Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Kamu?


__ADS_3

"Sialan!" umpat Gaka dengan suara tertahan. Beberapa karyawan kantor terkejut melihat calon CEO terkapar di atas lantai. Sebagian dari mereka wajahnya berubah memerah. Bibir mereka tertutup rapat, namun ada juga yang menggigit ujung bibir dengan kuat untuk meredam suara tawa yang hampir pecah.


Apa yang dilihat mereka sangat lucu, tapi sayangnya mereka tidak bebas untuk mengekspresikan tawanya. Tidak mungkin mereka menertawai CEO mereka yang terjatuh, bisa saja besok pagi mendapat surat pemecatan.


Salah satu pria petinggi kantor mengusungkan tangan di depan Gaka, berniat untuk membantu namun diabaikan begitu saja.


Gaka bangun dengan wajah merah padam. Matanya melotot sempurna. Pria itu lantas menatap sekeliling dan menemukan seorang wanita mengenakan seragam biru. Yang tak lain adalah seragam cleaning servis. Dia menduga wanita itulah yang menyebabkan dia terjatuh. Membuatnya malu setengah mati.


"Lo yang ngepel lantai ini?!" sentak Gaka menatap tajam ke arah wanita itu.


Hania tertunduk, dia takut karena sudah mencelakai karyawan kantor. Pikirnya. Baru dua hari bekerja, sudah membuat kesalahan besar. Mungkin saja dia akan langsung mendapat surat pemecatan?


Hania yang tertunduk belum melihat ke arah Gaka. Terdiam dengan jemari saling bertautan. Dia gemetar takut.


"Heh, lo budek? Apa harus lo buka penutup kepala lo, baru bisa denger suara gue?!" bentak Gaka dengan suara keras.


"Orang yang memakai jilbab bukan berarti dia tuli, Pak. Kenapa harus menyuruh melepas jilbab. Saya mendengar yang Bapak ucapkan. Sebelumnya saya minta maaf, memang benar saya yang membersihkan lantai ini. Tapi saya sudah memasang papan peringatan di sana," ujar Hania menunjuk sebuah papan peringatan yang tadi dia taruh di depan lift. Namun, Gaka yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya tidak mengetahui papan peringatan itu, sampai akhirnya berakhir di atas lantai.


Deg ....


Gaka dan Hania saling menatap. Keduanya sama-sama terkejut. Beberapa saat keduanya terdiam.


"Lo?" Gaka.


"Kamu?" Hania.


Mereka saling berkata namun tanpa suara.


Tak lama terdengar embusan napas kasar dari hidung Gaka. Pria itu menjapit lengan baju Hania dan menyeretnya sedikit menjauh dari kerumunan karyawan.


"Cewek sialan! Nyebelin! Selalu bikin mood gue ancur. Gila! Parah lo, bener-bener parah! Kemarin-kemarin bikin gue kesel, sekarang bikin gue malu setengah mati." Gaka sungguhan marah terhadap Hania. Kedua bola matanya melotot sempurna, dengan raut wajah garang.

__ADS_1


"Maaf, saya beneran gak sengaja," kata Hania. "Lagian ... kamu yang ceroboh. Setiap jalan selalu sambil liatin hp, jadi gak tau kalau ada bahaya di depanmu. Punya mata itu digunain, antisipasi biar gak celaka," imbuhnya.


"Eh, Maesaroh! Elo yang salah malah nyalahin mata gue! Beneran, ya, kalau lo laki' dah gue gebukin sampai sekarat lo. Bener-bener bikin gue emosi." Gaka bertambah murka karena Hania justru menyalahkannya.


"Saya gak sengaja. Sumpah demi Allah saya gak sengaja. Baiklah, saya sungguh-sungguh minta maaf." Hania meminta maaf dengan menundukkan kepala sebentar. Dia tidak mau keributan itu menjadi panjang. Tetapi dia lupa siapa lawan bicaranya. Pria angkuh yang sulit dibantah.


"Gak segampang itu lo minta maaf. Gue udah terlanjur malu banget. Image gue ternodai. Lo harus gue bales biar impas. Rasain malu kayak gue!" tukas Gaka masih terlihat kesal.


"Kamu mau bales? Apa mau me-reka ulang kejadian barusan? Kamu bersihin lantai dan aku yang jalan sambil main hp, lalu aku jatuh kayak kamu tadi di depan banyak orang? Begitu?" Hania terpikir Gaka akan melakukan hal yang sama seperti tadi. Mereka ulang kejadian dengan hanya bertukar posisi saja.


Napas Gaka kembang kempis. Ingin sekali dia membenturkan kepala Hania ke dinding. Bagaimana bisa wanita itu berpikiran seperti itu. Bukannya membalas dengan membuat Hania malu, hal itu malah membuatnya malu dua kali. 'Dasar gadis gila!'


"Bodoh! Itu sama aja lo bikin gue malu dua kali." Dia mengutarakan pikirannya.


"La terus gimana?"


"Lo OB baru?" tanya Gaka.


"Oke, istirahat nanti lo temuin gue!" perintah Gaka.


"Emang kenapa harus temuin kamu lagi, bukannya aku udah minta maaf. Anggap aja udah impas."


"Gue gak ada waktu debat sama lo sekarang. Kita lanjut ini ntar siang. Enak aja impas." sinis Gaka berbalik badan dan berjalan menuju lift. Meninggalkan Hania bergeming di tempatnya.


Salah satu karyawan berkata. "Hati-hati, Tuan."


Namun kata itu seolah seperti ledekan bagi Gaka. "Diam!" sentaknya tanpa menghentikan langkah.


Semua karyawan menunduk dan menahan napas, membiarkan badan Gaka hilang ditelan lift.


Dan setelah lift itu tertutup rapat, barulah karyawan-karyawan yang berkerumun berani mengekspresikan gelak tawanya. Ada juga beberapa karyawan lain yang saling berbisik.

__ADS_1


"Tuan Gaka tadi jatuhnya lucu banget."


"Haha ... pasti pantatnya sakit."


"Gak kebayang malunya seperti apa."


"Padahal cara jalannya aja perfect banget, tapi pas jatuh lucu juga ya."


Sedangkan Hania masih terpaku di tempat. Kepalanya dipenuhi pertanyaan : kenapa Gaka ada di kantor itu. Dan kenapa Gaka memasuki lift khusus petinggi kantor? Apa jangan-jangan ...?


Akh! Membayangkan hal itu membuatnya bertambah takut. Dia berusaha mengabaikan rasa takut itu dan kembali ke tempat tadi untuk membereskan pekerjaan yang sempat tertunda.


Beberapa karyawan masih belum membubarkan diri. Bahkan ada beberapa orang yang justru mendekatinya.


"Lo baru dua hari kerja dah bikin calon CEO jatuh. Hebat, ya. Punya nyawa berapa lo?" ujar seorang karyawan berambut ikal sebahu. Wanita itu melayangkan tatapan sinis.


"Siap-siap bakal abis lo," sambung yang lainnya.


"Bukan cuma di pecat, bisa aja lo masuk penjara." Wanita bertubuh pendek ikut menggertak. Tapi Hania berusaha tenang. Toh, bukan seratus persen semua dia yang salah. Gaka saja yang meleng tidak melihat keadaan sekitar. Pria itu yang memang ceroboh.


"Kalau dipecat saya terima karena saya memang melakukan kesalahan. Tapi untuk di penjara, bukankah itu terlalu melebihkan. Kesalahan saya hanya membuat Gaka terjatuh, bukan membuatnya terluka parah." Hania berbicara berani agar mereka tidak semakin menjadi memojokanya.


"Eh, kok bisa-bisanya nyolot gitu. Lo gak sadar lo tuh cuma anak OB! Belagu banget omongan lo."


"Laporin sama Tuan Gaka, tamat riwayat lo!"


Hania menghela napas panjang. Sepertinya meladeni ucapan mereka hanya sia-sia dan membuang tenaga.


"Maaf, saya permisi." Dia memilih pergi agar tidak semakin berbuntut panjang.


Di ruangan Gaka. Pria itu menggebrak meja dengan kuat. "Sialan! Bisa-bisanya gue jatuh di depan karyawan. Cewek sialan! Dia bener-bener sialan! Semua gara-gara dia. Awas aja lo, gue bakal kasih balasan yang bikin lo susah!" Pria itu masih menggebu.

__ADS_1


__ADS_2