Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Pesan


__ADS_3

Tiga minggu berlalu.


Gea sudah pulang ke apartemen pemberian Gaka dulu. Padahal rencana Gaka, setelah Gea mendekam di penjara, dia akan mengambil kembali aset yang pernah diberikan pada wanita itu. Namun, semua itu gagal karena kondisi Gea yang sekarang.


"Sayang, diem aja, sih. Semenjak keadaan gue kek gini kayaknya sikap lo berubah banget ke gue," ujar Gea memandang sendu ke arah Gaka.


Beberapa saat lalu, Gea terus-terusan menelpon dan menyuruhnya untuk datang ke apartemen. Berasalan sedang menginginkan makanan dari cafe langganan mereka, lalu menyuruh Gaka untuk membelikan.


"Gue gak berubah, Ge. Lo aja yang selalu berpikir kek gitu."


"Gimana gue gak mikir begitu, sejak gue sakit, gue lumpuh, lo sama sekali gak pernah sentuh gue. Cuma cium juga pernah. Lo berubah, Ka. Wajar kalau gue berpikir begitu," ujar Gea.


"Gue ... gue lagi belajar berubah aja. Gue pengen hargai wanita, makanya gak mau sentuh lo sembarangan lagi." Ah, entah jawaban itu masuk akal atau tidak. Dia bingung untuk mencari alasan. Hanya itu yang terlintas. Buntu. Dia sedang bersama Gea, namun pikirannya tertuju pada Hania. Ingin sekali dia segera pulang dan bermanja-manja mesra bersama sang istri. Tapi, akhir-akhir ini Gea terus merecoki hidupnya. Menjengkelkan!


Mendengar jawaban Gaka, kening Gea mengerut dalam. Sangat aneh dengan alasan Gaka barusan. Yang dia ingat, Gaka adalah pria player dengan nafsu besar. Tidak ada angin, tidak ada hujan, bahkan dengan waktu singkat Gaka tiba-tiba berubah. Bukan hanya aneh, tapi sangat mengherankan. Begitu pikir Gea.


"Jawaban barusan kek bukan lo banget. Ada apa sama lo? Lo dulu pecandu wanita, gak mungkin tiba-tiba berubah. Gak masuk akal." Gea terus meruntut jawaban dari Gaka.


"Semua orang bisa berubah, termasuk gue. Ada seseorang yang buat gue berubah, ingin menghargai harkat seorang wanita. Dengan perubahan gue kek gini, apa lo gak suka?" Gaka menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Sama sekali gak suka. Gue kangen lo yang kemarin, yang romantis, dan yang bikin gue candu." Tangan Gea mengelus punggung tangan Gaka.


Ingin sekali Gaka menyingkirkan tangan Gea, tapi tidak bisa. Gea akan semakin merajuk dan curiga padanya. 'Akh, damn it!' umpatnya. Kenapa dia harus terlibat sandiwara memuakkan itu. Rasanya ingin hidup bebas seperti sebelumnya, tanpa adanya gangguan dari Gea.


Entah dia ingin menyalahkan siapa atas keadaan yang terjadi. Menyalahkan Tuhan? Sudah sering dia menyalahkan Tuhan, tapi keadaan tidak berubah. Atau menyalahkan kebaikan dan pemikiran Hania? Tapi mau bagaimana, dia tidak berkutik dan tidak bisa membantah permohonan istrinya itu. Dalam keadaan terpaksa dan dipaksa, dia tetap harus bersandiwara.

__ADS_1


"Datar banget pacaran model begini," ujar Gea lagi. Terdengar dia menghela napas kasar. Wanita itu menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Gaka. Saat itu Gaka mengernyit, memasang wajah was-was dan keheranan.


"Jangan-jangan lo udah gak cinta sama gue?"


"Kenapa selalu itu yang lo bilang, Ge?" Gaka hampir tak bisa menahan kesal. Dia seperti itu sebenarnya karena benar-benar muak terhadap sikap Gea.


'Pengen banget gue kasih lo racun mampus! Biar lo gak ganggu-ganggu gue lagi, dasar wanita setan! Gue sama sekali gak punya empati sama lo. Kalau bukan karna istri shalihah gue, sampek gue sekarat juga gak bakal sudi deket-deket sama lo! Tuhan Tuhan, kenapa kemarin gak dilenyapin aja sih. Dikasih hidup malah nyusahin banget. Kudu gue pikirin caranya, gue racun apa gue suntik mati ya?' Gaka terdiam dan bermonolog dalam hati.


'Astagfirullah, Mas, kamu mikirin apa? Membunuh adalah dosa besar, bisa-bisanya kamu ingin melenyapkan Gea? Kamu akan dihantui dosa besar seumur hidupmu. Neraka jahanam jaminannya setelah kiamat kelak.'


Gaka yang tadinya melamun tanpa sadar menggelengkan-gelengkan kepala ke kanan dan kiri. Saat terpikir ingin melenyapkan Gea, dia seolah mendapat teguran ceramah dari Hania. Meski sedang jauh dari Hania, ternyata pengaruh sang istri begitu kuat.


"Ka, lo kenapa?" Gea memegang pipi Gaka untuk menyadarkan Gaka dari lamunan.


"Gue gak pa-pa!" Gaka menangkis tangan Gea dari wajahnya. Risih dan jijik, rasanya.


"Gue ke dapur dulu mau ambil obat," pamit Gea.


"Emang lo bisa?" tanya Gaka.


"Bisa. Gue harus belajar mandiri biar gak terusan merepotkan orang lain."


Meski Gaka heran, tapi dia hanya memberi respon mengangguk. Dilihat waktu sudah setengah sepuluh malam, tapi dia belum bisa membuat alasan untuk pulang.


"Sialan! Brengsek! Bedebah! Lo bisa gini banget sama gue, Ka!" Gea meremas gagang sendok yang dipegang. Andai benda itu terbuat dari kaca, pasti pecah karena Gea meremasnya dengan kuat.

__ADS_1


Di rumah Gaka.


Meski badan terasa lelah, tapi rasa kantuk tak juga datang. Meski layar televisi menyala dan menyiarkan acara menarik, namun Hania tak sekalipun memperhatikan ke arah layar itu. Pikirannya berkelana ke apartemen Gea.


Karena dia tahu Gaka sekarang sedang ada di apartemen Gea.


Selama ini memang dia yang menyuruh Gaka untuk menemani dan menangkan Gea, namun entah mengapa dasar lubuk hatinya tidak pernah tenang. Seolah sisi hati yang lain sama sekali tidak membenarkan pikirannya.


Bahkan, terkadang juga merasa bersalah telah menjerumuskan Gaka pada sesuatu yang tidak seharusnya. Dia tidak tahu, lebih berat dosa karena menyuruh suaminya berdekatan dengan wanita bukan muhrim, atau lebih berat pahala kebaikan atas dasar kemanusiaan yaitu demi menolong nyawa seseorang.


Saat ini sudah lebih dari pukul sebelas malam, namun Gaka sama sekali belum ada tanda-tanda akan pulang. Pesan yang dikirim dari tiga puluh menit lalu juga belum tercentang biru.


Ingin sekali dia menelpon Gaka, tapi ada keraguan. Bagaimana kalau Gea tahu dia yang menelpon, Gea pasti curiga.


Ketika tak sengaja beralih melihat-lihat story WhatsApp, bola mata Hania terbelalak sempurna. Detik berikutnya memanas dan cairan bening mulai merembes keluar. Bahkan tak lama dia mendapat notif pesan baru.


"Mas ...," ucapnya lirih tenggelam dalam suara tangisan.


"Aku sangat percaya padamu, Mas. Apa ini salahku yang sudah meminjamkan dan mempercayakan mu pada Gea? Aku berharap kamu bisa menenangkan dan memberi Gea semangat, tapi bukan seperti ini."


.


.


.

__ADS_1


Jangan pusing-pusing ya readers. Gak akan lama kok part ini, mungkin dua episode lagi. Abis itu bakal ada part bahagia.


Ges, yang belum komen segera komen. Akhir cerita nanti Akak Mei bakal umumin pemenang give away atas penggemar setia dan apresiasi untuk komenan kalian. Bakal ada dua atau tiga pemenang yang akan mendapat hadiah give away dari saya. 😉


__ADS_2