Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Harusnya Gunain Cara Ampuh Dan Keren


__ADS_3

"Hei! Lo bilang apa? Hah!!! Siapa pemilik toko ini? Panggil dia kemari!" bentak Gaka.


"Mas, jangan begitu!" Hania terkejut mendengar bentakan Gaka yang keras.


"Mau apa cari pemilik toko kami? Cuma mau beli ponsel murahan aja belagu. Sok-sokan mau ketemu pemilik toko," sinis pegawai tadi.


Cetak!!! Pyaaarr!!!!


Gaka membanting ponselnya ke etalase toko. Bukan hanya ponsel, bahkan etalase terbuat dari kaca ikut pecah dengan suara keras. Dan berserakan..


Semua yang ada di sana terpaku dengan jantung berdebar. Tak menyangka akan terjadi keributan panjang.


"Bangsat itu mulut! Mau mati lo!!!" bentak Gaka dengan suara menggelegar. Tak puas sampai di situ, dia kembali membuat ulah menendang etalase bagian bawah.


"Mas!!!" Hania memekik dan memegangi lengan Gaka. "Istigfar, Mas. Apa yang kamu lakuin."


Gaka diam dengan napas memburu. Masih menatap nyalang ke arah pegawai toko yang bergetar ketakutan.


"Ka-kalian membuat keributan. Apa kalian sanggup mengganti rugi semua kerusakan material di toko kami!" Pegawai itu gemetaran, tapi terlihat memaksakan diri menggertak Gaka.


"Ki, lo liat ponsel yang dibanting pria itu?" Satu pegawai lainnya berbisik ditelinga temannya yang terlibat keributan dengan Gaka. Wanita itu mengarah pada ponsel yang kini tinggal terlihat casing belakangnya saja.


Wanita itu terbelalak lalu detik berikutnya mengkerut. Bahkan dia tahu ponsel yang dibanting Gaka adalah ponsel paling mahal di toko mereka. Harganya mencapai seratus juta rupiah.


Wanita itu menelan ludah susah payah. Sekarang tubuhnya benar-benar bergetar ketakutan.


"Ada apa ini!?" Seorang pria menggunakan pakaian rapi menghampiri sumber keributan. Wajahnya mengeras melihat tokonya berantakan.


"Maaf, Pak, orang ini mengacau di toko kita," adu pegawai toko tadi.


"Ada masalah apa Anda membuat keributan di sini?" Ternyata pria yang baru datang ternyata adalah si pemilik toko ponsel.


"Dia udah hina gue miskin!" Gaka menunjuk tepat di wajah wanita itu.


Pemilik toko itu mengarah pada pegawainya yang ternyata bernama Kiki.


"Mereka melihat-lihat deretan ponsel harga mahal, tapi akhirnya cuma beli yang harga dua jutaan aja, Pak," jelas Kiki.


"Denger baik-baik! Gue bisa beli toko ini detik ini juga. Bahkan deretan semua toko yang ada di jalan ini bisa gue beli.


Dan, buka biji mata lo lebar-lebar. Liat muka gue!" Gaka membuka topi dan maskernya. "Gue Satrya Higaka, pemilik perusahaan SAG Grup!"


"Lo mau jual toko ini berapa? Gue beli sekarang juga!" ucap Gaka.


Semua yang ada di sana tentu saja sangat terkejut. Bahkan Kiki yang mengetahui itu terduduk lemas.


"Mas, ini udah berlebihan. Tolong jangan seperti ini, Mas." Hania berkaca-kaca.

__ADS_1


"Berlebihan bagaimana? Mulut murahan itu yang berlebihan." Gaka masih saja mengincar Kiki.


"Hei! Punya otak tuh di pakek, jangan asal bicara ngerendahin orang. Apa seperti ini cara lo layani pembeli? Gak semua pembeli memilih barang mahal, semua orang punya selera masing-masing. Otak lo gak dipakek buat mikir. Harusnya lo hargai pembeli."


"I-iya, Tuan. Mohon maafkan saya. Maafkan saya." Pegawai itu sampai berlutut.


"Tuan Gaka, maafkan sikap pegawai saya." Pemilik toko itu ikut meminta maaf. "Atas kesalahannya, saya akan langsung pecat dia."


Gaka diam saja. Bernapas memburu dengan menatap tajam ke arah Kiki. Amarahnya belum mereda.


Hania mengusap pipi yang terdapat air mata, lalu berjongkok di depan Kiki. Memegang kedua lengan dan menuntunnya untuk bangun. Hania tersenyum.


Kiki terkejut dan terus melihati Hania. "Maafin saya, Mbak. Maafin saya," ucapnya.


"Saya juga minta maaf sudah menimbulkan kekacauan ini."


"Tidak, Mbak. Tidak! Saya lah yang memulai keributan."


"Lain kali jangan merendahkan orang lain. Bukankah Mbak di sini juga sebagai pegawai? Bagaimana kalau kejadian ini terjadi padamu, apa kamu bisa baik-baik saja? Ambil pelajarannya, Mbak. Hargai orang lain, maka kamu juga akan dihargai orang lain."


Gaka menghela napas panjang. Bagaimana Hania masih bisa bersikap lembut kepada orang yang sudah merendahkannya. Bahkan kemarahannya saja belum hilang, tapi Hania begitu sabar dan baik.


"Mas, minta maaf sama pemilik tokonya. Kamu yang buat kekacauan ini," bisik Hania.


Gaka melotot. "Kok gue?! Material yang rusak itu gak ada bandingannya sama harga ponsel gue," ucapnya.


"Yang banting ponsel kamu ke etalase siapa?"


"Ada yang nyuruh, gak?" tanya Hania.


"Gak ada." Gaka menggeleng.


"Kalau begitu, siapa yang salah dan harus tanggung jawab?"


"Masa' gue juga?" ujar Gaka.


"Terus siapa?"


"Mereka lah. Atau pegawai laknat itu!" tunjuk Gaka.


"Mas! Bisa gak sih bicara yang baik. Katanya kamu bisa beli toko ini. Masa' ganti rugi gak bisa."


Gaka membuang napas kasar. Pria itu membuka dompet dan mengeluarkan kartu tanpa batas. Dia memberikan itu kepada pemilik toko. "Total semua kerugiannya. Dan bungkus dua ponsel yang sama seperti punya gue tadi."


"Baik Tuan."


"Tunggu! Besok akan ada orang suruhan gue buat beli toko ini. Lo bisa cari toko lain buat pindah tempat."

__ADS_1


"Mas, buat apa harus beli toko segala. Itu berlebihan, Mas," ujar Hania.


"Toko ini memiliki sejarah kurang mengenakan. Biar aja gue ambil alih dan gue musnahkan."


'Astagfirullah, lama-lama kamu yang akan dimusnahkan,' batin Hania.


Hania sudah tidak mau meladeni Gaka. Dia beralih pada pemilik toko. "Pak, kalau pun pindah tempat, tolong Mbak Kiki jangan dipecat, ya. Kasian. Saya yakin dia pasti akan berubah."


"Iya, Nona."


"Saya bukan Nona, saya Hania." Hania tersenyum dan berbalik untuk meninggalkan toko itu.


Gaka tidak bisa mengejar karena si pemilik toko belum selesai menghitung jumlah kerugian.


"Mbak ... Mbak!"


"Ya."


Kiki menyusul langkah Hania. "Sekali lagi saya minta maaf. Dan juga makasih, ya, Mbak."


"Iya, sama-sama."


Hania memilih menunggu di samping mobil Gaka. Dia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di antara lengan tangan. Punggungnya bergetar.


Gaka yang baru keluar dari toko menyapu sekitar tempat parkir. Dia panik tidak melihat Hania. Apa wanita itu pergi dan kabur.


"Maesaroh!" panggilnya.


"Aku di sini, Mas." Hania berdiri.


"Lo abis nangis?" tebak Gaka.


"Enggak."


Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil. Sepuluh menit mobil itu melaju di jalan raya, keduanya diam tak bersuara.


"Apa menjadi orang kaya harus sombong dan seangkuh itu, ya, Mas?"


"Maksud lo?"


"Apa semua musti ditanggepin dengan emosi? Apa bedanya dengan kamu dan pegawai itu. Kalian sama-sama bersikap sombong."


"Lo malah ngatain gue sombong! Gue gak suka ada yang ngerendahin lo. Gue begitu karna belain lo."


Hania menggeleng. "Lain kali kalau mau belain aku jangan seperti tadi. Gunain cara yang lebih keren. Balas dengan cara halus tapi mampu membungkam mulut mereka."


Gaka menoleh dan mengerutkan kening. Tidak mengerti maksud Hania.

__ADS_1


"Tanpa menggunakan kekerasan, tanpa menimbulkan kekacauan dan tanpa menyombongkan diri. Harusnya kamu tinggal buka masker, dan keluarin semua isi dompetmu. Kamu gak perlu ngotot marah-marah dan gak perlu rugi harus membanting ponsel. Cara halus itu lebih ampuh dan keren untuk membungkam mulut mereka." Hania tersenyum.


"Hah?" Gaka terbelalak.


__ADS_2