Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Jangan Sentuh


__ADS_3

Pukul 17.20, Gaka melewati jalan yang tadi pagi dilewati bersama Gea. Saat melihat ke bahu jalan, pria itu tertegun melihat pemandangan seperti tadi pagi.


Seorang gadis muda dengan wanita paruh baya terlihat kesusahan mendorong sebuah gerobak. Gaka memperlambat laju kendaraanya. Tak dipungkiri, dia masih kesal dengan sikap Hania tadi pagi, akan tetapi melihat pemandangan di depannya, rasa kasihan hadir begitu saja dalam benaknya.


Lima belas menit kemudian Gaka sudah sampai di hotel tempatnya menginap. Pria itu menjatuhkan diri di sofa. Menarik sebelah tangan untuk menutup mata.


Dalam kegelapan, pemuda itu justru teringat dengan Hania. Bagaimana gadis itu sangat bersusah payah hanya untuk mendapat uang sepuluh ribu rupiah. Nominal yang sangat dan amat sangat tak berarti baginya. Bahkan kesenangannya harus merogoh kocek jutaan rupiah dalam semalam, tak ada seujung kuku dibanding nominal receh itu.


"Akh, anj***!!! Ngapain sih kepikiran?!"


Tapi lo ikut andil dalam kesengsaraan mereka. Mungkin aja karena ayahnya meninggal, kehidupan mereka semakin sulit. Hati Gaka berperang dengan pikirannya.


"***!!! Nggak ada hubungannya sama gue!"


Pasti ada! Bokap adalah imam keluarga, kepergian bokap gadis itu semakin mempersulit hidup mereka. Dan lo sebagai penyebab kematian bokapnya!!!


"Akh! Bangsat!!!" Gaka terbangun. "Hei, hati! Lo nggak pernah peduli dan belain orang. Kenapa sekarang tiba-tiba belain gadis itu?! Apa lo mau khianat sama yang punya badan?"


"Eh, kenapa gue jadi gila gini sih?!" Gaka memukuli kepalanya pelan. "Bodoh!"


Ceklek ....


"Siapa yang lo katain bodoh, Ka?"


"Yan! ******, ngagetin aja! Mati aja lo sana," umpat Gaka kesal. Melempar bantal sofa ke arah pemuda berwajah teduh yang barusan datang.


"Astagfirullah, bisa nggak kalau bicara itu yang baik-baik, nggak perlu berkata kotor begitu. Yang denger juga ikut dosa, Ka."


"Mulut dah hapal banget dengan kata kotor, jadi susah ngeremnya."


Abian duduk di samping Gaka.


"Ngapain lo ke sini?" Ada bau-bau tak enak melihat saudaranya datang membawa setumpuk map.


"Lo cek proposal itu dan pilah mana yang sesuai standar perusahaan."


"Alah, males gu ...."


"Nggak ada kata malas. Itu om yang suruh. Nomor diaktipin biar om gak susah hubungin lo. Gitu pesennya."


"Kalau gue aktipin nomer keluarga, nggak tenang hidup gue."


Abian tak menanggapi, pria itu berjalan menuju pantry mini di sudut ruangan, lalu membuat minuman. Tak lama dia sudah kembali membawa dua cangkir kopi.

__ADS_1


"Yan, lo pasti tau kalau gue abis nabrak orang sampai meninggal. Nah, keluarganya itu kesulitan dalam keuangan. Menurut lo, harga diri gue bakal rendah nggak kalau bantu mereka."


"Uhuk uhuk uhuk." Abian sampai terbatuk mendengar kalimat Gaka. Setelah menepuk da danya beberapa kali, Abian mulai tenang.


"Itu kek bukan pemikiran lo banget, Ka. Lo abis kesambet apaan bisa sewaras gini?"


"Sialan!" Gaka mendorong kepala Abian dengan kesal.


"Tapi gue dukung seratus delapan puluh persen dengan kewarasan lo."


"Ah, dah males gue bahas." Gaka bangkit menuju ke kamarnya.


"Woi, Ka. Berkasnya jangan lupa! Dua hari lo harus udah kelar. Kalau nggak! Hidup lo yang bakal kelar!" teriak Abian.


"Nggak peduli gue!" balas Gaka juga berteriak.


~


Hania menutup lembaran Al-Qur'an yang baru saja dibacanya. Wanita itu melepas mukena dan beranjak duduk di kursi meja belajar sewaktu dia masih sekolah. Tangannya meraih ponsel dan ternyata ada e-mail masuk dari salah satu perusahaan besar di kota Jakarta.


Andai, balasan e-mail itu diterima kala ayahnya masih hidup, tentu dia akan sangat senang. Namun, keadaannya sudah berubah, dia tidak mungkin meninggalkan ibunya sendirian, sedangkan kesehatan Bu Mirna juga kurang baik.


Helaan napas panjang menjadi penutup halaman e-mail yang baru saja dibaca. Keputusannya tidak mungkin berubah.


~


"Ngapain lo simpatik gitu, sih, Ka! Bukan lo banget kalau gini." Gaka melanjutkan perjalanannya. Meski hatinya ada setitik simpati, akan tetapi pikirannya berontak, tak perlu memikirkan gadis itu karena urusannya sudah selesai saat ayahnya sudah memberi uang kompensasi. Begitu pikirnya.


Gaka melajukan kendaraan menuju cafe karena akan menemui Gea di sana dan sepulangnya langsung ke hotel untuk bermain dengan sang kekasih.


Sore hari, sepulang mengantar Gea pulang. Gaka menghentikan mobilnya di bahu jalan. Pemuda itu hendak membeli sesuatu di toko seberang jalan. Namun fokus pandangannya hanya pada ponsel di tangan, tidak melihat keramaian sekitar.


Diiiiiinnnn!!!!!!


"Awas ...!!!"


Bruk ...!!!


Keduanya terjatuh di atas aspal.


"Kalau nyebrang pakek mata! Kalau mau bunuh diri jangan di jalan! Kasihan yang nabrak jadi tersangka padahal pejalan kaki yang goblok!" Seorang pengemudi mobil memarahi Gaka.


"Eh, bangsat! Lo yang hampir nabrak, lo yang marahin gue. Mau mati lo!!" balas Gaka dengan bola mata seakan mau keluar.

__ADS_1


"Sudah-sudah! Lihat, keributan kalian buat antrian panjang." Seorang lain melerai Gaka dan si pengemudi mobil.


"Mas, kasihan mbaknya, tangannya terluka. Lebih baik di ajak menepi dulu."


Gaka terkejut, dia sampai lupa dengan seorang yang tadi mendorongnya untuk menghindari mobil.


Setelah semua membubarkan diri, Gaka mendekati wanita yang masih menunduk dengan memegangi tangan yang luka.


"Lo nggak apa?"


Hania mendongak.


"Lo???" Gaka terkejut.


"Nggak apa," balas Hania singkat.


Gaka menarik lengan Hania untuk melihat luka ditangan wanita itu.


"Sakit! Jangan pegang tangan saya!" Hania menepis tangan Gaka.


"Gue cuma mau lihat luka lo. Kenapa? Lo kayaknya anti banget gue sentuh?!"


"Ya kita bukan muhrim, jadi jangan asal sentuh."


"Gue cuma sentuh tangan lo, bukan sentuh bagian yang sensitif. Nggak perlu segalak itu!"


"Saya lupa, kamu tipe-tipe umat neraka, mana ngerti batasan pria dan wanita."


Gaka kembali dibuat kesal dengan perkataan Hania. "Serah lo mau ngebacot, yang penting tunggu bentar di bangku itu!" Gaka menunjuk bangku yang tersedia di depan toko penjual minuman.


Hania melirik sekilas dan tidak peduli dengan perintah Gaka. Dia memunguti beberapa belanjaannya yang tercecer. Gaka sudah berlari entah kemana, dia tak peduli. Bahkan tak mengharap ucapan terima kasih.


Aksi penyelamatannya tadi sebagai reflek tubuhnya untuk menolong orang. Terlepas itu Gaka atau bukan, Hania akan tetap menolong.


Saat Hania melanjutkan langkah tanpa menunggu Gaka datang lagi, tiba-tiba tangan sebelahnya ditarik.


"Saya sudah bilang! Jangan pegang!"


"Huh dasar gadis sok suci!"


"Terserah apa katamu!" Hania melanjutkan langkah.


Gaka tampak tidak menggubris perkataan Hania, terbukti pria itu tetap memegang tangan Hania yang terluka. Pria itu membersihkan luka dengan cairan anti septik dan menutup luka di telapak tangan Hania dengan beberapa plester.

__ADS_1


"Ada luka lain nggak?"


Hania terdiam dengan tatapan tertuju pada Gaka.


__ADS_2