Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Semoga Berpindah Haluan


__ADS_3

Pagi hari Gaka sibuk merapikan diri di depan cermin. Sesekali ujung matanya melirik ke arah ranjang namun Hania masih belum bangun. Bila pagi ini tidak ada pertemuan penting dengan dewan direksi, dia akan mengambil cuti untuk menemani Hania. Karena semalam kondisi Hania cukup memprihatinkan, dia takut psikis Hania mengalami trauma.


Selesai merapikan rambut, Gaka menghampiri Hania dan menyentuh pipinya. Memeriksa suhu tubuh yang ternyata demamnya sudah menurun. Nyatanya memasukan obat dengan alternatif lain cukup mujarab membuat demam tinggi itu menurun. Dalam hati dia memuji diri sendiri yang telah mencetus ide konyol namun bermanfaat. Bibirnya tersenyum penuh arti.


Hania menggeliat, melihat hal itu Gaka bergerak singkat menuju sofa dan duduk di sana. Dia ingin bersikap acuh seperti biasanya. Pura-pura tidak peduli untuk menutupi rasa gugup atas perbuatannya semalam yang beberapa kali mencium bibir Hania demi mentransfer obat. Andai Hania tahu apa yang dia lakukan sudah pasti Hania akan marah besar. Menyentuh tangannya saja dia didorong sampai terjengkang, apalagi kalau tahu dia sudah menciumnya berkali-kali mungkin saja pipinya akan membengkak karena hujan tamparan dari Hania.


Gaka yang pura-pura sibuk memakai sepatu kembali melirik Hania, ternyata wanita itu belum bangun. Pergerakannya tadi hanya berganti posisi dan sekarang justru memunggunginya.


"***! Dia tadi cuma ganti posisi doang? Setan biadap! Gue kira mau bangun. Tau gitu gue gak lari-larian kesini! Kampret!" Tangannya menekan sofa sampai amblas ke bawah saking menahan kesal. "Kenapa gue jadi konyol dan gak waras gini sih di depan dia? Idih ... gak banget deh," gumamnya dengan sudut bibir terangkat.


"Gue tuh Satrya Higaka, selalu perfect di depan wanita manapun. Iya, kan? Gue gak pernah bersikap konyol." Gaka terus berbicara sendiri. Antara kesal dan malu atas perbuatannya yang konyol, sudah mensetting wajah angkuh ternyata Hania hanya menggeliat saja. Menggelikan sekali perbuatannya.


"Kamu bicara dengan siapa, Gaka?"


"Setan! Ngagetin aja, sih!" Gaka berjingkat kaget mendengar suara Vara. Entah sejak kapan mamanya berdiri di depan pintu. Bukan itu saja, papanya juga tengah memandang dengan tatapan menyelidik, tak lama membuat gerakan jari telunjuk miring di atas dahi. Secara tidak langsung mengatainya gila.


"Pagi-pagi kamu ngatain Mama setan, Gaka!" Vara melotot.


"Bukan, Ma, bukan! Gaka kaget Mama tiba-tiba masuk," kilah Gaka mencari aman.


"Kamu budek Mama ketuk-ketuk pintu tapi gak ada sahutan, jadi Mama coba intip ke dalam taunya kamu ngomong sendiri. Ya udah Mama langsung masuk," cerita Vara.


"Anakmu belajar gak waras, Ma," sahut Tuan Haru.


"Pa, pagi-pagi jangan bikin orang emosi. Anak sendiri selalu dibilangin begitu!" Gaka cemberut.


"Ini kenapa jadi bahas gak penting, sih," ucap Vara. Dia mengambil duduk di samping Gaka. "Jelasin, apa yang terjadi sama Hania? Tumben jam segini Hania belum bangun?" mata Vara tertuju ke arah ranjang, di mana Hania sedang terbaring.

__ADS_1


"Semalam dia kesasar, untung Gaka lewat pabrik garmen yang udah tutup kedengeran ada suara minta tolong, pas Gaka dateng ternyata dia sedang dikerubungi preman-preman. Dan, ya ... begitulah udah kayak kucing nemu ikan asin."


Vara menoyor kepala Gaka. "Ya Allah, istri kamu mengalami hal begitu bisanya kamu cerita dengan santai," ucapnya marah.


Tuan Haru mengepalkan tangan di depan Gaka. Wajahnya memerah dengan gigi beradu sedang menahan amarah. "Sekarang kamu yang bikin Papa emosi," ucapnya.


"Emosi gimana? Gaka udah berhasil selamatin dia. Tangan ini yang hajar preman-preman itu sampek sekarat. Gaka jadi malaikat penyelamat yang dateng tepat waktu, begitu kok dibilang bikin emosi. Salahnya di mana?" jawab Gaka.


Vara menyusut sudut matanya. "Ya Allah, Mama gak bisa bayangin kalau kamu gak bisa nemuin dia, mungkin Hania akan sangat terpuruk."


"Kondisinya sekarang juga memburuk, Ma. Di alam bawah sadarnya dia ketakutan. Semalam teriak-teriak dan badannya demam tinggi."


"Demam? Kok kamu gak bilang Mama? Tau dia sampek begitu, Mama ikutan jagain dia."


"Selama Gaka bisa jagain, Gaka bakal jagain. Kalau di jaga rame-rame takut malah gak nyaman."


Gaka meringis sambil menggaruk pinggiran pelipis.


"Dasar! Pasti ada modus tersembunyi," cibir Tuan Haru.


"Jangan nuduh begitu, Pa, coba liat usaha Gaka bikin demamnya turun. Tokcer 'kan?" Dia menaik turunkan kedua alisnya. Sedangkan Tuan Haru mengernyit. Tidak mengerti maksudnya.


"Apa yang kamu usahakan, Gaka!" timpal Vara ikut mengernyit curiga.


"Enggak, Ma. Pokoknya sebuah usaha keras buat demamnya cepet turun." Gaka bangkit dan berjalan menjauh. Dia menyembunyikan sebuah senyuman. Mengingat ide konyol mentransfer obat dengan alternatif lain.


Setelah mengambil tas kerja dan kontak mobil, dia mendekati mamanya dan berpesan. "Tolong temani dia dulu, Ma, dia pasti butuh teman," ucapnya.

__ADS_1


Vara dan Tuan Haru menoleh bersamaan. Sama-sama terkesiap mendengar pesan Gaka barusan. Sebuah pesan mengandung kepedulian. Padahal itu bukan sikap Gaka sekali.


"Iya, Mama gak akan kemanapun hari ini. Mama nungguin Hania terus," ucap Vara.


"Papa juga gak kemana-mana hari ini, seharian di rumah," ucap Tuan Haru. Sejak posisinya digantikan oleh Gaka, Tuan Haru tidak terlalu sibuk lagi. Banyak jadwal kosong, dia bisa beristirahat di rumah.


"Kalau Papa gak usah ikut-ikutan nemenin. Nonton tv, berkebun apa kasih makan ikan. Cari kesibukan lain. Gaka pesennya sama Mama, bukan sama Papa." Gaka bernada sinis.


"Papa juga mau jagain. Dia mantu Papa, gak pa-pa dong," sahut Tuan Haru sengaja memancing Gaka.


"Papa yang jagain gak ada guna. Biar Mama aja!" tegas Gaka.


"Sudah!" sentak Vara. "Gaka, kamu berangkat sekarang. Iya-iya nanti Mama yang jagain Hania. Kamu berangkat aja. Bisa-bisa Hania kebangun gara-gara kalian ribut!"


Gaka melirik papanya sinis dan langsung keluar kamar. Sedangkan Tuan Haru justru terbahak tanpa bersuara.


"Papa nih suka banget mancing emosi Gaka," ucap Vara.


"Bukan cuma mancing emosi, Ma, Papa pengen liat seberapa peduli dia pada istrinya. Apa Mama gak ngerasa anak kita mulai beda?"


"Maksud Papa?" tanya Vara.


"Apa Mama gak sadar, Gaka berbeda dan mulai peduli dengan Hania."


Vara terlihat berpikir. "Mama juga ngerasa begitu sih. Atau ... jangan-jangan Gaka mulai pindah haluan dan mulai ehem sama Hania? Akh ... Kalau sampai itu terjadi, Mama seneng banget." Dia menjerit tertahan.


Pletak!

__ADS_1


Tuan Haru menyetil kening istrinya. "Jangan bayangin terlalu jauh dulu. Ini baru perubahan kecil, belum tentu itu terjadi dengan cepat. Tapi kita berdoa saja semoga Gaka sungguhan berpindah haluan."


__ADS_2