Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Sejauh Itukah Dia Menghancurkan Asa


__ADS_3

Pukul sebelas malam Gaka dan Hania baru sampai di rumah. Mereka beriringan menaiki tangga dan terhenti di depan kamar masing-masing.


Kamar masing-masing? Ya, karena mereka berdua memang tidur terpisah. Namun setiap pagi Hania selalu masuk ke kamar Gaka untuk membangunkan pria itu.


"Mas, makasih untuk ponsel dan jalan-jalannya," ucap Hania tersenyum tulus.


"It's okey," jawab Gaka. Hanya hal biasa seperti ini membuat Hania terlihat senang. Sangat sederhana sekali.


"Aku masuk duluan, ya, Mas."


"Heeem. Selamat malam," ucap Gaka.


"So manis ucapanmu, Mas." Hania membuka handel pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


Gaka juga masuk ke kamarnya sendiri. Pria itu bukannya menuju ranjang, tapi melewatinya begitu saja. Ternyata tujuannya adalah balkon. Dia berdiri dan berdiam di sana. Netra tajamnya menatap gemerlapnya langit.


'Ya, sangat tragis. Tapi lebih tragis lagi karena pada akhirnya aku malah berjodoh dengan pria sepertimu.'


Kalimat terakhir yang diucapkan Hania terus berputar ulang memenuhi otaknya. Kata-kata yang itu cukup menohok hatinya. Dia merasa kecil hati dan sangat tidak pantas untuk wanita sebaik Hania.


Bukan itu saja, dia menyimpulkan karena kesalahannya yang telah merenggut harapan dan masa depan Hania. Perlakuan bejatnya penyebab wanita itu tidak bisa menentukan kebahagiannya sendiri.


Hania yang dia katakan bodoh, polos dan kampungan. Nyatanya beberapa kali wanita itu lebih bijak dalam menghadapi masalah. Membalas kemarahan dengan kelembutan. Membalas hinaan dengan kata halus namun mampu membungkam para penghina. Mampu bertindak tegas untuk membela marwahnya.


Belum lama bersama Hania, namun sudah banyak pelajaran baik yang dia saksikan. Wanita itu berbeda dan sangat luar biasa.


Dia beruntung karena Allah menjodohkannya dengan wanita sebaik Hania, tapi dia belum sanggup untuk berkomitmen memperjuangkannya. Dia sangat sadar siapa dirinya dan siapa wanita itu, bagaimanapun memantaskan diri rasanya masih tidak bisa sebanding.


Gea? Perlahan-lahan perasaanya mulai terkikis untuk wanita itu. Sudah tak ada hal menarik lagi bersamanya. Namun, tak ada alasan untuk mengakhiri, karena hatinya sendiri pun masih bimbang.


~


Pagi hari semua rutinitas di lakukan sama seperti hari biasanya. Gaka dan Hania berangkat ke kantor bersama.

__ADS_1


"Mas, kamu belikan aku hp mahal malah aku kebingungan gimana cara makenya."


"Kok bingung?" Gaka tidak menoleh, karena harus fokus dengan jalanan.


"Semua menu pengoperasiannya beda."


"Gitu aja kok bingung. Ntar malam gue ajarin," ujar Gaka.


Hania menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu beralih melihat keluar jendela. Dia menajamkan penglihatan pada seseorang yang tengah berdiri di atas trotoar.


"Masss berhentiiiii!!!"


Teriakan Hania membuat Gaka terkejut sekaligus kalang kabut menginjak pedal rem. Mobil itu terhenti mendadak dengan suara klakson mobil lainnya yang saling bersahutan, kemudi lain itu memprotes tindakan Gaka yang bisa menyebabkan kecelakaan bahkan membahayakan nyawa orang lain.


"*****!" umpatnya. Dia menepikan mobil di bahu jalan agar tidak menimbulkan kemacetan.


"Kek gini bahaya banget. Kenapa harus teriak kenceng dan bikin gue kaget. Kalau mau berhenti tinggal bilang aja jangan seperti ...." Gaka melongo melihat Hania mengabaikan omongannya dan secepatnya sudah keluar dari dalam mobil.


Dia memperhatikan Hania yang saat ini sedang mematung di depan seorang pria. Siapa pria itu dan apa hubungannya dengan Hania?


"Lo kenapa? Lo kenal pria tadi? Siapa?" Gaka meruntut pertanyaan. Ketika melihat wajah Hania, dia terkejut karena wanita itu sedang menangis. "Lo kenapa?" tanyanya dengan nada menyentak. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Aku gak pa-pa. Ayo, kita pergi."


"Pergi gimana? Jelasin dulu kenapa lo nangis?"


"Aku bilang ayo pergi, Mas. Aku gak pa-pa. Gak ada yang perlu di jelasin. Tadi cuma salah orang." Hania terus mengusap pipinya yang banjir air mata. Dia tadi melihat pria yang dikenali, tapi sebelum mendekat pria itu sudah pergi.


"Dasar batu! Jelas-jelas lo nangis gini, pasti lo kenapa-napa."


"Mas, aku bilang ayo kita pergi. Kalau kamu gak mau pergi, aku pergi sendiri!" sentak Hania.


"Oke kita pergi," kata Gaka. Mereka kembali ke mobil. Dalam perjalanan keduanya kembali terdiam. Bahkan sesekali netra Hania masih meneteskan air mata. Hal itu membuat Gaka semakin penasaran.

__ADS_1


Di kantor.


Gaka menunggu Hania datang mengantar kopi, dia ingin mengulik penjelasan sampai tuntas tapi Hania terlalu singkat berada di ruangannya. Apa dia tidak mencegah Hania pergi? Tentu saja di cegah, tapi tidak tega ketika Hania memohon agar dia memberinya waktu untuk sendiri. Sikap Hania benar-benar aneh.


Apakah pria itu salah satu pria yang di ceritakan semalam? Pria-pria beruntung yang sempat disukai oleh Hania.


"******! Bangsat!" Gaka mengumpat dan mulai uring-uringan tidak jelas.


Sudah kembali ke rumah pun Hania masih saja aneh. Meminta waktu sendiri dan mengurung diri di kamar. Wanita itu hanya keluar untuk makan malam dan kembali ke kamarnya.


Hal itu berlangsung sampai beberapa hari. Dan di hari ke tiga, barulah Hania mulai bersikap normal. Memasak sarapan dan duduk bersama Gaka di ruang makan.


"Lo masih belum siap jelasin," ujar Gaka.


Hania menghela napas. "Kemarin aku salah mengenali orang. Aku kira dia orang yang aku kenal, ternyata bukan."


Gaka memicing. Rasanya tidak percaya dengan penjelasan Hania yang sesingkat itu. Bagaimana mungkin penjelasan sederhana itu bisa membuat Hania murung berhari-hari.


Melihat Gaka seperti itu, Hania tahu kalau Gaka tidak percaya. "Aku kira pria kemarin adalah pria yang ingin aku temui. Tapi bukan. Sungguh, aku tidak berbohong."


"Jadi, lo kira pria itu salah satu masa lalu lo?"


"Entahlah disebut masa lalu atau apa. Aku pun bingung." Hania menghendikan bahu.


"Kalau beneran ketemu pria dari masa lalu lo, apa yang akan lo lakuin? Apa lo mau balikan sama dia? Maksud gue, apa lo mau kembali melanjutkan hubungan kalian?"


"Aku cuma mau minta penjelasan dari dia. Kenapa dia memberiku sebuah harapan jika pada akhirnya dia gak bisa mewujudkan. Aku ingin tahu, alasan apa membuat dia menghilang.


Untuk kembali melanjutkan hubungan, itu gak akan pernah aku minta. Bagaimana aku bisa kembali sedangkan kepercayaan diriku sudah hilang.


Sudah pernah aku katakan. Terbebas dari pernikahan kita, aku ingin melanjutkan hidup tanpa bayang siapapun. Aku sudah kehilangan kepercayaan diri untuk melanjutkan hidupku bersama pria lain."


Deg ... Gaka terpaku mendengar penuturan itu. Beberapa kali Hania berhasil membuat hatinya tertohok. Dan rasa bersalah turut muncul ke permukaan.

__ADS_1


Sejauh itukah dia menyakiti dan menghancurkan asa Hania?


__ADS_2