
"Cup! Cup! Cup!" Gaka tak henti menyerbu wajah Hania dengan ciuman. "Gue seneng. Cup!" ucapnya. "Gue bahagia banget. Cup!" Dia tersenyum dengan binar bahagia. "Gue ...." Gerakan dan ucapannya dihentikan oleh Hania.
"Stop! Berhenti, Mas! Geli! Aku mual!" Hania mendorong dada Gaka supaya menjauh. Dengan sebelah tangannya membekap mulut dan hidung.
"Ck! Lo masih mual?" Binar kebahagiaan yang tadi dibanggakan mulai menyurut. Bahkan bibir Gaka berubah cemberut. Saking bahagianya mengetahui Hania hamil, dia langsung menyerbu dan mendekati sang istri. Namun, penolakan Hania, membuatnya sedih sekaligus sedikit kesal.
"Iya, Mas, aku masih mual terus sama bau badanmu," jawab Hania. Yang semakin menambah kesedihan Gaka. Pria itu terpaksa menjauh.
"Selamat ya, sayang. Alhamdulillah, Mama seneng banget denger kabar kehamilan mu," ucap Vara yang baru masuk dan segera mendekat ke brankar menantunya itu. Tuan Haru ikut mengekor dibelakang sang istri.
"Selamat, akhirnya SAG Grup punya calon pewaris. Mudah-mudahan sehat sampai lahir nanti," ucap Tuan Haru.
"Aamiin. Makasih, Ma, Pa." Hania tersenyum haru. Melihat kebahagiaan kedua mertuanya, dia teringat dengan almarhum kedua orang tuanya. Andai mereka masih ada, mungkin mereka juga akan bahagia.
Dia menyusut sudut mata yang berair. Hal itu menyita perhatian Vara. Karena penasaran, wanita paruh baya itu melayangkan pertanyaan. "Kamu kenapa, sayang?" Membelai lembut bahu sang menantu.
"Hania gak apa, Ma, cuma lagi inget Almarhum Ayah dan Ibu."
Mendengar itu Vara beralih memeluk Hania. "Walau mereka tidak di sini, tapi mereka juga akan bahagia atas kehamilan mu."
Dalam dekapan Vara, Hania mengangguk. Tetesan air mata tadi berubah menjadi isak tangis. Menggambarkan betapa rindunya wanita itu dengan kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Di tempatnya berdiri, Gaka seperti tertampar dengan kerinduan istrinya kepada almarhum kedua orang tuanya. Hal itu mengingatkan akan kesalahannya karena membuat ayah Hania meninggal.
Tuan Haru memperhatikan Gaka yang hanya diam. "Ngapain disitu diem aja?" tanyanya pada Gaka.
"Gimana gak diem, dia masih gak mau dideketin," balas Gaka terlihat lesu.
Tuan Haru terkekeh. Lalu mendekati Gaka. "Selamat menahan rindu," ejeknya.
Gaka mendengus. "Dosa gak sih nonjok bokap sendiri?" ujarnya sinis.
"Punya istri shalihah udah takut dosa kamu?" Tuan Haru masih terkekeh. Sangat senang menjahili dan membuat Gaka cemberut kesal. Hal yang akhir-akhir ini jarang terjadi lagi karena kesibukan masing-masing.
Apalagi mereka sudah tinggal terpisah, waktu bertemu sangat terbatas. Dia pun akhir ini jarang masuk kantor, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk traveling bersama Vara.
__ADS_1
"Ya gimana Gaka gak inget kata dosa, dimana ada Hania, dia gak pernah telat ingetin Gaka tentang dosa."
"Luar biasa Hania. Papa sama Mama yang membimbing mu selama 28 tahun gak bisa buat kamu takut sama dosa. Tapi Hania, baru hitungan bulan bersama kamu, dia berhasil membuat kamu berubah. Dia sangat hebat. Beruntung kamu dapetin dia, Ka. Pesan Papa, jangan sekalipun kamu sakiti dia lagi." Tuan Haru menyorot tegas. Menggambarkan bahwa pria tersebut sangat serius.
Gaka mengangguki kalimat papanya. "Dia memang hebat dan luar biasa. Papa benar, Gaka sangat beruntung berjodoh sama Hania. Walau awalannya sangat buruk. Papa tenang aja, Gaka udah berjanji langsung sama Allah, gak akan pernah sakiti dia lagi."
Tuan Haru menepuk bahu Gaka. Rasa harunya membuat pria berkaca mata itu berkaca-kaca. Seumur Gaka sampai sekarang, baru kali ini melihat putranya bersungguh-sungguh. Bahkan tidak menyangka kalau Gaka bisa berubah menjadi baik. Mengingat bagaimana pergaulan Gaka yang sangat buruk. Dan dia yang sebagai orang tua tidak bisa membuat Gaka berubah. Sedangkan bersama Hania, Gaka bisa sebaik ini.
Ya Tuhan, dia sangat, bahkan amat sangat bersyukur atas perubahan itu.
"Papa, Gaka! Kalian berdua malah peluk-pelukan begitu!" kata Vara menatap heran.
Menghayati obrolan, keduanya sampai tidak sadar saling berpelukan dan berwajah melow. Gaka melepas pelukan dengan papanya. "Akh, gara-gara Papa, nih," dia melirik papanya.
"Papa terbawa perasaan," ujar Tuan Haru lirih.
"Emang ngomongin apa, sih? Apa karna saking bahagianya sama kehamilan Hania sampek kalian terharu begitu," kata Vara.
"Salah satunya itu, Ma," jawab Tuan Haru.
"Ada bahagia ada sedihnya juga, sih, Ma," sela Gaka.
"Kamu tau kenapa Hania gak mau dideketin kamu? Itu salah satu bentuk aksi ngidam. Kenapa Mama tau, karna dulu waktu Mama hamil kamu, aksi ngidam Mama juga begitu. Papamu juga uring-uringan karna Mama gak mau dideketin selama tiga bulan."
"***! Tiga bulan, Ma?" pekik Gaka terkejut.
"Mulutnya, Mas!" Hania memperingati.
"Ups, keceplosan." Gaka menepuk mulutnya. "Astagfiruka, tiga bulan, Ma?" Dia mengulang keterkejutannya.
"Yang bener Astagfirullahal adzim, Mas," sahut Hania lagi.
"Iya-iya, sayang. Astagfirullahal aladzim." Meski dalam hati menahan kesal, tapi Gaka mengucap dengan selembut mungkin.
Tuan Haru menahan senyum melihat interaksi Gaka dan Hania. Kini dia tahu, kesabaran dan ketelatenan Hania yang membimbing Gaka bisa berubah. Mungkin berkat hidayah dan anugerah kebucinan membuat Gaka menjadi pria penurut. Sungguh luar biasa.
__ADS_1
"Tiga bulan satu minggu Mamamu gak mau dideketin Papa," sahut Tuan Haru.
"Tiga bulan masih ada embel-embel satu minggu juga, Pa? Gila ... itu ngidam apa ngajak perang batin, sih! Parah!" gerutu Gaka. Dia beralih melihat Hania dengan se-sendu mungkin. "Lo gak gitu 'kan, sayang? Aksi ngidamnya jangan tiga bulan, ya, tiga hari aja."
Tuan Haru tertawa terbahak-bahak, dan langsung dibekap oleh Vara. "Papa, shyuuut! Diem."
"Anakmu lucu, Ma. Ngidam kok di tawar." Tuan Haru sekuat tenaga menahan tawanya.
Gaka melirik sinis. "Papa diem. Gaka lagi usaha."
"Ya ya ya ... usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dan berusahalah sampek gigimu kering,. Negosiasi sama calon anakmu juga."
"Ih, Papa, kalau gak dibawa pergi bakal panjang urusannya," omel Vara. "Ayo kita keluar dulu." Dia menarik tangan Tuan Haru untuk diajak pergi.
"Iya, Ma, Papa lebih aman bawa keluar dulu." Gaka mengacungkan jempol dengan sudut bibir tertarik ke atas.
Hania menghela napas sambil menggeleng pelan. "Kamu nih, Mas-Mas," ujarnya.
Gaka tersenyum tapi masih tidak berani mendekat. "Mama sama Papa emang dari dulu kek gitu. Rada'-rada'!" Dia menyengir kuda.
"Kamu sebagai anak juga gitu banget."
"Kasih sayang anak ke orang tua itu gak semata ditunjukan secara langsung. Tapi ada tipe-tipe kek gue yang nunjukin rasa sayang dengan sikap kek gini. Tapi gak bisa diraguin, sesayang apa gue sama mereka. Bahkan aksi urakan gue itu semua demi mendapat perhatian dari mereka."
"Tapi anak kita nanti mudah-mudahan gak begitu," kata Hania.
"Gak akan. Kita akan memberikan dia kasih sayang dan perhatian penuh."
Untuk sementara keduanya hanya bisa menyalurkan kebahagiaan lewat sorot mata masing-masing.
.
.
.
__ADS_1
Yang belum follow Akak Mei tolong di Follow ya, biar bisa komunikasi.
Yang tanya kurang berapa bab? Belum bisa dipastikan, tapi tinggal dikit lagi. Nunggu pewaris SAG Grup launching. 😁👌🏻