Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Memiliki Rasa (Abian)


__ADS_3

Tok tok!


"Siapa, Nduk, malam-malam gini ada yang datang?" tanya Bu Mirna.


"Hania juga gak tahu, Bu. Sebentar Hania liat." Wanita berjilbab coklat tua lebar itu berjalan ke pintu depan.


"Malam, mbak. Kami mau mengantar barang." Dua pria dewasa membawa dua kardus besar seukuran kardus mie instan namun ukurannya lebih besar sedikit terlihat berdiri di depan pintu.


"Barang? Saya nggak pesen barang apa-apa. Mungkin Masnya salah alamat," ujar Hania. Tak lama Bu Mirna terlihat mendekat. Hania beralih menanyakan itu kepada ibunya. "Ibu ada pesen barang?"


"Enggak, Nduk," jawab Bu Mirna sambil menggeleng.


"Alamatnya bener, kok, saya sudah cek berkali-kali." Pria tersebut memperlihatkan catatan alamat penerima barang.


"Iya, bener ini alamat rumah saya. Tapi saya nggak ngerasa pesen barang." Hania bingung.


"Yang penting alamatnya bener. Tolong mbak terima."


"Tapi, Mas. Gimana saya mau terima, itu bukan pesenan saya. Nanti kalau ada yang nyariin bagaimana?"


"Yang penting alamat dan nama penerima sama, itu kuncinya. Tolong diterima ya mbak. Ini kiriman barang kami yang terakhir."


Hania melihat ke arah ibunya yang juga terlihat kebingungan. Tiba-tiba kedua pria tadi menaruh kardus yang mereka bawa di depan pintu.


Hania ingin menolak lagi, tapi melihat wajah lelah para kurir, dia mengurungkan niat dan akhirnya mengucap, "terima kasih."


Setelah para kurir meninggalkan rumahnya, dia lekas membuka kardus untuk memastikan isinya. Hania mengernyit mendapati isi kardus adalah sembako lengkap. Minyak goreng, tepung terigu, gula putih, mie instan, bumbu-bumbu dapur dan masih ada lainnya.


"Masya Allah, siapa yang kirim ini ya, Bu?"


"Apa mungkin Tuan Haru?" tebak Bu Mirna.


"Tuan Haru? Bukankah kita udah nggak ada urusan dengan Beliau, Bu? Untuk apa Tuan Haru mengirim sembako ini?"


"Entahlah, Nduk. Ibu juga nggak tahu. Yang penting kita bersyukur mendapat rezeki ini."


~


"Bagaimana? Pesanannya udah beres, Yan?"


"Udah. Lo pesen buat siapa? Emang lo kenal orang sini?" Abian penasaran, siapa orang yang dikirim sembako oleh Gaka. Sampai seumur sekarang ini pertama kalinya seorang Gaka peduli terhadap orang lain. Heran, tentu saja sangat mengherankan. Bahkan Abian hampir kehabisan napas menebak-nebak siapa orangnya. Alamat Gea? Bukan! Kalau alamat Gea dia juga tahu.


"Ada lah. Itu sebagai ucapan terima kasih karna orang itu tadi nolongin gue pas hampir ketabrak mobil."

__ADS_1


"Hah, serius lo hampir ketabrak? Gue kira badan lo kebal gak mempan gituan."


"Ah, dah males nih lanjut ngomong."


'Klik' sambungan diakhiri.


~


Pagi hari ketika Hania sedang bersiap mengusung bahan dagangan, dia mendapati ibunya batuk tanpa henti. Dia yang khawatir segera mendekati sang ibu.


"Bu, kita ke rumah sakit, ya," bujuk Hania. Ini sudah kesekian kali dia membujuk ibunya untuk berobat, tetapi Bu Mirna selalu menolak.


"Ibu nggak apa, Nduk."


Meski puluhan kali ibunya mengatakan 'nggak apa' tetapi Hania tetap saja khawatir. Apalagi ibunya terlihat pucat dan lebih kurus dari terakhir keluarga mereka lengkap dan bahagia.


Saat Hania memapah Bu Mirna ke kamar, tiba-tiba saja tubuh ibunya mendadak lemas, lalu jatuh pingsan.


"Bu ...! Ibu ...! Ibu kenapa, Bu? Bangun, Bu!" Hania sudah menumpahkan air mata. "Tolong ...!" Dia berteriak untuk meminta bantuan tetangga.


Lagi ... belum ada satu bulan Hania bolak-balik berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya, kini berganti dengan ibunya yang sakit.


Khawatir, cemas dan takut menyelimuti hatinya. Hanya ibu yang menjadi teman hidup dan kini mendapati ibunya sakit hal itu menjadikan Hania benar-benar takut andai dia kehilangan orang yang paling disayangi lagi.


'Tumben hari ini nggak jualan? Aku nunggu di tempat jualan kamu, nih,' kata Gea dari sambungan telepon.


"Aku nggak jualan, Ge. Ibu masuk rumah sakit."


'Hah? Sakit apa? Oke oke yah dah, aku kesana sekarang.'


"Kenapa, baby?"


"Antar gue ke rumah sakit, ibunya Hania dirawat."


Gaka terkejut, tetapi sebisa mungkin menutupi. "Apa urusannya, lo bisa kesana lain waktu."


"Bokap Hania baru meninggal, dan sekarang ganti ibunya yang masuk rumah sakit, Hania pasti sedih banget. Gue harus nemenin dia dulu."


"Kenapa segitu pedulinya lo sama dia?"


"Gue sahabatan udah lama, dan dia baik banget sama gue."


"Gue anter sampek depan rumah sakit ajalah. Males mau turun," ujar Gaka menahan kesal.

__ADS_1


"Iya, nggak apa. Lo pasti masih kesel sama dia gara-gara kemarin? Dia kalau sama cowok emang gitu, menjaga jarak."


Tiga puluh menit mobil Gaka sudah sampai di pelataran rumah sakit, Gea turun setelah berciuman mesra dengan sang kekasih.


"Maaf ya, kencan kita gagal. Besok bakal gue kasih dobel."


Gaka yang awalnya kesal sedikit melebarkan bibir. "Janji loh."


"Iya janji."


Setelah Gea melangkah masuk, Gaka tak lantas menghidupkan mesin mobil. Pria itu diam sejenak. "Nasibnya malang," ujarnya lirih. Tak tahu dua kata itu ditujukan pada siapa.


Tiga hari Abian bolak-balik datang ke tempat Hania berjualan tetapi warung yang berlokasi di pinggir jalan itu masih saja tutup.


Pria itu duduk di depan warung dengan tubuh lemas. Bukan karena lelah ataupun sedang sakit, melainkan merasa kecewa, kehilangan semangat dan juga penasaran.


Sebenarnya Abian sudah memiliki rasa pada Hania saat pertama kali melihat Hania berjalan keluar dari supermaket pada beberapa bulan lalu. Diam-diam pria itu mengikuti jejak Hania dan mengetahui Hania memiliki warung di pinggir jalan.


Dia sering memborong gorengan Hania hanya sekedar ingin mengenal gadis itu lebih dekat. Dia bahkan memiliki niat untuk berhubungan serius.


"Gea!!!" Tiba-tiba pemuda itu teringat dengan Gea. Dia ingat Gea dan Hania saling kenal, mungkin saja Gea tahu di mana gadis yang disukai secara diam-diam itu.


Abian memilih mengirimi pesan dari pada harus menelpon langsung. Dia tahu, Gaka dan Gea selalu bersama setiap saat.


Tak lama Abian mendapat balasan dari Gea, memberitahu apa yang terjadi dengan ibunya Hania. Pria itu bertanya alamat rumah sakit dan akan menjenguk kesana.


Abian baru saja berdiri, tetapi ponselnya kembali berbunyi. Tertera 'Om Haru'.


"Halo, Om."


'Abian, kemana Gaka, selalu tidak bisa dihubungi.'


"Abian tidak tahu, Om. Hari ini Abian belum bertemu Gaka."


'Om ingin dia mendatangi rumah keluarga yang kemarin dia tabrak untuk memberi uang kompensasi lagi. Bagaimana, ya? Atau ... kalau om minta bantuan kamu, apa kamu bisa?'


"Bisa, Om."


'Om sungkan harus mengutus orang lain, kalau dari pihak keluarga, setidaknya kita menghargai.'


"Iya, Om, benar."


'Nanti Om kirim alamatnya dan juga transfer uangnya. Terima kasih, Abian.'

__ADS_1


"Iya, Om, sama-sama."


__ADS_2