka sengaja mengajak Hania membeli ponsel di luar Mall, dia tidak mau Gea atau siapapun bisa mengenalinya.


"Lo pilih ponsel yang lo suka," perintah Gaka.


"Kamu gak usah beliin aku ponsel. Satu minggu lagi aku menerima gaji, aku bisa beli ponsel sendiri." Hania menolak.


"Cewek aneh. Tinggal pilih mau ponsel yang mana gak mau." Gaka menghela napas.


"Kamu samain aku sama wanita-wanita mu lagi, Mas," desis Hania.


Gaka menggaruk kepala, tapi dia lupa kepalanya tertutup topi. Alhasil pria itu hanya menggaruk-garuk topi saja. "Huh!" Dia mendengus.


"Enggak. Sama sekali gak gue samain sama siapapun. Apa salahnya, gue suami lo, mau beliin lo ponsel? Biar kita bisa komunikasi juga. Maksud gue baik, Maesaroh. Sekarang lo yang dikit-dikit suudzon."


Hania tersenyum. "Maaf," ucapnya.


"Ya dah, pilih gih."


Hania mengangguk. "Nanti kalau aku udah terima gaji, aku ganti uangnya."


"Kalau gitu, bukan gue dong yang beliin?"


"Kamu gak wajib beliin apapun buat aku. Aku anggap ini pinjaman dari kamu."


"Huft ...." Gaka menghela napas kasar. "Batu banget, sih," gumamnya.


Hania bertanya-tanya kepada pegawai toko, dan terus memilih beberapa ponsel.


"Yang ini aja, Mbak."


"Mbaknya gak mau pilih yang keluaran terbaru? Canggih dan desainnya sangat cantik." Pegawai toko memperlihatkan ponsel terbaru di depan Hania.


"Memang berapa harganya?"


"Empat puluh dua juta."


"Haaaah?!" Hania memekik kaget.


Gaka yang tadi sibuk dengan ponselnya beralih memperhatikan Hania.


"Jangan yang itu, Mbak. Saya mau yang harga dua jutaan saja."


"Huh, kirain orang kaya, ternyata kaum misquen!" ujar pegawai toko berubah masam. Dia sudah menawarkan ponsel terbaru dengan harga tinggi, tidak tahunya hanya mencari ponsel harga dua juta saja.

__ADS_1


__ADS_2