
Dua pria dewasa itu duduk saling berhadapan. Keduanya melempar tatapan dingin.
"Kembaliin dia ke gue! Lo pria brengsek sama sekali gak pantes buat Hania!"
Gaka tersenyum masam.
"Lo bajingan gak punya otak. Untuk apa lo nikahi Hania padahal dari dulu lo udah punya Gea. Pria seperti lo gak kenal cinta, lo sama sekali gak punya cinta buat Hania. Ceraikan dia! Gue punya cinta yang besar untuk Hania." Abian memandang dingin ke arah Gaka. Pria itu terlihat santai tanpa membalas pandangan Abian.
"Lo tau gue, Ka. Gue gak pernah jatuh hati dengan sembarang wanita, dalam keadaan gak sadar, cuma Hania yang bisa gue ingat. Dia alasan gue bertahan hidup sampai sekarang."
"Tolong kembalikan dia. Kembalikan dia buat gue. Lo bisa hidup bahagia sama Gea."
"Apa lo gak kasihan lihat dia sama sekali gak bahagia dengan pernikahan kalian. Gue gak tau apa yang lo lakuin sampek dia mau menikah sama lo. Padahal lo sama sekali gak pantes. Bahkan sangat-sangat gak pantes buat Hania!!!" Abian menekankan kata 'gak pantes'. Andai fisiknya kuat, dia pasti sudah melayangkan tinju berkali-kali untuk Gaka. Tidak peduli meski pria itu adalah saudaranya sendiri.
"Bacot lo diem! Lo gak ada hak nilai gue pantes atau gak sama Hania. Tuhan menghendaki pernikahan gue, berarti Tuhan juga yang menakdirkan gue sama Hania. Tau apa lo tentang pernikahan gue. Denger! Sampek kapanpun gue gak akan menceraikan Hania!" Kali ini Gaka menatap berani ke arah Abian.
"Apa lo mau miliki keduanya? Kalau lo gak mau ngelepasin Hania, apa lo mau ngelepasin Gea?"
"Gue cuma nunggu waktu yang tepat."
Deg ....
Abian terkejut. Dia hanya memberi pertanyaan menjebak, tapi jawaban Gaka justru mencengangkan.
"Gue akan bongkar pernikahan lo sama Gea!" ujar Abian mengancam.
"Kalau lo mau bongkar, berarti lo sama sekali gak mikir kebaikan Hania. Gue mencari waktu yang tepat buat bicara sama Gea."
"Jangan bilang lo mulai punya perasaan sama Hania?" Abian bergetar menanyakan hal itu. Sangat tidak rela bila Gaka mulai menyukai Hania. Dia tahu siapa Gaka, bahkan semua tahu pria itu tidak pernah tulus memiliki perasaan untuk seorang wanita.
Gea satu-satunya wanita memiliki rekor pertama bisa bertahan lama dengan Gaka, dan Gea pun pada akhirnya akan dicampakkan juga, lalu bagaimana dengan Hania?
"Iya, gue mulai suka sama dia. Dan sampek kapanpun gue gak akan ngelepas dia. Paham!" Gaka beranjak dari duduknya. Dia sudah tidak ingin melanjutkan pembicaraannya.
"Ka, please, kenali dulu perasaan lo. Hati lo sungguh memiliki rasa pada Hania, atau hanya sekedar penasaran saja karena Hania berbeda dengan yang sering lo pacari," ujar Abian.
Gaka mengurungkan niat untuk pergi. "Gue paling tau dengan hati gue. Dan gue udah yakin kalau gue bakal pertahankan dia." Kali ini Gaka benar-benar pergi meninggalkan saudaranya itu.
__ADS_1
Berkali-kali Abian membuang napas kasar. Tangannya terkepal kuat seperti hatinya yang juga diremas dengan kuat.
~
Dua hari seorang Gaka baru pulang ke rumahnya. Tak ada yang menyambut karena pria itu masuk ke dalam rumah pukul 2 dini hari.
Perlahan dia menaiki anak tangga, penampilannya nampak kacau dengan lagi-lagi mulutnya menguar bau alkohol.
Berkat dia mencuri dengar pembicaraan Abian dengan Hania malam itu, dia mulai menyadari perasaanya. Dia tidak suka ada pria yang menyukai Hania. Dia takut bila Hania memilih Abian dan memutuskan hubungan mereka. Tidak, dia tidak ingin itu terjadi. Dia menyadari rasa cemburunya begitu besar ketika Hania berdekatan dengan pria lain.
Namun, seorang wanita Rumia Geana menjadi beban pikirannya. Bagaimana dia akan memutuskan wanita itu, sedangkan dia tahu bagaimana Gea mencintainya.
"Mas ...."
"Bangsat! Ngagetin aja!" Gaka berjingkat kaget. "Ngapain jam segini keluyuran di dapur?"
"Nih, ambil minum." Hania mengangkat gelas yang ada di tangannya. "Kamu, kenapa ke dapur?"
"Gue laper."
"Tunggu aja biar aku angetin lauk pauk buat kamu."
Hania dengan cekatan memanaskan dan menyediakan makanan untuk Gaka.
"Kamu kayak kelaperan banget, Mas," ujar Hania ketika melihat Gaka menghabiskan makanan dengan cepat.
"Dari kemarin gue makan. Emang lagi laper banget." Pria itu mengelap sudut bibir dengan tissue.
"Siniin piringnya, biar langsung aku cuci." Hania beranjak untuk meraih piring itu, tapi di cegah oleh Gaka.
"Biar dibereskan pelayan besok!"
Hania kembali duduk di tempat yang tadi.
"Kamu udah tau tentang hubunganku dengan Mas Abian?"
"Dari pas kita dateng gue juga udah tau. Sikap kalian kentara banget," jawab Gaka berusaha bersikap santai.
__ADS_1
"Kenapa? Lo mau minta kita pisah dan mau balikan sama dia?"
Hania menggeleng.
"Aku tau kalian masih saling cinta."
"Memang, tapi aku tidak punya keberanian untuk memulai suatu hubungan lagi dengan pria lain."
"Apa itu cuma alesan, karna sebenarnya lo udah mulai suka sama gue?"
"Mulutmu, Mas, kalau bicara dijaga. Kamu yang menghilangkan kepercayaan diriku, kamu yang membuatku tak pantas di miliki pria lain. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?"
Gaka tersenyum singkat. "Gue becanda. Gue juga sadar, walau gue mulai suka sama lo, gak mungkin lo balas perasaan gue," gumamnya.
"Kamu bilang apa, Mas?" Hania terkejut. Apa dia sudah salah dengar atau memang Gaka hanya bicara ngelantur karena pengaruh alkohol.
"Lupain. Anggep lo gak denger apa-apa." Gaka bangkit dan meninggalkan meja makan. Meninggalkan Hania yang terdiam dengan pikirannya.
~
Di kantor.
"Ka, malam ini nginep lagi di apartemen, ya. Temenin gue. Dua hari kita bersama, tapi kita belum bercinta. Gue kangen lo, Ka. Gue kangen kebuasan lo," rengek Gea. Wanita itu bergelayut manja di lengan Gaka.
Memang benar selama dua hari ini Gaka datang ke apartemen Gea. Sebenarnya bukan karena rindu atau mencari kepuasan seperti biasanya. Hubungannya bersama Gea benar-benar mulai hambar, dia tidak merasakan apapun lagi bersama wanita itu.
Bahkan, si junior juga ikut hambar dengan milik Gea. Sama sekali tidak bereaksi apapun ketika Gea mencumbu dengan berbagai cara.
Bahkan selama dua hari itu otaknya dipaksa mencari cara untuk bicara baik-baik dengan Gea, tentang perasaanya yang mulai hilang. Namun, ada setitik rasa tidak tega ketika Gea menunjukan cintanya.
Bahkan dia juga bingung untuk mengatakan alasannya. Dia tidak ingin Gea berganti membenci Hania. Persahabatan mereka akan hancur.
"Hem, ada yang mau gue omongin juga sama lo."
"Ngomong? Dari kemarin mau ngomong mau ngomong, tapi gak jadi terus. Sebenarnya lo mau ngomong apa sih?" Gea memicing.
"Ya pokoknya ada."
__ADS_1
"Woke, deh."