
Di sini mereka berada sekarang. Kamar luas dengan fasilitas mewah. Dinding bercat putih berpadu padan dengan abu-abu tua.
Bruk ....
Gaka menjatuhkan tubuhnya di samping Hania. Wanita itu masih belum sadar. Butuh perjuangan untuk memapah tubuh Hania masuk ke dalam ruangan itu.
Dia sendiri berjalan sempoyongan, dan harus memapah Hania. Itu sangat sulit tapi beruntungnya dia masih memiliki tenaga.
Jadilah mereka kini berada di satu ranjang. Satu ranjang? Iya, satu ranjang.
Perlahan napas Gaka teratur, dia membuka mata dan melihati wajah Hania. "Bangun woi!" ucapnya lirih.
Netranya bergerak kesana kemari, sedang berpikir. Orang pingsan butuh kenyamanan, mungkin saja pakaian Hania yang tertutup membuat wanita itu kurang nyaman. Dia berinisiatif membuka jilbabnya.
Glek ....
Gaka menelan air liur bulat-bulat. Ternyata keputusannya untuk membuat Hania nyaman justru berbalik pada diri sendiri yang menjadi tidak nyaman.
Cantik, ternyata Hania sangat cantik tanpa kain lebar yang selalu menutup sebagian kecantikannya. Dia mengelus pipi dengan jari telunjuk, lalu berhenti di area bibir yang terpoles liptin pink natural. Bibir tipis itu menggoyahkan akal waras Gaka sehingga ingin menempel dan menyesapnya.
Sugesti puncak kenikmatan membuat Gaka lupa akan segala hal. Dia lupa siapa wanita yang saat ini berada di atas ranjang yang sama dengannya. Dia Hania, gadis alim yang selalu berusaha menjaga marwahnya. Bahkan selalu menutup aurat dari pandangan laki-laki. Bukan seperti gadis-gadis yang biasa ada di sekelilingnya.
Dia takkan puas hanya dengan mencuri ciuman pertama Hania, rasa penasaran itu semakin menginginkan lebih dan lebih lagi. Pengaruh alkohol membuatnya lupa dengan gadis yang ada dalam kungkungan nya saat ini. Marwah gadis itu tak lagi di pikirkan. Yang ada hanya ingin mencapai puncak kenikmatan.
Hania meringis saat inti tubuhnya terasa ada yang berbeda, suhu tubuhnya terasa dingin seolah tanpa mengenakan baju. Dia belum sadar sepenuhnya. Tapi sayup-sayup mendengar suara berat seorang pria. Bahkan helaan napas seseorang terasa sangat nyata terdengar di telinganya.
"Nikmat sekali malam ini. Gue rindu, sangat merindukan lo." Setelah berkata dengan suara berat, dia kembali membungkam mulut Hania sambil menggerakkan anggota tubuhnya dengan bebas.
__ADS_1
Naas, pada saat itu Hania mulai sadar dan langsung membuka mata sepenuhnya. Dia terdiam beberapa detik untuk meyakinkan apa yang dilihat dan dirasa. Lalu, dia benar-benar tersadar dengan apa yang terjadi.
"Astagfirullah hal'adzim ...." Hania mendorong pria itu sekuat tenaga. Napasnya tersengal dan terbangun dengan gerakan cepat. Inti tubuhnya terasa sakit, tapi hatinya lebih sakit lagi.
"Apa yang kamu lakukan!?" Hania menjerit. Seketika air matanya tumpah ruah. Dia menarik selimut dengan gerakan kasar, menutupi paha dan lengan yang terekspose. Di badannya hanya tinggal tank top yang tersingkap, juga rok plisket yang tersingkap sampai sebatas perut.
Gaka terlempar ke ujung ranjang, pria itu memegangi kepalanya yang seolah berputar-putar. "Ge?"
"Saya Hania, tolong lihat saya, saya Hania." Tangan Hania terkepal dengan memukuli selimut. Tidak bisa tergambarkan perasaannya sekarang, yang jelas hancur. Bahkan sangat hancur.
"Han-Hania?" ulang Gaka. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala.
Siapapun yang melihat pria itu, mereka langsung bisa menilai bahwa Gaka sedang dalam pengaruh alkohol.
Hania menjangkau gelas di atas meja samping tempat tidur. Dia mengayunkan gelas itu tepat di wajah Gaka. Air yang ada di gelas langsung membasahi wajah pria itu.
"Kenapa kamu lakuin ini? Kenapa? Aku, Hania! Hania. Aku, Hania. Tolong lihat aku, aku, Hania. Apa kamu tidak bisa melihat aku adalah Hania." Berkali-kali Hania berteriak menyebut namanya, dia ingin menyadarkan pria breng-sek di depan nya bahwa dia adalah Hania, bukan Gea, atau wanita lain yang mungkin sering di tiduri pria itu.
"Kamu menyentuh tanganku rasanya aku ingin membunuhmu, apalagi sekarang kamu mengambil paksa sesuatu berharga yang sama sekali bukan hakmu. Aku benar-benar akan membunuhmu!" ujar Hania penuh kemarahan.
Pyaaar ....
Gelas kosong dipukulkan ke atas meja, hingga pecah dan menyisakan serpihan potongan yang tajam. Hania mengacungkan itu di depan Gaka. Seolah dia gelap mata dan ingin sekali melenyapkan pria itu.
"Aku akan membunuhmu!" ucapnya menatap nyalang.
"Maafin gue. Gu-e gak sengaja. Gue gak sadar," ucap Gaka memasang waspada. Ujung pecahan gelas itu sangat runcing dan terlihat tajam. Setajam kilat kemarahan di mata Hania.
__ADS_1
Hania tidak peduli. Dia menyerang Gaka, tapi pria itu menangkap pergelangan tangan Hania dan menahannya.
"Jangan seperti ini!" sentak Gaka berusaha untuk menyadarkan Hania.
"Kamu menghancurkan ku. Kamu jahat, kamu brengsek! Aku membencimu." Hania menggunakan gerakan penuh, dan Gaka juga berusaha menghalau pecahan kaca itu agar tidak mencelakainya.
Sraaak ....
"Akh'!" Hania berteriak. Pecahan gelas yang dihalau oleh Gaka justru mengayun pada lengan nya. Seketika darah segar keluar dari lengan kirinya.
Gaka merebut paksa pecahan gelas lalu membuangnya asal. "Lengan lo terluka." Gaka mengambil kemeja Hania, menyobek dan memaksa untuk membebat lengan yang terluka dan terus mengeluarkan darah itu.
"Lepas!!! Menjauh!! Jangan sentuh saya!" Hania meronta dan mendorong Gaka dengan satu tangannya, tapi tenaganya tidak sebanding bahkan sedikitpun tidak mampu menggeser tubuh Gaka.
"Lo bakal kehabisan darah kalau bergerak terus."
"Biarkan darah ini habis. Biarkan! Kamu jahat, Gaka! Kamu pria brengsek." Suara Hania melirih, dan beberapa saat berikutnya tubuhnya melemas. Dia kembali tak sadarkan diri dengan berada di dekapan Gaka.
Jantung Gaka berdebar kuat. Dia sendiri hampir tidak sadar dengan keadaan yang diciptakan.
"Sialan! Kenapa jadi begini? Gue gak sadar, bener-bener gak sadar. Akh' ... brengsek!" Gaka sendiri berteriak frustasi. Perlahan dia merebahkan tubuh Hania dan menutupi dengan selimut.
Dia sendiri segera memakai pakaian dengan lengkap. Keluar kamar dan mencari pekerja hotel untuk meminta kotak p-3K.
Mengobati lengan Hania yang terluka dan membebat kasa dengan benar. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi. Di depan cermin dia membatu. Apa yang sudah dia lakukan rasanya sulit di percaya.
"Sialan! Kenapa gue bisa lepas kontrol." Gaka menjambak rambutnya kuat-kuat. Dia bersalah dan dia menyesal. Kenapa dia menyeret Hania berada di situasi ini? Kenapa wanita itu yang dia hancurkan. Bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
__ADS_1
Setelah membasuh wajah. Dia keluar dari kamar mandi. Melihat ke arah Hania yang ternyata masih belum sadar. Dia tidak tahu harus melakukan apa bila wanita itu sadar dan kembali meraung.