Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Pemecatan


__ADS_3

Jam sebelas siang Gaka mulai bosan dengan kesendiriannya. Pria itu melirik sofa, dimana Vara justru tertidur pulas di sana. Dua hari kemarin ada Hania yang menemani dan dijadikan objek kejahilannya. Tapi hari ini, istrinya itu justru pergi ke kantor. Tak ada hal menarik yang dilakukan.


"Dia nih aneh, kerjanya khusus di ruangan gue, gue gak ada kok ngeyel masuk kerja. Mau layani siapa coba?!" Hania tidak ada, tapi Gaka masih saja mengomel kesal. "Kapan sih luka gue sembuh, bosen banget rebahan mulu," gumamnya.


Dia meraih ponsel dari atas meja, ingin menghubungi Hania untuk di ajak mengobrol. Tapi satu pesan dari Lili yang sempat dibaca sekilas justru menyita perhatiannya.


'Tuan, cleaning servis yang bekerja khusus di ruangan Anda telah melakukan tindak kurang sopan terhadap tuan Pras. Dan Tuan Pras sendiri mengajukan pemecatan untuk cleaning servis bernama Hania Putri Azahra.'


Setelah membaca keseluruhan, Gaka terkejut dan tentu sulit mempercayai laporan itu. Umumnya bos besar memang tidak mengurusi hal-hal biasa seperti ini, akan tetapi, sebelum Hania berganti tugas, Gaka sudah memberi pesan pada Lili agar melaporkan apapun yang berhubungan dengan Hania.


Sebelum Gaka beralih dari layar ponselnya, dokter dan perawat datang untuk memeriksa lukanya. Gaka tidak mensiakan-siakan kesempatan itu, dia bertanya tentang luka dan meminta izin keluar.



Hampir pukul satu siang, keheningan kantor mendadak berubah riuh. Seorang pria berpakaian biasa menggegerkan karyawan kantor. Dia tidak datang sendirian, melainkan dikawal dengan dua orang pengawal dan satu ahli medis.


Dengan rahang mengeras, Gaka berjalan menuju lift, riuh pegawai kantor sudah biasa dia hadapi. Dia sama sekali tidak terganggu lagi.


Penampilan Gaka yang biasa rapi dan selalu berpakaian formal tapi kini berbeda dengan biasanya. Gaka hanya menggunakan kaos pendek, dan celana bahan yang juga sebatas lutut. Penampilan biasa itu justru menambah kadar ketampanan tersendiri bagi kaum hawa yang mendamba. Dari mereka sama sekali tak ingin beralih selama Gaka ada di jangkauan ekor matanya. Menggigit bibir bawah, ada yang menggigit ujung kuku, mereka larut dalam fantasi dan kehaluan mereka.


Ketika sampai di lantai teratas, dia melewati ruangannya dan menuju ruang sekretariat tiga.


Brak ...!


Gaka melayangkan tatapan tajam, seketika membuat Pras terkejut. Terkejut akan kedatangan dan tatapan murka Gaka. Bos sekaligus pemilik perusahaan.


"Hajar dia sampek babak belur!" titahnya.


Dua pengawal yang sedari tadi mengikuti Gaka mulai mendekati Pras, pria itu bingung sekaligus takut. Merasa tidak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa Gaka marah terhadapnya. "Tuan Gaka, ada apa ini?"


"Beri dia pukulan sekarang juga!" titah Gaka lagi tanpa bisa dibantah.


Bak buk bak buk!


Satu pengawal memegangi tangan Pras, sedangkan satu lagi memberondong bogem mentah.


Sedikit puas melihat pertunjukan itu, Gaka mengangkat satu tangannya ke udara, memberi kode agar mereka berhenti.


Gaka maju dua langkah, melayangkan pukulan pada Pras. "Itu untuk tindak kurang ajar Anda."


Pukulan ke dua. "Itu untuk fitnah yang Anda buat!"

__ADS_1


Yang ke tiga, Gaka menghadiahi satu bogem mentah lagi pada sudut bibir Pras hingga mengeluarkan setitik cairan merah. "Itu untuk sentuhan tangan Anda pada rahang istri saya!"


Kali ini Pras terbelalak kaget. "I-istri?!"


Orang kantor tidak ada yang tahu bila Gaka sudah menikah, apalagi siapa yang menjadi istrinya. Sama sekali tidak ada yang tahu, sekalipun itu Lili.


"Sebelum Anda mengajukan pemecatan untuk istri saya, saya lebih dulu mendepak Anda dari kantor saya!"


"Ja-di, cleaning servis tadi ... istri Anda?" gugup Pras dipenuhi ketakutan.


"Iya, dia istri saya!"


Seketika tubuh Pras melemas. "Saya tidak tahu kalau cleaning servis itu istri Anda, Tuan. Kalau saya tahu tidak mungkin saya bersikap kurang sopan," ujarnya bergetar.


"Tindakanmu bukan kurang sopan lagi, tapi sudah kurang ajar. Anda menghina harga diri istri saya, sama juga menghina martabat saya! Saya bisa laporkan tindakan Anda ke polisi!" Gaka menyeringai, dengan tatapan menakutkan.


"Jangan Tuan! Jangan lapor polisi. Saya sungguh minta maaf. Saya tidak akan mengulangi lagi."


"Yap, benar, Anda tidak akan bisa mengulangi tindakan Anda lagi karna sekarang juga saya memecat Anda!"


"Apa?" Pras terbelalak. "Jangan pecat saya, Tuan. Kinerja saya bagus, Anda harus mempertimbangkannya."


Kedua tangan Pras mengepal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantah atau membela diri lagi. Sudah babak belur, di depak pula dari kantor. Karirnya hancur.


Selesai melampiaskan kemarahan, Gaka tak lantas kembali ke rumah sakit, melainkan menyempatkan diri masuk ke ruangannya.


Hania yang baru selesai melaksanakan sholat tak sengaja mendengar beberapa orang tengah membicarakan kedatangan Gaka. Benarkah Gaka datang ke kantor? Tapi mana mungkin, bukankah Gaka masih belum boleh meninggalkan rumah sakit.


"Mas ...." Hania mendatangi ruangan Gaka. Pria itu tersenyum. "Kok kamu ada di sini?"


"Untuk mengurus sesuatu."


Tok ... tok ... Lili muncul dan memberitahu. "Tuan Pras sudah pergi dari kantor, Tuan."


"Hem ...." Gaka hanya menyahut dengan deheman.


"Mas ... kamu tau? Jangan bilang kamu kesini gara-gara ...."


"Yap, betul. Gue udah bilang, apapun yang terjadi dengan lo, gue pasti tau!" Pria itu mengedipkan sebelah mata, lalu mengangkat sebelah sudut bibirnya.


Hania mengangguk, sudah tidak terkejut seperti tadi. "Kali ini aku dukung kamu, Mas. Rasanya aku kesal karna tindakannya yang kurang sopan."

__ADS_1


"Beruntung gue masih ada sedikit baik hati, jadi gak gue laporin polisi. Tapi pemecatan secara tidak hormat cukup untuk memberinya pelajaran."


"Gue pengen secepatnya umumin pernikahan kita pada publik, biar semua tau siapa elo, dan kejadian kek gini gak akan terulang lagi."


Hania belum menyetujui perkataan Gaka, tapi ada panggilan masuk dari mama mertuanya.


"Iya, Ma, ada apa?"


'Han, suamimu hilang. Gaka kabur. Dia diam-diam pergi dari rumah sakit.'


Hania mengernyit, lalu menatap suaminya bingung. Gaka yang sudah mendekat pada Hania bisa mendengar suara panik dari mamanya. Namun, bibir pria itu malah merekah lebar.


"Jangan bilang gue di sini," bisiknya pada Hania.


"Jangan gitu, Mas, Mama pasti khawatir kamu gak ada. Apa kamu tadi gak ijin dulu? Kamu beneran kabur!" balas Hania berbisik.


"Udah ijin dokter, tapi tadi Mama tidur jadi dia gak tau. Ha ha ... biarin aja mama tua itu bingung," ujarnya cengengesan.


"Hust! Dosa!" seru Hania.


'Han, apa maksudmu bilang dosa?' Vara menjawab dari seberang telpon.


"Eh, enggak, Ma, bukan!" sahut Hania cepat. "Mama khawatir?"


'Ya iyalah Mama khawatir, suamimu 'kan belum sembuh.'


"Ma, gak usah khawatir, Mas Gaka ada di sini kok. Dia datang ke kantor."


'Apa? Gaka dateng ke kantor? Dasar anak itu ... bikin orang tua pusing aja. Papanya sampek muter-muter sekitar rumah sakit buat cari dia.'


"Pihak rumah sakit apa gak ada yang kasih tau, Ma?"


'Suster yang Mama tanyain bilang gak tau. Jadi, Mama panik. Ya udah kalau gitu, Mama tutup telponnya."


"Iya, Ma."


"Ngapa di kasih tau, sih! Biarin aja mereka kelimpungan nyari. 'Kan seru," ujar Gaka.


"Seru gigimu, Mas. Orang tua kok dikerjain. Dosa tau!"


Gaka mengusap tengkuk. 'Gini nih kalau punya istri alim, dikit-dikit dosa, dikit-dikit dosa. Lama-lama hidup gue lurus gak ada belokan,' gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2