Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Pesan Buat Si Jabang Bayi


__ADS_3

Malam hari yang amat suntuk dan mengesalkan bagi Gaka. Pria itu melirik brankar sang istri yang justru tertidur dengan damai.


Dia? Alih-alih tidur malah menahan dongkol setengah mati. Berbagai cara dan bujukan sudah diusahakan, akan tetapi tak membuahkan hasil. Masih tetap sama. Hania tidak mau didekati.


"Bedebah!" Tak henti mengumpat meski dengan nada lirih. "Kek gini banget, sih? Masih belum apa-apa kok udah ngerjain. Parah banget lagi! Liat aja kalau dia laki-laki, baru lahir udah gue ajak adu jotos. Ngeselin banget. Emak lo itu milik daddy lo yang ganteng ini, jangan lo rebut hak itu. Daddy pengen lo hadir di rahim Emak, tapi udah hadir malah jadi mala petaka gini. Lo ngajak musuhan?! Huh"


Panjang lebar Gaka mengungkap kekesalan pada calon anaknya. Andai Hania tahu, sudah habis dia dimaki dan diceramahi.


"Tiga bulan sepuluh hari. Tiga bulan sepuluh hari." Gaka terus teringat angka keramat yang dikatakan mamanya tadi. "Gimana nasib junior gue kalau pensiun selama itu? Dah gak bisa bangun lagi keknya?" gumamnya. Dia mengangkat ke-lima jarinya. "Senam jari? Yang bener aja senam jari selama itu, mana kuat jari gue. Yang ada ikutan kram dan bisa aja mati rasa." Dia mendengus.


Tak berapa lama bangkit, lalu keluar dari ruangan. Begitu keluar, lorong sudah sangat hening. Wajar karena saat ini tepat pukul satu dini hari. Gaka lumayan merinding melihati sepanjang lorong tak ada tanda-tanda kehidupan.


Di jalan, masih oke. Bahkan di pemakaman langsung dia tidak merinding seperti ini. Dia punya kenangan buruk tentang hantu rumah sakit, pernah melihat hantu sejenis suster ngesot. Dan itu masih melekat sampai sekarang.


Gaka terdiam sejenak. Mengusap tengkuk yang terasa dingin dan merinding. "Mana jauh lagi ruangan dokter," gumamnya. Dia memberanikan diri untuk tetap pergi ke ruangan dokter.


Tap tap tap. Tiga langkah, pria itu menoleh. "Aman, Ka, aman." Dia mengusap dada.


Tap tap tap.


"Tuan."


"Anj****!" Reflek Gaka melayangkan pukulan ke arah asal suara.


Bruk .... Satpam pria yang sering berkeliling untuk memastikan keamanan pasien tak luput dari pukulan itu. Dia tak bisa menghindar karena Gaka begitu cepat menggerakkan tangan.


"Lo manusia? Tangan gue kok sakit," gumam Gaka.


Pria yang tersungkur itu bangun. "Saya manusia, memang Anda pikir apa?" Mengusap-usap pipi yang terkena pukulan.


"Ngapain lo ngagetin gue!" sentak Gaka.


Sakit! Sudah kena bogem, pakai di sentak pula. Apes dan kasihan sekali nasib satpam itu. "Saya manggil ingin bertanya, bukan sengaja mau ngagetin Anda."


"Oh." Se-entengnya Gaka mengangguk tanpa dosa memukul orang sembarangan. "Eh, anterin gue ke ruangan dokter."


"Ruangan dokter cuma lewat satu lorong, Tuan."

__ADS_1


"Ya pokoknya anterin."


"Anda takut?" Satpam itu menyipitkan mata.


"Takut? Ha ha ... takut apa? Gue gak takut sama sekali." Gaka tergelak. Berbohong demi menjaga image dong.


"Ya sudah Anda kesana sendiri. Saya masih ada kerjaan buat berkeliling lagi," ujar satpam tadi.


"Cih. Dikira takut, keliling ruangan rumah sakit juga gue berani." Gaka berkata sambil melanjutkan langkah. Dalam hati menahan takut, menahan kesal juga.


Brak ... Gaka membuka pintu dengan napas terengah. Dua perawat sangat terkejut.


"Tuan."


"Hah hah! Mana dokter?"


"Dokter siapa yang Anda cari?"


"Dokter yang nanganin istri gue."


"Eh, ribet banget, sih. Banyak tanya. Istri gue namanya Hania Putri Azahra, di rawat di kamar Edelwis 01. Yang lagi hamil tapi ngidamnya ngeselin. Ngajak perang batin. Gue mau ketemu dokternya buat konsultasi masalah ngidam istri gue!"


Dua perawat di depan Gaka sama-sama bengong. Bukan hanya kalimatnya yang panjang, tapi Gaka berbicara dengan napas ngos-ngosan.


"Heh!" sentak Gaka geram dengan dua perawat yang masih diam.


"Ya-yang tanggung jawab ruang Edelwis Dokter Nindi. Sebentar saya panggilkan." Salah satu perawat keluar untuk memanggil dokter yang disebutkan tadi.


Lima menit kemudian.


"Ada apa tengah malam mencari saya, Tuan. Apa terjadi sesuatu dengan istri Anda?" Dokter Nindi bertanya.


Saat tadi pagi Gaka menonjok salah satu dokter kandungan, dokter itu sudah tidak mau bertanggung jawab atas Hania. Menyerahkan tanggung jawabnya kepada rekan sesama spesialis obgyn. Jadilah Dokter Nindi yang menggantikan.


"Tadi gue udah tanya, tapi gue gak sabar buat tanya lagi." Gaka menjeda kalimatnya. Dokter Nindi masih menunggu kata selanjutnya.


"Gimana cara ngilangin aksi ngidam istri gue?"

__ADS_1


"Maksud Anda aksi ngidam Nona yang tidak mau dekat-dekat dengan Anda?" Dokter memastikan.


"Iya."


Dokter Nindi menggaruk pinggiran pelipis. Bagaimana dia akan menjawab. "Ngidam ibu hamil tidak bisa dihilangkan, Tuan."


"Lo 'kan dokter, lakuian apa ajalah biar ngidam itu bisa hilang. Gue bayar mahal, deh."


"Walau Anda menyogok saya dengan iming-iming bayaran mahal, dan walau saya juga tergiur, tapi apa yang bisa saya lakukan. Saya cuma bisa memeriksa keadaan Nona, tapi tidak bisa membantu menghilangkan aksi ngidamnya."


"Saran saya, Anda bersabar untuk menunggu ngidam Nona selesai," imbuh Dokter Nindi.


Gaka melotot. "Sabar? Gue kudu sabar selama tiga bulan satu minggu. Begitu!?"


Dokter Nindi mengerut. Dia tidak tahu dari mana suami dari pasiennya itu menentukan aksi ngidam pasiennya. Dia yang sebagai dokter saja tidak pernah tahu dengan waktu ngidam para pasien. Karena hal semacam itu tidak bisa ditebak atau diprediksi.


"Dari mana Anda tahu istri Anda tidak mau didekati selama itu?" Dokter Nindi justru bertanya.


"Katanya emang segitu. Gila 'kan? Parah. Tiga bulan satu minggu gue gak bisa deket sama Hania. Apa bedanya gue sama duda, hah!"


"Gak bisa gini terus. Dokter harus lakuin sesuatu, buat Hania ngidam yang lain aja. Mau dia minta apapun gue turuti. Asal jangan jauh-jauh dari gue. Dia mau minta mobil termahal, rumah terbesar atau mau keliling dunia bakal gue turuti."


Dokter Nindi tak henti mengernyitnya dahi. Sudah dijelaskan kalau dia tidak bisa berbuat apapun untuk aksi ngidam Hania, tapi Gaka terus mengucap permintaan.


"Hei, bicara, jangan diem aja! Atau ... gini aja." Gaka tersenyum setelah menemukan sebuah ide. Dia tidak bisa dekat dengan Hania, juga tidak bisa menyentuh perutnya, tapi dokter pasti bisa.


"Karna gue gak bisa deket Hania dan gak bisa negosiasi sama calon anak gue, jadi dokter aja yang sampein pesan gue. Bilang sama calon anak gue, kalau ngidam jangan yang nyusahin dan jangan ngeselin. Kalau masih kayak gini, siap-siap aja nanti pas lahir gue musuhin. Dah, katakan itu sama calon anak gue."


Dokter Nindi memundurkan kepala dengan mata terbelalak.


.


.


Hiburan semata ya. Otak Gaka emang rada-rada, minta ditempeleng biar gak makin oleng.


Setelah ini baby nya akan launching. Cewek atau cowok mintanya? Nyari nama juga masih belum nemu. 🥴

__ADS_1


__ADS_2