
Rencana Gaka untuk pulang lebih awal harus gagal karena jadwal kantor yang padat. Dia ingin, tapi dia tak punya kuasa untuk membatalkan jadwal yang sudah direncanakan.
"Satu pertemuan ini udah selesai 'kan? Awas kalau abis ini lo cegah gue balik. Gue gak peduli apapun, bakal kabur dari kantor!" Sedari keluar ruangan dan menuju ruang rapat, Gaka tak henti mengomeli Lili. Dia ingin pulang, tapi selalu dicegah.
Apalagi sewaktu mengirim pesan pada Hania dan tidak mendapat jawaban, bahkan seluruh karyawan kantor yang berpapasan dengan pria itu dipelototi dan dimaki.
'Dasar bos gila. Kalau bukan karna gaji besar, udah cabut dari kantor ini,' desis karyawan yang baru saja mendapat plototan dari Gaka.
Terlebih dengan sang sekretaris, bukan hanya plototan mata dan makian saja, bahkan beberapa kali mendapat bentakan dari Gaka meski dia tidak melakukan apapun.
'Untung ganteng, kalau jelek, langsung aku undur diri,' batin Lili.
•
Setelah agenda rapat terakhir selesai, Lili segera memberi izin Gaka pulang. Dengan begitu telinganya tidak akan panas lagi mendengar bentakan bos killer nya.
Pukul dua siang Gaka meninggalkan kantor. Dia sedari tadi khawatir dengan keadaan Hania, untuk itu dia ingin segera pulang tanpa menunggu jam kantor usai.
Di tengah perjalanan, pria itu terlintas ingin membelikan makanan untuk Hania. Akhirnya membelokkan setir mobil menuju salah satu Cafe langganannya.
Baru memasuki Cafe, dia disambut oleh seorang waiters.
"Tuan, apa Anda ingin pesan ruang VVIP?"
"Enggak. Gue di sini aja," balas Gaka. "Gue mau pesen makanan buat dibawa pulang," ujarnya.
"Baik, silahkan Anda pilih makanan yang akan Anda pesan." Waiters itu memberikan buku menu. Sedangkan Gaka lekas mencontreng makanan yang akan di pesan.
Gaka duduk santai dengan pandangan menyusuri layar ponsel. Pria itu sama sekali tidak terganggu dengan hiruk pikuk pengunjung cafe. Bahkan, ini pertama kalinya bagi Gaka duduk berbaur di ruang yang sama dengan pengunjung cafe lainnya. Karena biasanya dia memesan ruang VVIP.
"Hei ... Satrya Higaka!"
Gaka langsung menoleh ke sumber suara. "Hai, Jo." Dia memasang senyum singkat menyambut kedatangan Jo, seorang manager di Cafe itu.
"Gue hampir gak ngenalin lo. Rapi banget," ujarnya sambil mengambil duduk di depan Gaka.
__ADS_1
"***! Lo ngeledek gue!" umpat Gaka. Yang justru disambut gelak tawa oleh Jo.
"Serius, lo rapi dan keren banget kalau pakek seragam kek gini."
"Manusia tengik! Lo kira gue aparat, dibilang pakek seragam! Tolol!"
"Santai santai! Emosi mulu'! Tapi pantes sih kemarin ada tragedi besar antara pacar lo sama cewek lain lagi ributin lo. Cewek macam manapun pasti klepek-klepek liat pesona wajah bad boy kek lo," cerita Jo.
Sudah lama Gaka menjadi pelanggan di cafe itu, hingga Jo sangat hapal. Bahkan mereka cukup dekat karena umur merekapun tidak jauh.
Gaka mengerutkan kening, dia mengalihkan pandangan dari ponselnya dan fokus pada Jo.
"Maksud lo apa?" Gaka memasang wajah bingung.
"Lo gak tau kejadian kemarin? Heboh banget sampek masuk tranding topik."
"Lo jangan bertele-tele! Ngomong yang jelas," ujar Gaka mulai tidak sabaran.
"Oke-oke!" Jo mengangkat tangan, seolah takut dengan Gaka. Dia tahu Gaka adalah pria dengan tempramen buruk.
Deg ....
Gaka mulai mengarah pada seseorang. Apa yang dimaksud cewek yang memohon agar tidak dilepas jilbabnya itu adalah Hania?
"Lo cek aja di sosial media, banyak yang upload," ujar Jo.
Tidak menunggu lama, Gaka langsung membuka media sosial yang sebenarnya sudah lama tidak dibuka lagi. Dia sangat penasaran dengan kebenaran cerita Jo.
Begitu sosial medianya terbuka, ada banyak notif yang menumpuk. Bahkan ada sebagian yang menandai dirinya.
Pria itu fokus men-scroll sampai bawah dan mendapati pengikut Gea mengupdate video dengan judul 'Pelakor berkedok alim'.
Dari judul saja membuat Gaka tidak nyaman. Apalagi saat memutar video dan mendapati wanita yang dipermalukan Gea adalah Hania, seketika diselimuti kemarahan. Satu tangannya terkepal kuat, sampai buku tangan memutih.
"Sialan!" desisnya. Gaka menggebrak meja begitu mengetahui Gea menampar pipi Hania sebanyak dua kali. "Benar-benar brutal! Awas aja, gue gak bakal baikin lo lagi," gumamnya.
__ADS_1
"Eit, lo boleh emosi tapi jangan bikin pengunjung cafe takut," ujar Jo memperingati. Dia takut melihat wajah Gaka sudah memerah berarti pria itu sedang dikuasi emosi.
Gaka semakin murka melihat Abian datang sebagai pahlawan untuk Hania, bahkan dia yang berstatus suami justru tidak mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya kemarin. 'Damn it!'
Namun, ucapan Abian diakhir membuat Gaka menghela napas panjang. Terbongkarnya pernikahan mereka bisa menjadi penolong Hania.
Selesai menonton video, Gaka langsung menghubungi seseorang. "Gue kirim video, tugas lo hapus semua video yang sama. Jangan ada yang tersisa satupun!"
'Susah itu, Bos,' jawab seseorang diseberang sana.
"Berani alesan gue tutup Bar kecil lo. Tapi kalau berhasil, gue kasih imbalan besar," ujar Gaka.
'Woke, siap deh.'
Selesai berbincang dari sambungan telepon, Gaka berpamitan pada Jo untuk segera pergi. Padahal pria bernama Jo itu masih melontarkan banyak pertanyaan, tentang kebenaran status Gaka benar sudah menikah atau hanya berbohong. Gaka tidak peduli, pria itu sudah melenggang keluar.
Mengendarai mobilnya, Gaka tak henti melontarkan umpatan. Dia kesal, marah, dan emosi. Semua berbaur menjadi satu. Dia kesal karena Hania tidak memberitahukan apapun padanya. Marah, karena Gea nekad dan tega mempermalukan Hania dengan cara seperti itu. Sedangkan emosi, karena Abian lah yang datang dan bisa melindungi Hania, bukan dirinya. Andai dia tidak sibuk dengan urusan kantor, mungkin saja dia bisa meluangkan lebih banyak waktu.
"Akh' !!!!!" Dia berteriak dengan menggebrak setir mobil. "Awas aja! Gue bakal bikin perhitungan sama lo, Ge. Lo sampek permaluin Hania seperti itu."
Sampai di rumah, Gaka berjalan cepat masuk ke rumah. Pria itu membanting bungkusan makanan di atas meja dan langsung menuju kamar Hania.
"Tuan Gaka." Kepala pelayan ternyata sudah berada di belakang Gaka.
"Apa dia di kamar?"
"Nona ada di kamar baru saja tertidur."
Mendengar itu Gaka melambatkan langkahnya. Niat menggebu untuk menemui Hania perlahan surut. Dia tidak mau menganggu waktu istirahat Hania.
"Apa ada yang perlu saya siapkan, Tuan?"
"Enggak. Lo pergi aja."
Perlahan Gaka membuka pintu kamar Hania, dia melihat wanita itu tertidur pulas dengan selimut menyelimuti sebatas dada. Menghirup udara dan dengan hati-hati dia menghampiri ranjang Hania.
__ADS_1