Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Menghujat Tapi Penasaran


__ADS_3

"Hati-hati di sini, sayang, jaga hati selalu buat gue," ucap Gea.


"Kebalik Ge, aturan gue yang bilang itu," balas Gaka tersenyum.


"Abis ini langsung pulang jangan mampir kemana-mana! Sering-sering kasih kabar. Oke!" pesan Gea.


"Oke, baby."


Setelah Gea tak terlihat, Gaka bergegas untuk pulang. Beruntung hari weekend, dia bisa bersantai seharian penuh. Semalam berada di club, lalu pukul setengah empat pagi datang ke apartemen Gea dan berakhir main celup-celup sampai dua ronde. Semua itu sungguh menyenangkan sekaligus melelahkan juga.


Ketika meninggalkan pelataran bandara, langit belum begitu terang, saat ini masih pukul setengah enam pagi.


Beberapa kali Gaka menguap, rasa kantuk hampir tidak bisa ditahan. Laju kendaraan hanya berkecepatan sedang, dia sangat berhati-hati ketika berkendara, tidak ingin pengalaman buruknya waktu itu terulangi lagi dan bisa saja mencelakai orang.


Rasa kantuk belum menghilang, Gaka memutuskan berhenti di supermarket untuk membeli minum dingin dan juga camilan. Setelah masuk dan mendapat apa yang dicari, dia berniat kembali ke parkiran. Sampailah dia di samping mobilnya.


"Ini banyak sekali, Bu."


Dahi Gaka mengernyit. Sepertinya dia mengenali suara itu. Menoleh ke samping, dan melihat wanita berjilbab hitam tengah berbincang dengan seorang ibu paruh baya.


"Cewek nyebelin dengan selera melarat itu lagi. Kenapa di mana-mana ada dia, sih? Udah kek hantu aja." Meski menggerutu, tapi tidak beranjak juga, masih tertarik mendengar percakapan keduanya yang saling menolak sejumlah uang.


"Ini ibu bagi sama rata, Han. Ini jatah kamu, separuhnya buat ibu."


"Perjanjiannya tidak begitu. Hania dapet 30 persen, ibu yang 70 persen."


"Kemarin ibu bilang begitu karna belum tau cara kerjamu. Ibu kebantu banget, jadi gajinya kita bagi sama rata, ya."


"Masya Allah, ibu baik banget. Makasih ya, Bu."


Dari tempatnya berdiri Gaka bisa melihat raut bahagia di wajah Hania. Tapi dia belum mengerti dengan topik perbincangan kedua wanita itu. Saling menolak sejumlah uang, tapi pada akhirnya justru memuji.


"Sama-sama, Han. Lumayan 'kan uangnya bisa ditabung buat bayar kos-kosan. Mudah-mudahan bulan ini banyak lemburan, jadi dapet lebih dari ini."


"Amiin," ucap Hania mengamini doa ibu tadi.


"Ibu duluan, ya, Ica ditinggal sendiri, takut nyariin nanti."


"Iya, Bu."


"Eh, Han ...!" panggil ibu tadi. Hania kembali berhadapan.

__ADS_1


"Ibu lupa kalau hari ini Ica ada acara dari guru mengaji. Boleh minta tolong untuk hari ini gantikan tugas nyapu jalan sampai sore ya. Kamu libur kerja 'kan?"


"Iya, Bu, gak apa, nanti biar Hania aja yang kerja sampai sore."


"Untung ada kamu, ibu gak susah cari-cari orang buat gantiin tugas ibu. Ya susah, ibu duluan, ya. Assalamualaikum ...."


"Wa'alaikum salam."


Hania beranjak pergi, sedangkan Gaka yang tadi mencuri dengar pembicaraan itu acuh tak acuh masuk ke dalam mobil nya.


Saat keluar dari parkiran supermarket, sekitar 50 meter di depan sana dia kembali menemukan Hania yang sedang menyapu di pinggir jalan. Lagi-lagi dahi Gaka mengerut, menepikan mobil lagi di pinggir jalan dan mengamati lebih seksama. Entah kenapa keberadaan Hania akhir-akhir ini seolah menjadi daya tarik tersendiri baginya.


Terlihat Hania menghampiri seorang kakek pedagang asongan, duduk dan memberikan bungkusan kecil. Terlihat juga membeli dagangan kakek itu. Wanita memakai rok biru tua itu terlibat perbincangan dan tertawa renyah. Tak sadar Gaka melengkungkan bibirnya, terhipnotis dengan tawa Hania.


Plaaakkk! Gaka menampar mulutnya sendiri. "Jangan gila Gaka! Otak mulai konslet nih!" Setelah menggerutu, dia kembali melihat ke arah Hania. Wanita itu masih ada di sana.


Gaka turun dari mobil, berjalan sedikit jauh untuk sampai pada titik itu. Titik di mana mereka berada.


Terdengar suara sepatu mendekat, Hania dan kakek itu mendongak. Bola mata Hania membulat. 'Ahli neraka lagi!' batinnya.


"Astagfirullah hal'adzim." Hania beristigfar. Tidak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba pria yang sama sekali tidak disukainya itu sudah berdiri di depannya. Ngapain dia di sini?


"Kenapa lo istigfar, kek liat hantu aja!" celetuk Gaka.


"Huh!" Gaka mendengus.


"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Hania keheranan.


"Kenapa?" Gaka bingung menjawab, dia pun tidak jelas kenapa ingin bergabung dengan mereka. Gak jelas banget gue ini!


"Gue mau beli kopi." Gaka mencari alasan. Entah masuk akal atau tidak, cuma itu yang dipikirkan.


"Kek, bikinin kopi." Gaka memesan pada kakek yang menjual minuman keliling.


"Tunggu sebentar, Nak."


Gaka mengambil duduk di tengah, antara Hania dan kakek tadi.


"Kenapa duduk di sini, sih. Di sebelah kanan kakek itu masih lebar tau!" Hania mengomel lirih, tapi Gaka tidak peduli.


"Ini kopinya, Nak." Kakek memberikan kopi buatannya kepada Gaka. Dan pria itu mengambilnya tanpa mengucap apapun.

__ADS_1


Melihat itu Hania menghela napas panjang dan menggeleng kecil.


"Kek, Hania pamit mau lanjut nyapu lagi ya," ujar Hania meminta izin untuk kembali melakukan pekerjaannya.


"Iya, silahkan. Makasih ya, Nak, cucu kakek pasti seneng banget dapet jajanan dan sedekah dari kamu."


"Sama-sama Kek." Hania berdiri dan meraih gagang sapu.


Gaka mengikuti pandangan wanita itu. "Eh, lo ngapain nyapu-nyapu jalanan? Kurang kerjaan banget," ucapnya.


"Emang ini kerjaan saya," jawab Hania singkat. Malas, sebenarnya dia malas berurusan dengan pria itu. Rese' dan kurang berakhlak.


"Lo lupa gak boleh keluar dari kantor bokap gue kalau hutang lo belum lunas?"


"Saya gak lupa dan saya juga gak keluar."


"Terus?"


"Ini kerja sampingan buat kebutuhan sehari-hari."


"Sok susah. Emang duit dari bokap gue lo hamburin kemana?"


Hania tak ada niat meladeni, dia memilih berbalik dan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Gaka tak mungkin mengejar, dia sadar akan terlihat bodoh bila melakukan itu.


"Dasar selera melarat. Kurang ajar banget pergi gitu aja!" Gaka menggerutu marah.


"Kamu kenal sama perempuan baik itu, Nak."


'Baik apaan begitu!'


"Dia bawahan saya di kantor."


"Setiap bertemu dengan kakek, gadis itu selalu memberi makanan buat cucu kakek, kadang titip amplop juga. Di jaman sekarang, ternyata masih ada gadis sebaik itu, memikirkan orang lain padahal diri sendiri susah."


"Kakek tau cerita dia dari mana?" Gaka terlihat tertarik dengan cerita si kakek.


"Dari Asih tukang sapu jalanan juga."


"Gadis itu pendatang baru yang nge-kos di ujung jalan sana. Dia juga sering beli jualan kakek buat dibagi ke anak-anak di sini. Pokoknya baik banget."

__ADS_1


Gaka terdiam. Dia melihat Hania yang berjarak sekitar 10 meter darinya. Dia berkata menghujat, tapi entah mengapa selalu penasaran dengan gadis itu.


__ADS_2