Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Belum Bisa Memaafkan Sepenuhnya


__ADS_3

"Saya sudah bilang, jangan sentuh saya sembarangan," ucap Hania lirih namun penuh penekanan.


"Gue barusan cuma nenangin Gea. Dia tadi marah karna gue ninggalin dia gitu aja." Gaka menjelaskan maksud pembicaraannya dengan Gea, padahal Hania tidak memintanya.


"Saya sama sekali gak minta penjelasan. Yang saya minta, tolong lepasin genggaman tangan kamu."


Perlahan Gaka melepas cekalan tangannya dari tangan Hania. Wanita itu berjalan menjauh.


"Kita udah jadi suami istri, jangan kaku gitu. Ngomongnya biasa aja biar enak di dengar," pinta Gaka. Pria itu mengikuti Hania duduk di sofa.


"Iya, nanti saya ...," ucapan itu terhenti saat Gaka melototkan matanya.


"Iya iya, selanjutnya aku, kamu," ralat Hania.


Keduanya diam sesaat, larut dalam pikiran masing-masing.


"Kenapa kamu gak ketempat Gea?"


Gaka menoleh. "Lo nyuruh suami lo buat pergi nemuin cewek lain?"


Kening Hania berkerut. "Hubungan kita yang terakhir, sedangkan kamu dan Gea memang lebih dulu memiliki hubungan."


"Walau gue sama Gea lebih dulu punya hubungan, tapi hubungan kita lebih sah."


Hania menatap Gaka, mencari tahu apa maksud dari ucapan itu. Namun Gaka terlihat serius. Hania memutus lebih dulu dan menunduk.


"Lo beneran suka tipe-tipe cowok melarat kayak satpam itu?"


"Tadi aku udah jelasin, aku sama Mas Al cuma berteman."


"Lo manggil dia mesra gitu!"


"Hah, mesra gimana? Aku cuma manggil Mas Al. Mesranya dimana?"


"Lo manggil gue di depan Mama dengan sebutan Mas. Lo juga manggil cowok melarat itu mas. Gue gak mau sebutan gue disamain!" tegas Gaka.


"Aku terbiasa manggil pria siapapun dengan sebutan Mas. Kalau gak mau sama, harus cari sebutan lain."


"Bukan gue yang harus diganti sebutannya, kalau bisa gak usah ketemu lagi sama cowok melarat itu!"


"Pertemuan kami dari pertama kali gak pernah terencana, begitupun tadi siang, tiba-tiba aja Mas Al berhenti di depanku. Dan kami cuma ngobrol biasa."

__ADS_1


"Tapi kenapa pakek acara makan eskrim?"


"Cuacanya panas, dan dia traktir beliin eskrim, rezeki gak boleh ditolak, kan?"


"Rezeki apaan! Gue juga mampu cuma beliin eskrim, sekalian pabrik eskrim juga bisa gue beli."


"Percaya kamu bisa beli apapun. Tapi tadi siang kan kamu gak ada."


"Gue ada. Lo aja yang gak tau!" Gaka mendengus.


"Kamu pergi sama Gea, aku pikir kamu menghabiskan waktu dengannya." Hania tersenyum tipis.


"Gue khawatir lo kesasar, makanya gue belain pergi buat cari lo. Besok lagi kalau pergi kemanapun minta anter supir. Lo pendatang baru di kota ini, jangan sembarangan pergi sendiri."


Hania tersenyum dan melirik Gaka. "Kamu khawatir?"


"Hah? Eng-enggak. Siapa yang khawatir. Jangan besar kepala!" Gaka menutupi rasa gugup. "Kalau lo kesasar, ujungnya bakal gue yang repot nyariin lo. Gitu, maksud gue," kilahnya.


Hania mengangguk. "Tenang aja, sebisa mungkin aku gak akan merepotkanmu."


"Aku tadi mau ngasih kejutan buat Gea, tapi dia lebih terkejut dengan kedatanganmu." Hania memainkan ujung baju untuk mencari kesibukan. Selain itu, dia tak mau terbawa suasana yang kembali membuatnya sedih.


"Kita sama-sama gak tau." Hania mengangkat bahu.


Keheningan cukup lama membuat Hania canggung duduk bersama Gaka. "Kamu bisa pindah ke kasurmu?"


"Apa?"


"Aku mau tidur. Kamu pindah dari sini," usir Hania.


Ah, Gaka lupa kalau mereka tidur terpisah. Bahkan Hania sejak pindah ke rumahnya memang tidur di sofa.


"Punggung lo gak sakit tidur di sofa?"


"Lebih baik sakit punggung daripada tidur dalam ketakutan."


"Gue bakal bicara sama bokap nyokap buat kita pindah rumah. Di rumah sendiri, lo bakal bebas ngelakuin apapun," ujar Gaka.


"Bukan itu aja. Boleh aku minta satu hal sama kamu?"


Gaka mengangkat sebelah alisnya. "Apa?" Dia dibuat penasaran dengan permintaan Hania yang sepertinya sangat serius.

__ADS_1


"Boleh aku kerja lagi?"


"Untuk apa? Lo gak usah capek-capek kerja. Lo tinggal bilang mau minta nafkah berapa. Seminggu seratus juta juga gue mampu."


"Mulai congkaknya," gumam Hania mengangkat belah bibirnya. "Aku percaya kamu sanggup memberiku nafkah dengan jumlah fantastis. Tapi bukan itu masalahnya. Aku ingin bekerja karna bosan gak ada kegiatan apapun.


"Dan, satu lagi. Kamu gak perlu memberiku nafkah."


Deg ....


"Apa maksudmu?" Gaka mencondongkan badan.


"Selama kita gak terlibat kontak fisik, itu artinya kamu gak wajib memberiku nafkah."


"Gak mungkin. Gue tetep kasih lo nafkah uang bulanan."


Hania menggeleng keras. "Aku akan berdosa bila menerimanya. Kabulin aja permintaanku, ijinin aku kerja lagi."


"Oke. Lo bisa kerja di kantor lagi. Besok gue konfirmasi pihak HRD buat pindahin lo ke bagian lain, bukan sebagai cleaning servis."


"Jangan! Biarin aja aku masih tetep jadi clening servis. Akan jadi pertanyaan orang-orang kalau tiba-tiba aku pindah ke bagian lain."


"Oke, serah."


~


Pagi hari rutinitas masih sama. Gaka pergi ke kantor bersama Tuan Haru, sedangkan Hania tinggal di rumah bersama Vara. Melakukan aktifitas memasak, berkebun dan nonton televisi bersama. Itu sangat menyenangkan.


"Han, Mama senang tiada terkira Gaka bisa menikah denganmu. Mama yakin, pelan-pelan sikap Gaka bisa berubah. Kamu pasti bisa merubahnya."


"Jangan berharap banyak, Ma. Hania gak bisa merubah apapun. Kalau Mas Gaka berubah lebih baik, itu semua karna izin Allah. Allah lah yang maha membolak-balikan hati manusia."


"Kamu sangat lembut, Han. Itu yang membuat Mama yakin kamu bisa melunakan hati Gaka. Tolong bersabar untuk mengenal hati Gaka. Dia sebenarnya memiliki sikap baik, hanya saja berubah semenjak kami jarang ada waktu buat dia. Dia menjadi anak pemberontak dan berandalan. Tapi Mama tahu, dia begitu hanya karna ingin dianggap. Salah kami dulu tidak memperhatikannya. Dia merasa kami tidak sayang padanya. Kami menyesal, kami memanjakan tanpa memberi bimbingan." Vara meneteskan air mata. Dia sedih mengingat sikap buruk anaknya tak luput dari perannya yang gagal menjadi seorang ibu.


"Jangan sedih, Ma. Insya Allah, Mas Gaka bisa berubah. Kita sama-sama bersabar."


Vara meraih tubuh Hania dan memeluknya. "Mama gak nyangka Allah mau mengabulkan doa Mama." Vara melepas pelukan dan menghapus air matanya. "Semenjak Mama melihatmu, Mama selalu berdoa semoga Allah mau berbaik hati mendekatkan kamu dan Gaka. Tapi sayangnya kalian bersatu dalam keadaan kurang baik. Maafin Gaka, ya, sayang."


Hania meraih tangan mertuanya untuk digenggam. "Insya Allah, Ma."


'Maafin Hania, Ma. Apa yang dilakukan Gaka sulit untuk ku terima. Aku belum bisa sepenuhnya memaafkan apa yang dilakukannya padaku. Karena kesalahannya, aku harus kehilangan doa untuk bertemu orang yang ku sukai. Aku juga harus merelakan harapanku, tidak ada kesempatan untuk bersama pria yang masih aku tunggu sampai sekarang.'

__ADS_1


__ADS_2