Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Sakit


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ....


Berulang-ulang Gaka mengetuk pintu bercat coklat di depannya, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda handel pintu akan bergerak.


Tok ... tok ... tok ....


"Lama banget, sih? Apa dia tau kalau gue yang datang, makanya gak mau buka pintu?" ucapnya pelan. Malam ini dia harus ketemu, kalau tidak, hidupnya tidak akan tenang.


Ceklek ....


Gaka terkejut, ternyata pintu itu tidak terkunci. Dia diam dan menimang sebentar, apakah langsung masuk atau menunggu sahutan dari dalam.


Toeng ... Pria itu sedikit membuka pintu untuk mengintip ke dalam. Sayup-sayup mendengar suara rintihan.


"Maesaroh?" Kali ini sudah masuk ke dalam. Dia tidak peduli jika penghuni kos akan murka. Firasatnya tidak baik-baik saja.


Saat dia masuk, dia terbelalak kaget melihat kondisi Hania tergolek lemah dan di lengan kirinya ada noda darah yang merembes membuat kemeja putih Hania berwarna merah. Kemeja itu kemeja yang sama seperti semalam.


Hania terpejam, namun bibirnya merintih kesakitan. Tanpa pikir panjang Gaka menggendong wanita itu untuk dibawa ke rumah sakit.


Hanya sekitar 20 menit, Gaka sudah sampai di rumah sakit, dia memanggil perawat untuk segera memindah dan merawat luka di tubuh Hania.


"Apes! Apalagi ini," gumamnya tidak jelas. Khawatir, takut, bersalah, tidak tahu lagi bagaimana men-diskripsi kan perasannya.


Dia menduga kondisi Hania melemah karena seharian hanya menangis tanpa mempedulikan lengannya yang terluka. Wanita itu pasti merasa terpuruk.


"****! ******!" Gaka menyurai, lalu menjambak rambut bagian belakang. Duduk lemas di kursi tunggu. Perasaanya harap-harap cemas.


Tidak lama dokter terlihat keluar. "Keluarga pasien?"


"Iya, dok?"


"Tuan Gaka." Dokter itu terkejut saat mengenali pria yang ada di hadapannya.


"Gimana keadaannya?"


"Demamnya tinggi disebabkan luka di lengan kirinya, Tuan. Saya sudah menjahitnya. Dan kondisinya lemah juga disebabkan perutnya tidak terisi. Kemungkinan besok pagi sudah membaik, Tuan." Dokter menjelaskan dengan detail.


Gaka mengangguk. "Gak ada yang bahaya 'kan?"

__ADS_1


"Tidak, Tuan, Anda tidak perlu khawatir. Kalau ada apa-apa, Anda bisa panggil saya. Saya permisi dulu."


"Tunggu!" cegah Gaka.


"Ya, Tuan?"


"Informasi ini jangan menyebar. Dan jangan beritahu apapun pada papa."


"Baik, Tuan."


Sebagian dokter lawas di rumah sakit besar di Ibu Kota pasti tahu siapa keluarga Tuan Haru. Tuan Haru dan Vara sendiri hampir setiap bulan selalu datang untuk check-up


Kriet .... Gaka membuka pintu dan masuk ke ruang rawat Hania. Wanita itu sudah tidak merintih, tapi masih belum sadar.


Gaka menghirup udara dan menghelanya perlahan. Duduk di samping brankar Hania.


Hampir saja nyawa di depannya melayang karena ulahnya. Lagi-lagi dia melakukan dosa besar. Dia tidak menyangka Hania sampai seperti ini. Andai tadi tidak datang, mungkin nyawa Hania tidak tertolong.


Sampai pukul dua dini hari Gaka baru bisa terpejam. Sesekali dia terbangun karena wanita yang terbaring lemah itu terus mengigau.


Mentari menyambut hari, kicau burung tak mampu membangunkan tidur Gaka. Sampai suara serak dan berat berhasil membuatnya terbangun.


"Apa sih?!" Gaka terbangun dan mengusap wajah sambil menguap. "Bangsat! Pinggang gue sakit banget." Berjam-jam tidur dengan posisi duduk membungkuk. Wajar bila pinggangnya sakit.


Gaka melihat Hania. "Lo dah bangun?"


Hania tidak mau menjawab dan membuang muka. "Kenapa saya harus di sini? Dan kamu! Lagi-lagi kenapa kamu!"


"Gini nih, udah ditolongin malah ngomel-ngomel," ujar Gaka ikut terbawa emosi.


"Saya gak mau lagi liat kamu. Menjijikan," gumam Hania lirih. Namun Gaka masih bisa mendengar.


"Emang dari pertama juga lo udah jijik 'kan sama gue. Udah kek liat najis. Muka paripurna gue lo samain sama barang haram." Gaka menyolot.


"Semalam kalau gue gak bawa lo ke rumah sakit, lo bakal mati. Semalaman gue tungguin sampek pinggang berharga gue sakit, bukannya terima kasih malah bikin sakit hati!" Pria itu tidak henti mengoceh.


Hania terdiam. Semalam pun dia berpasrah, jika takdir nyawanya dicabut, dia benar-benar pasrah. Badannya lemas, tidak bisa keluar untuk meminta bantuan orang lain. Tapi, rasanya enggan untuk berterima kasih kepada pria yang telah membuatnya seperti demikian.


"Nih, cek 1 milyar buat ganti malam kemarin." Gaka memberikan itu di atas tangan Hania.

__ADS_1


Secepatnya Hania menoleh, kedua sudut matanya mulai tergenang cairan bening. Napasnya tidak beraturan, dia murka dengan apa yang dilakukan Gaka. Kehormatannya dihargai satu milyar, apa yang dilakukan menjatuhkan harga dirinya.


"Dengar Tuan Gaka yang terhormat, gak semua hal bisa dibeli dengan uang. Saya sama sekali tidak butuh uang itu! Dan apa yang kamu lakukan ini semakin membuat saya muak dan membenci orang sepertimu."


"Emang susah ngomong sama lo. Baik ditanggepin nyolot, dikasarin ujung-ujungnya nangis." Gaka terlihat jengah.


"Dengerin juga, malam itu gue gak sengaja, gue juga lagi mabuk. Kepala gue pusing banget. Oke deh, gue minta maaf. Sekarang lo tinggal bilang aja mau lo gimana, gue ngikut. Asal dengan satu syarat, jangan sampai lo cerita masalah ini sama Gea."


Tes .... Air mata itu menetes, Hania segera menghilangkan jejaknya. Dia lupa, orang yang telah menodainya adalah pacar dari sahabatnya sendiri. Ini sangat menyakitkan.


"Saya tidak setega itu, kalau saya cerita sama Gea, sama aja saya nyakitin dan menghancurkan dia."


"Kemarin lo telpon Gea, katanya lo mau cerita, apalagi yang mau lo ceritain kalau bukan masalah ini?" tuduh Gaka.


"Itu hanya alasan aja. Saya telpon karna ingin minta bantuan untuk merawat saya. Saya gak kasih tau keadaan saya karna gak ingin dia khawatir."


"Jadi, mau lo gimana sekarang?"


"Jangan pernah temuin saya lagi. Sampai kapanpun saya tidak mau bertemu kamu lagi."


"Kalau gak sengaja ketemu?" tanya Gaka.


"Menghindar dan pura-pura tidak tau."


Kening Gaka mengerut. "Keknya gak bisa. Lo sahabatnya Gea, suatu saat gue nikah sama Gea, lo bakal diundang dan pasti dateng 'kan?"


Hania terpejam sebentar. "Setidaknya saat itu hati saya udah sembuh."


"Oke. Kalau gitu, gue minta lo terima cek ini. Lo bisa hidup baik."


"Caramu seperti ini merendahkan harga diri saya. Apa kamu pikir uang itu sebanding dengan apa yang kamu rampas?" Hania kembali tersulut emosi.


"Maksud lo kurang? Lo minta 2 m, 3m, 4m atau 5 m?" tawar Gaka.


"Kamu ingin tau apa yang ingin saya minta?"


"Apa?"


"Nyawa kamu!"

__ADS_1


"Gila lo!"


__ADS_2