
"Enggak! Gue gak pa-pa." Dia menggaruk leher bagian belakang. "Semalam ... gue cuma kompres lo doang. Iya, gue cuma kompres lo doang, kok!" ucapnya gugup.
Hania tersenyum. "Apapun yang kamu lakuin, aku ucapin makasih. Lagian, aku lebih takut disentuh yang bukan halal."
"Hah?" Gaka terkejut mendengar kalimat Hania. Dari kalimat itu sepertinya Hania sudah tahu apa yang dilakukannya, tapi kenapa wanita itu tidak marah?
Dia terdiam dengan kening berkerut.
Hania tahu apa yang dipikirkan pria di depannya itu. "Meskipun aku tidak marah, tapi sama sekali aku tidak membenarkan perbuatan kamu, Mas. Itu sama saja kamu mencuri."
"Serius banget kata-kata lo. Emang gue nyuri apaan?"
"Kamu lebih paham apa yang kamu curi. Bahkan kamu melakukannya berkali-kali."
Gaka membuang pandangan ke arah balkon. 'Sialan! Berati bener dia dah tau semalam gue cium dia berkali-kali? Malu malu malu!' batinnya menerutuki perbuatan konyol semalam.
"Apa kamu tau di mana ponselku?"
"Gue gak tau."
Hania mengusap wajah. "Astagfirullahaladzim, pasti jatuh di jalan," gumamnya. Gaka menoleh. "Gea pasti menghubungiku. Apa kamu tadi bertemu Gea di kantor? Dia baik-baik aja 'kan?"
Gaka membuang napas perlahan. Dia bingung dengan apa yang dipikirkan wanita itu, harusnya Hania marah dengan Gea, tapi kenapa kebalikannya. Hania justru mencemaskan Gea. Aneh!
"Ya, dia khawatirin elo. Dia juga kesal gak tau lo tinggal dimana."
"Aku gak bisa hubungi dia. Ponselku hilang."
"Lo mikir gak kalau dia tau lo tinggal dimana, pernikahan kita bakal kebongkar."
"Jangan! Jangan sampai dia tau dulu." Hania menyahut cepat. "Menunggu waktu yang tepat, aku akan memberitahukan langsung padanya."
"Dia akan lebih hancur kalau tau hubungan kita dari orang lain. Gea adalah satu-satunya sahabatku. Aku sebenarnya tidak ingin menjadi penyebab kesakitannya," ucap Hania lagi.
"Bukan lo penyebab situasi rumit ini. Tapi Gue."
Hania membalas menoleh. Mereka kini saling menatap. Mungkin ini sejarah pertama kali seorang Gaka mau mengakui kesalahannya.
Hania meneteskan air mata. "Iya, memang kamu penyebab kesalahan ini, Mas. Kamu penyebabnya. Kamu yang jahat, bukan aku." Hania menunduk menyembunyikan tangis.
Gaka mengangguk. "Biar gue yang tanggung jawab." Setelah mengatakan itu Gaka bangkit dan pergi keluar kamar.
__ADS_1
Barulah Hania menumpahkan tangis. Entah nasib seperti apa yang sedang dijalani. Dia berada dipersimpangan begitu rumit. Apalagi setelah kejadian tadi malam, dia merasa takut akan dirinya sendiri. Takut lambat laun perasaanya tumbuh untuk pria itu, semua akan lebih rumit dan pelik.
Ke esokan harinya ketika semua berkumpul di meja makan.
"Sayang, kalau belum pulih gak usah kerja dulu. Kamu kerja di perusahaan suamimu, libur sebulan juga gak akan dipecat," ujar Vara.
"Aku udah sehat, Ma. Lagian, walau aku kerja di kantor milik suamiku, aku juga gak bisa seenaknya. Hania tetap karyawan biasa," balas Hania.
"Apa Mama lupa status pernikahan mereka tersembunyi," sahut Tuan Haru.
Seketika Vara menghentikan aktifitasnya menyendok makanan. "Oh iya, kenapa Mama sampai lupa hal itu." Pandangannya memutari semua orang yang ada di meja makan. "Lalu, kapan kalian akan mempublikasikan hubungan kalian?"
Gaka melirik Hania, membiarkan wanita itu saja yang menjawab.
"Sementara ini Hania nyaman seperti ini. Hania mohon pengertiannya."
Vara menghela napas. "Mama tidak tahu kenapa kamu juga ingin menyembunyikan status pernikahanmu. Tapi Mama harap kalian tidak merencanakan sesuatu yang buat kami kecewa."
Hania maupun Gaka tidak bisa menjawab. Mereka terbelit dengan pikiran masing-masing. Gaka masih belum jelas dengan perasaanya. Sedangkan Hania selalu menganggap Gaka adalah milik Gea, dia harus mengembalikan Gaka pada Gea. Dan suatu saat pria itu akan menikahi sahabatnya.
Di kantor.
Setelah turun dari mobil Gaka, Hania beralih memberhentikan ojek yang mangkal tak jauh dari kantor tempatnya bekerja.
Sebenaranya dia bisa berjalan kaki untuk sampai kesana, tapi pria itu terlalu berlebihan.
"Aku gak akan mati cuma jalan dari sini ke kantor. Dasar pria pemaksa," guman Hania masih terlihat kesal. Menghentakkan kaki dan cemberut.
Di balik mobilnya, Gaka justru tertawa senang. Entah kenapa dia sangat suka melihat Hania sedang kesal. Wajahnya garang tapi terlihat manis.
Buk!!!
Gaka memukul kepalanya sendiri. "Heh, mikir apa lo, Gaka! Dia Maesaroh, wanita paling nyebelin!" ucapnya.
"Tapi lucu juga sih." Dia tersenyum. Lalu detik berikutnya, "akh' lama-lama konslet juga otak gue." Kali ini menepuk kening sedikit kuat. Dan mulai melajukan mobilnya lagi.
Ojek yang ditumpangi Hania sudah berhenti di depan kantor. Setelah membayar ongkos, driver ojek itu pergi.
"Hay, Mbak." Al yang berdiri di depan post satpam menyapa Hania.
Bukannya fokus dengan Al, Hania justru melihat ke jalan raya, mengintai mobil Gaka sudah terlihat atau belum. Kalau sampai pria itu tahu dia berbicara lagi dengan Al, pasti pembahasannya jadi panjang.
__ADS_1
"Iya, Mas Al," balas Hania akhirnya. Dia tidak enak bersikap acuh pada Al.
"Kemarin Mbak gak masuk, ya?"
"Iya, lagi ada urusan. Mas, saya masuk dulu ya," pamit Hania.
"Kok buru-buru sih, Mbak. Orang-orang kantor juga belum banyak yang dateng, ngobrol dulu kek," ujar Al. Seolah tidak rela pembicaraanya sesingkat itu.
Diiiiiiiiiiin diiiiiiiiiiiiiinnnn!!!!!!!!!!!!
"Bos sialan! Ya Tuhan, musnahkan manusia itu dari muka bumi!" pekik Al sambil melihati mobil Gaka yang melintas di depannya.
Hania dan beberapa orang disekitarnya menutup telinga mereka. Menggelengkan kepala melihat mobil Gaka.
Pria itu baru turun dari mobil sudah memasang wajah garang. Melihat ke arah pos satpam dengan pandangan tajam.
"Bakal panjang urusannya," gumam Hania. Dia segera melanjutkan langkahnya.
"Selera melarat! Tetep aja sukanya yang melarat dan jelek!" ucap Gaka sengaja berbicara keras saat bersisipan dengan Hania.
Hania membuang napas kasar, dan menghendikan bahu.
"Gila ya cewek itu! Secepet kilat bikin mood gue berantakan!" Gaka mengepalkan tangan.
"Tuan, apa Anda berbicara sesuatu?" tanya Lili. Entah sejak kapan wanita berpakaian formal itu berdiri di belakang Gaka.
"Gue lagi pengen nonjok orang!" gumam Gaka. Tidak peduli dengan Lili yang terbelalak kaget, dia meninggalkan sekretarisnya begitu saja.
Di persimpangan lorong Hania bertemu dengan Gea.
"Han ...." Gea berlari ke arah Hania.
Hania tersenyum melihat Gea bergerak menuju ke arahnya.
"Syukur kalau kamu baik-baik aja. Aku khawatir banget sama kamu. Maafin aku, ya." Gea menyerobot memeluk Hania.
"Aku udah maafin kamu. Kata-kataku juga mungkin sangat keterlaluan. Wajar kamu marah sama aku. Aku juga minta maaf," balas Hania.
"Tapi kamu gak kenapa-napa 'kan? Gak ada hal buruk yang terjadi sama kamu?" Gea menyelidik tubuh Hania.
"Gak ada. Aku baik-baik aja."
__ADS_1
"Kenapa kemarin gak masuk? Nomer kamu juga gak aktif. Aku hampir gila mikirin kamu, Han," celoteh Gea.
"Maaf, kemarin aku demam. Mungkin gak biasa keluyuran malam-malam, langsung deh badanku demam. Ponsel ku juga hilang, aku gak bisa hubungi kamu."