
"Semoga aku bisa mengikhlaskan mu, Mas. Pergilah dengan damai. Tapi aku tidak tahu, apa aku bisa mengikhlaskan perasaanku, karna sebenarnya aku mulai menyukaimu. Andai kamu gak pergi secepat ini, aku akan mengungkapkannya di depanmu." Hania tak kuat lagi, semua terlalu menyesakkan. Dia menenggelamkan wajah di dada bidang Gaka.
"Gue gak jadi pergi, lo bisa ungkapin perasaan lo sekarang."
Deg ....
Hania terdiam dalam posisi sama. Barusan mendengar suara berat seseorang, apa rungunya hanya salah mendengar?
Belum sadar dari dugaan-dugaanya, dia dikejutkan dengan suara tawa seorang pria. Hania mendongak.
"Maaaas ...?" Hania terbelalak kaget. Tidak menyangka Gaka justru tertawa namun netranya terpejam.
"Apa ini, Mas? Kamu hidup lagi?" Hania tak percaya. Mulutnya terbuka lebar. Benar-benar terkejut mengira Gaka telah hidup lagi.
"Gue emang masih hidup," ujar Gaka.
"Hah? Jadi kamu ngerjain aku." Hania melotot tak percaya.
"Enggak juga. Tadinya iseng supaya lo mau peluk gue, tapi keisengan gue malah jadi kejujuran perasaan lo." Pria berwajah pucat itu tersenyum menyebalkan.
Hania membuang pandangan sekaligus membuat napas panjang. "Astagfirullah, Mas, kematian jangan kamu buat bercanda. Itu gak baik dan sama sekali gak lucu!" kesalnya.
"Sorry sorry ...." Gaka menyengir. "Tapi becandaan gue ada manfaatnya. Lo berani mengatakan isi hati lo."
"Apa?! Aku ralat semua perkataanku tadi."
"Eit! Gak bisa dong! Perkataan lo udah terekam jelas pada kamera pengawas. Lo gak bisa mengelak." Gaka menunjuk sudut ruangan lewat sorot matanya. Di sana terdapat kamera pengawas.
Hania mencebik. "Rasanya aku gak ingat dosa lagi, Mas. Pengen aku hiiiih ...." Kedua tangannya terkepal di udara.
"Ssttt ... aduh, bekas lukanya sakit banget." Gaka meringis.
"Huh! Aku gak akan tertipu lagi."
"Serius, sakit banget." Gaka membuka selimut dan ternyata luka yang kemarin baru di operasi merembes darah.
"Darah? Kamu beneran kesakitan, Mas." Hania menoleh ke belakang, ternyata dua perawat yang tadi belum keluar. "Sus, tolong! Luka Tuan Gaka mengeluarkan darah lagi," teriaknya.
Perawat segera mendekat untuk memeriksa. Sedangkan satu di antara mereka keluar mencari dokter.
Hania mendekati Gaka. "Kamu sih, Mas, gak bisa diem. Mungkin lukamu terbuka lagi," ujarnya.
"Sakit banget, ya? Kalau kek gini bikin takut lagi," imbuhnya. Matanya tak beralih melihat perut Gaka, tapi tanpa sadar tanganya memegang telapak tangan Gaka.
__ADS_1
"Takut kalau gue lewat?"
"Mulutmu, Mas, dijaga!" Hania melirik.
"Malaikat gak akan semudah itu ncabut nyawa ahli neraka kek gue."
"Mas! Sekali lagi kamu bicara ngelantur, aku bakal pergi."
"Oke oke."
Setelah dokter memeriksa luka itu, Hania kembali bernafas lega. Luka Gaka mengeluarkan darah karena tadi sempat tertekan sesuatu.
"Ini gara-gara Mama tadi kenceng banget meluknya, pas kena lukanya jadi keluar darah," ujar Gaka.
"Mama? Iya ... Mama tadi masih pingsan gara-gara aktingmu, Mas!" sentak Hania baru ingat dengan kedua mertuanya. "Aku harus liat Mama dulu."
"Gak usah. Mama sama Papa tuh dah tau."
"Udah tau?" ulang Hania bingung.
"Mama sama Papa juga ikut akting. Eh, bukan mereka aja, dokter dan perawat juga aktingnya bangus banget." Gaka membongkar sandiwara dengan wajah tanpa dosa.
"Astagfirullahaladzim, ya Allah. Aku baru sadar kamu libatin mereka untuk ngerjain aku. Kenapa punya suami kok gini banget akhlaknya. Kalau kamu sehat dah tak pukulin kamu, Mas!" Hania bersungut kesal. Berkali-kali dia menghela napas.
"Dahlah, pergi-pergi!" usir Gaka yang merajuk.
"Kok kebalik kamu yang marah, sih, Mas?" Hania mengerutkan kening.
"Dari tadi lo marah mulu', gak sesuai yang lo ucapin tadi. Katanya kalau gue sadar mau disayang-sayang, mau dipeluk."
Lirikan Hania kesana kemari. "Gak usah diinget, Mas. Malu!" Lalu dia menunduk.
'Ah, gemes banget liat dia kek gitu,' batin Gaka tersenyum. Bahagia yang dirasakan mengalahkan rasa sakit pada luka di perutnya.
"Kalau gak diingetin, lo ngelupa-lupa gitu. Jangan pura-pura lupa juga pas lo bilang sayang sama gue."
Hania menggeleng. "Enggak, aku gak lupa."
"Jadi beneran?" Gaka memastikan.
"Iya," balas Hania sambil menghela napas. "Aku gak tau sih kapan persisnya perasaan itu ada. Waktu kamu mengatakan perasaanmu, sebenarnya aku udah ada rasa. Tapi, hubungan kita kemarin terlalu rumit, aku bimbang dan belum bisa mengambil keputusan."
Dari sorot matanya dia berkata dengan serius. "Dan sejak Gea memperlakukanku dengan buruk, entah kenapa aku justru ingin mempertahankan pernikahanku."
__ADS_1
Hania kembali menatap Gaka. "Menurutmu, apa aku salah, Mas?"
"Sama sekali gak salah," sahut Gaka cepat.
"Seperti katamu, perasaan gak bisa dipaksa. Bagaimanapun aku merelakanmu dengan Gea, bukankah itu hanya sia-sia karna perasaanmu bukan untuk Gea lagi. Kita terikat hubungan yang sah, kita memiliki perasaan yang sama. Maka, Insya Allah, Allah memberi restu untuk kebersamaan kita.
Untuk Gea, kita jangan lepas usaha memberi Gea pengertian. Perlahan dia pasti akan mengerti. Kalau keputusanku seperti ini, apa aku egois, Mas?"
"Lo gak salah dan sama sekali gak egois. Semua yang lo pikirin emang udah bener. Cuma masalalu gue aja yang gak bener."
"Belajar dari masa lalu, ke depannya berusahalah menjadi manusia baik. Dan, minta maaflah kepada wanita-wanita yang kamu rugikan seperti kamu merugikan Gea."
"Semua gak ada yang gue rugikan. Kita sama-sama untung. Gue bisa nyalurin nafsu, sedangkan mereka bisa dapet uang banyak. Jadi, gak ada yang merugikan dan gak ada yang dirugikan. Hubungan itu seperti jual beli."
Hania menggeleng. "Kamu gak takut dosa, Mas?"
"Dosa gue udah terlalu banyak, gue gak kepikiran dosa lagi."
"Kalau kamu masih seperti itu dan tidak ingin berubah baik, aku gak akan melanjutkan perasaanku." Suara Hania lirih namun penuh penekanan.
Gaka terdiam dengan sorot mata membingkai wajah Hania.
"Di awal aku mencoba menerimamu dengan segala keburukanmu, untuk sekarang tidak lagi!" ujar Hania tegas. "Bagaimana perasaanmu kalau aku melakulan seperti yang kamu lakukan? Menyentuh yang bukan halal dengan banyak pria?"
"Jangan katakan itu! Jangan khawatir, sejak gue sentuh lo, junior gue gak bisa berdiri dengan sembarang wanita. Sejarah pertama dia puasa lama banget. Gue janji gak bakal celap-celup lagi."
"Sekali kamu sentuh wanita lain, wanitamu ini akan pergi dan gak akan kembali," sambungnya.
"Oke." Gaka tersenyum lebar dengan durasi cukup lama.
"Kamu kenapa senyum-senyum terus?"
"Asik, nih. Kalau gue udah sembuh, junior gue bisa buka puasa dong?"
"Gak segampang itu bisa buka puasa, Mister."
"Heh?"
"Ada syarat yang musti dilakuin. Belajar berakhlak baik, perbaiki iman dengan mendekatkan diri pada Allah. Dan, belajar sholat lima waktu."
Gaka terbelalak sampai bola matanya melebar sempurna.
"Satu lagi, hapalin ayat kursi beserta surah-surah pendek."
__ADS_1