
Jam tujuh malam, ketika Gaka dan Hania sedang menikmati makan malam berdua, tiba-tiba ponsel Gaka berdering.
"Elah, kunti ngapain lagi, sih? Demen banget ganggu orang," gumam Gaka.
"Siapa, Mas?"
"Siapa lagi kalau bukan bestie lo."
Hania mengernyit tidak paham.
"Gea," kata Gaka.
Hania menghela napas panjang. "Dibaikin makin ngelunjak juga ya, Mas."
"Elo yang baikin."
"Awalnya aku simpati dan kasihan banget liat dia seperti itu. Tapi, makin kesini bikin kesel juga. Kalau emang lupa ingatan, kenapa harus pamer kemesraan dan kirim foto-foto gitu. Bukan itu aja, aku liat tatapan Gea juga seperti orang yang lagi menyembunyikan sesuatu. Apa aku terlalu suudzon?"
"Menurut gue, kunti kek dia mah gak perlu dikasihani. Kecelakaan kemarin emang azab buat dia. Yang gue sayangkan, kenapa Tuhan gak sekalian cabut nyawanya biar selesai semua."
"Mas, kamu ini ... kalau ngomong jangan ngawur begitu. Jaga bicaranya. Lupa, omongan itu adalah doa. Ingat, Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa berbicara baik."
'Dalam situasi apapun dia emang gak pernah lupa buat ceramahin gue. Ampun deh.' Mulut Gaka terdiam, tapi hatinya membatin.
"Dia telpon lagi, Mas," ujar Hania melirik ponsel Gaka karena layarnya menyala.
"Bodo' amatlah! Dia gak akan mati kalaupun gue gak angkat teleponnya. Palingan cuma ngomel-ngomel. Malam ini gue gak mau kemana-mana, kita lembur di atas kasur aja." Gaka benar-benar mengabaikan telepon dari Gea dan justru melanjutkan menyantap makan malamnya.
"Dia malah manja kalau dikit-dikit gue dateng. Mikirnya, 'kan elo yang istri gue, bukan dia," imbuhnya.
"Terserahmu lah, Mas," kata Hania.
Seusai makan malam, Hania mengajak Gaka untuk belajar membaca Iqra.
"Kamu bacanya salah, Mas. Itu bacanya syin bukan sin."
"Gue bacanya juga sin."
"Syin, Mas, bukan Sin. Kalau Sin emang sama hurufnya tapi gak ada titiknya," terang Hania.
"Elah, sama aja loh. Sama-sama sin."
"Beda, Mas."
"Disamain ajalah."
"Di kasih tau malah ngeyel," gumam Hania.
"Bodo' amat, gue bayangin malam ini ***-*** terus, malah diajarin ngaji. Mana gak kelar-kelar dari tadi." Gaka balas menggerutu.
__ADS_1
"Dosa kalau pas ngaji mikir yang lain-lain. Fokus, atau makin gak kelar-kelar. Mau tidur, enggak?" ancam Hania.
'Ngancem dia. Jurus andalannya sekarang suka ngancem.' Gaka melirik sebentar.
"Lanjutin lagi, Mas," titah Hania.
Gaka membenarkan pecinya, dan mulai fokus melihat lembar iqra di hadapannya. "Ra' zai sin syin."
"Besok diulang lagi yang halaman ini, ya, Mas, soalnya belum fasih baca syin nya."
"Iya, deh," jawab Gaka.
Selama ini Gaka memang sudah melakoni sholat lima waktu, semua bacaan sholat dihapal dengan cara mendengarkan dari aplikasi ponsel. Meski belum fasih, yang terpenting harakat dan pengucapannya benar.
Dan sudah menjadi rutinitas beberapa bulan terakhir setiap ada waktu senggang Hania akan mengajari Gaka membaca iqra. Maklum, di umur sampai kepala tiga, Gaka sama sekali tidak pernah mendalami bacaan iqra.
Awalnya pria itu menolak karena malu, tapi Hania terus membujuk sampai Gaka mau. Walaupun dibumbui dengan sedikit ancaman, tapi usahanya berhasil, sedikit demi sedikit Gaka mulai mau mendalami ilmu agama. Yah ... walaupun masih belum bisa menghilangkan kosa kata kasarnya. Setidaknya Satrya Higaka sudah berubah.
Kini mereka sudah berbaring di atas busa yang empuk. Tubuh keduanya saling berdempetan tanpa celah. Gaka tak pernah bosan mengendus ceruk leher Hania, bahkan sesekali menyesap dan meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Mas, kamu udah pengen cepet punya anak, ya?"
"Gak juga. Se-yang dikasihnya aja," jawab Gaka.
"Tapi, sehabis kita melakukan kewajiban itu, kamu selalu bilang pengen cepet ada bayi dalam perutku."
"Sebenernya aku juga udah pengen hamil. Mudah-mudahan Allah segera menitipkan amanah di rahimku."
"Aamiin." Gaka mengamini.
•
Di kantor Gaka.
Pria berjas putih itu mengernyit dalam ketika mengamati beberapa foto yang baru saja dibawa oleh Raga.
"Kemarin ada pria yang datang ke apartemen Gea, Bos. Katanya cukup lama pria itu ada di dalam." Raga melaporkan hasil pengintaian anak buahnya.
"Pria ini salah satu dokter yang menangani Gea. Tapi kenapa dateng ke apartemen Gea? Gak pakai baju seragam rumah sakit juga?" Gaka mengamati dan terlihat berpikir.
"Gini, Bos, jangan dari luar aja, tapi susun rencana pengintaian dari dalem juga."
"Maksud lo?"
Pria bernama Raga itu berbisik menyumbang sebuah ide. Gaka manggut-manggut setuju dengan ide yang diusulkan Raga.
"The best ide lo, Ga. Lo siapin semuanya, ntar pulang kantor gue langsung ke apartemen dia."
"Siap, Bos. Tapi ide tadi sebenarnya gak gratis, Bos." Raga menyengir sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Gak ada gratisan ke club. Lo minta yang lain aja."
"Gratis BO boleh, Bos?"
"Iblis! Lo kira gue mucikari!"
"Si Bos punya banyak kenalan begitu, pasti tau yang elite dan bening. Turunin ke gue lah, Bos."
"Hp gue udah bersih, gak ada simpan nomor gituan lagi. Dah dimusnahin semua sama bini gue. Gue tf aja buat lo jajan sendiri."
"Nah gitu juga gak apa lah, Bos."
Tring.
Gaka mengirim sejumlah uang ke nomor rekening Raga yang sudah memberinya ide cemerlang sekaligus menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan.
Sepulang kantor Gaka meminta izin pada Hania untuk datang ke apartemen Gea. Dan sekarang pria yang masih memakai baju formalnya itu sudah berdiri di depan apartemen Gea.
"Kamu kemana aja, sih, Ka? Di telpon gak diangkat sama sekali. Gue bingung mau cari lo kemana. Lo sengaja hindari gue?"
Baru datang sudah disembur dengan ocehan. Gaka meremas jemarinya sendiri, terasa gatal ingin sekali mencekik leher Gea supaya diam untuk selamanya.
"Sorry, sayang. Gue ada kerja lembur di kantor, makanya dari kemarin ponsel gak aktif. Kali ini gue harus berhasil menangin tender, karna tender kali ini mencapai milyaran. Kalau menang, gue bisa traktir lo sepuasnya." Gaka pura-pura tersenyum manis. Padahal dalam hatinya menahan geram setengah mati.
"Benarkah? Gue kira lo mau ninggalin gue. Kalau kondisi gue udah normal, hubungi dokter terbaik buat secepatnya operasi wajah gue, ya."
"Iya, makanya lo fokus buat sembuh. Biar kita juga bisa cepat menikah."
"Apa? Menikah?" Gea terbelalak karena terkejut. Rencananya hanya ingin merusak hubungan Gaka dan Hania, tapi mendengar Gaka punya keinginan menikahinya, hati Gea justru berdebar bahagia.
"Lo gak mau nikah sama gue?" tanya Gaka pura-pura.
"Mau. Mau banget. Tapi, gimana sama kelumpuhan kaki gue?"
"Gak masalah, lo gak harus ngelakuin apa-apa. Gue cinta lo itu tulus," ujar Gaka.
Saking senangnya, Gea lekas memeluk pinggang Gaka. 'Lo udah semakin masuk perangkap gue, Ka. Dan, lo, Han, gue akan rebut Gaka kembali dari lo. Ha ha ...." Gea tersenyum puas dalam hati.
.
.
Part campur-campur sampek bingung kasih judul. 😁
Maaf baru bisa up, menuju akhir Akak Mei malah sibuk ngurusin hadiah give away. Give Away kali ini khusus bingit nih, Akak Mei dah siapin hadiah spesial buat satu pemenang eksklusif.
Yang dah pernah dapet hadiah dari saya pasti tahu saya selalu mengedepankan kualitas. Pokoknya bukan kaleng-kaleng.😉 Makanya, yuk, terus dukung Akak Mei, kesempatan masih ada selagi cerita belum tamat. Dan saya pastikan akan tamat akhir bulan ini.
Hah? Akhir bulan ini? Berarti 7 hari lagi? Iyaps, betul. 👍🏻
__ADS_1