
Mereka sudah pulang ke Jakarta. Gaka yang baru sampai pukul tiga sore langsung pergi lagi menuju perusahaan AH-Star untuk menghadiri rapat sesama pemegang saham. Sebelum berangkat, lebih dulu pulang ke rumah karena Hania juga ikut ke mobilnya.
"Apa nanti kamu pulang malem, Mas?" tanya Hania.
"Kemungkinan jam tujuh udah sampek rumah."
Hania mengangguk. "Hati-hati dan jangan lupa sholat tepat waktu, ya, Mas."
"Iya sayang."
"Ih, geli dipanggil begitu."
"Di panggil sayang kok geli. Sweet tau."
"Dah, aku masuk dulu, ya." Hania ingin turun, karena dia melihat Pak Arya sudah selesai menurunkan barang-barangnya.
Gaka menarik pinggang Hania sampai menempel pada tubuhnya. Dia lalu menyerang bibir Hania begitu saja. Setelah puas, dia baru melepaskan. "Gak usah ngapa-ngapain, langsung istirahat aja," pesannya.
"Iya." Kali ini Hania turun dari mobil dan Gaka tidak mencegahnya lagi. Dia baru masuk setelah mobil itu berlalu menuju gerbang dan tidak terlihat lagi.
Keesokan harinya.
Seusai kejadian Hania tenggelam di kolam, Gea jarang muncul di hadapan Gaka maupun Hania sendiri. Dia merasa ketar-ketir bila Nita dan lainnya membuka suara kalau dia juga ikut terlibat dalam perundungan itu. Apalagi Gaka mengatakan akan melapor pada polisi, bisa jadi dia adalah sanksi terberat. Bisa dibilang, dia lah yang memprovokasi. Selain itu, dia juga ingat tentang penusukan Gaka, bukankah kasus itu lebih berat andai Gaka juga membuat laporan.
Hari ini dia hanya berdiam di ruangannya. Jam makan siang pun dia hanya menitip jasa pada temannya untuk dibelikan makanan. "****! Sampek kapan gue dihantui ketakutan kek gini. Tenang, Ge, tenang. Gak mungkin Gaka laporin elo ke polisi. Itu gak mungkin. Huft ...." Dia menghirup udara dan membuangnya perlahan. Menenangkan diri sendiri.
Sampai sore hari tidak terjadi apapun. Seperti biasa, sepulang kantor Gea memutuskan langsung kembali ke apartemen tanpa singgah kemanapun.
Mobil yang ditumpangi baru memasuki basemen. Dia turun dan berjalan menuju lift. Akan tetapi, langkahnya melambat ketika melihat aparat keamanan sedang menuju ke arahnya. Satu polisi dan dua polwan mengarah padanya.
Deg ... jantung Gea berpacu lebih cepat. Ketakutan yang tadi sempat hilang, kini datang lagi dengan ketakutan lebih besar.
__ADS_1
"Selamat sore. Apa Anda saudari Rumia Geana?"
"Iya, saya."
"Kami mendapat laporan dari saudara Satrya Higaka atas tindak kejahatan yang dilakukan Anda terhadap Beliau dan istrinya. Ini surat perintah penangkapannya. Dan Anda silahkan ikut kami."
Meski Gea menerima surat penangkapannya, tapi dia membuangnya begitu saja. Nanar memandang ketiga aparat hukum itu.
"Enggak, Pak, saya tidak melakukan apapun. Laporan itu tidak benar! Kalau untuk penusukan Gaka, itu tidak sengaja. Kalian tidak bisa menangkap saya!" Gea menentang polisi yang ingin menangkapnya.
"Secara detailnya Anda bisa menjelaskan di kantor polisi. Sekarang, ikut dengan kami." Polisi itu memberi perintah kepada dua polwan untuk membawa paksa Gea masuk ke mobil polisi. Tapi Gea memberi penolakan bahkan mulai memberontak.
"Kalau Anda tidak bisa tenang, kami bisa bertindak tegas. Lebih baik Anda menurut!" Salah satu polwan mengancam karena Gea terus bergerak untuk melakukan penolakan.
"Saya tidak mau ikut kalian. Saya tidak bersalah. Lepaskan! Tolong lepaskan saya!" Gea memberontak keras ketika di seret paksa menuju mobil polisi yang terparkir di luar gedung basemen. Keluar dari basemen pun ada banyak orang yang menyaksikan penangkapan Gea.
Duk ... Gea menendang asal kedua polwan itu hingga cekalannya terlepas. Tidak mensia-siakan kesempatan, Gea berlari kencang menuju jalan raya. Niat hati ingin kabur dari kejaran polisi. Namun, nasib naas justru berganti menghampiri.
"Akh ...!!!"
Brak ....
Tubuh Gea terpental dan berguling di atas aspal setelah tertabrak mobil sedan putih yang melaju dari arah timur.
Itu bukan kesalahan si pengemudi, karena jelas-jelas Gea berlari kencang tanpa melihat kanan dan kiri. Dan ... kecelakaan mengerikan itu terjadi secepat kilat menyambar. Terjadi tanpa disangka-sangka dan begitu cepat.
Tubuh Gea tergeletak di tengah jalan beraspal. Seketika darah mengucur dari beberapa titik tubuhnya. Termasuk dari bagian kepala.
Mobil fuso bermuatan semen dari arah berlawanan ikut mengerem secara mendadak, jika tidak, sedikit saja melaju, pastilah tubuh Gea akan merasakan sakitnya terlindas ban besar fuso itu.
Sehabis terjadinya kecelakaan, semua pengemudi, termasuk pemotor langsung menghentikan kendaraanya. Kemacetan panjang tak terelakan. Polisi yang tadi bertugas menangkap Gea, langsung berlari ke lokasi. Polisi itu juga meminta bala bantuan.
__ADS_1
Kondisi Gea sudah tidak sadar, setelah mobil ambulance datang, tubuh lemah bersimbah darah itu langsung dipindah ke tersebut untuk dibawa ke rumah sakit. Polisi dan polwan mengamankan tas Gea sekaligus untuk menghubungi pihak keluarga Gea.
•
Gaka dan Hania pulang dari kantor bersama. Kini Hania tak lagi perlu sembunyi atau berjalan jauh untuk menumpang mobil Gaka. Karena semua orang sudah tahu pernikahannya.
"Mas, kok, aku kepikiran sama Gea, ya?" ucap Hania. Beberapa dia melihati Gaka, mencoba menunjukan kekhawatiran.
"Masih aja mikirin dia," balas Gaka. "Gak usah dipikirin lagi. Dia nanti bakal nikmati waktu di penjara."
"Apa maksudmu, Mas?"
"Lili tadi kasih tau kalau hari ini polisi mau nangkep Gea."
"Kamu serius, Mas?" Hania terkejut.
"Serius. Bukan Gea aja, tapi semua yang udah jahat sama lo kemarin."
"Kamu gak coba maafin mereka, Mas?" ragu-ragu Hania berkata.
"Tujuan gue cuma mau kasih pelajaran sama mereka. Biar Gea atau siapapun gak berani jahati lo lagi."
Melihat wajah Gaka tanpa keramahan, Hania tidak berani berkata-kata lagi. Mungkin, dengan begini Gea atau Nita dan temannya bisa berubah.
Tring ....
Gaka melihat ponselnya yang berdering. Dia mengaktifkan pengeras suara agar tidak mengganggu konsentrasi menyetir.
'Tuan, saya mendapat kabar dari kepolisian kalau Gea mengalami kecelakaan tertabrak mobil. Sekarang kondisinya kritis dan di bawa ke Rumah Sakit Sehat Bersama,' ujar Lili dari seberang telepon.
"Astagfirullahal'adzim ... berarti perasaanku dari tadi gak enak tentang Gea, ternyata Gea mengalami musibah. Ya Allah, Mas, ayo, kita langsung ke rumah sakit." Hania kembali khawatir. Bagaimanapun perbuatan Gea terhadapnya, mendengar Gea sedang kritis dia tak sampai hati untuk tidak peduli.
__ADS_1
Gaka tidak menjawab namun membelokkan setir menuju rumah sakit.