Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Tipe-tipe Penghuni Neraka


__ADS_3

Rutinitas Hania memang selalu berputar di labirin yang sama. Tak terkecuali dengan hari ini. Pukul delapan pagi sudah mendorong gerobak dagangannya menuju tempat biasa dengan Bu Mirna yang alakadarnya membantu.


Beberapa hari ibunya terus-menerus batuk, membuat Hania tak tega bila ibunya harus ikut jualan. Tapi Bu Mirna sendiri yang memaksa ikut dengan alasan di rumah tak ada kegiatan.


"Nduk, surat lamaran kerjamu apa belum ada yang ketrima?"


Mendapat pertanyaan dari ibunya, Hania tak lantas berhenti mendorong gerobak. Dia tetap mendorong semampunya.


"Walau Hania ketrima, bakal aku batalin, Bu. Sekarang aku nggak mungkin ninggalin Ibu."


"Sampai kapan kamu begini terus, Nduk? Ibu takut kamu nggak punya masa depan."


"Astagfirullah hal'adzim, Bu. Ibu nggak percaya sama Allah? Semua sudah ada takdirnya. Termasuk kehidupan Hania dan jodoh Hania kelak."


Bu Mirna menghela napas panjang. Bukan karena lelah, tapi lebih tepatnya banyaknya pemikiran di kepala. "Rezeki aja harus dicari, Nduk. Begitu juga dengan masa depan."


"Jangan bahas itu, Bu. Hania masih muda, masih banyak waktu untuk membicarakan masa depan."


Di arah lain.


"Sayang, sepagi ini lo udah nyariin gue?"


"***** gue nggak kenal waktu, Ge. Tengah malem juga gue gedor rumah lo kalau gue on," jawab Gaka sambil fokus melihat ke jalan raya. Ya, mereka berdua sedang berada di dalam mobil.


"Hem ngeri ngeri." Gea pura-pura bergidik.


"Untung aja lo lama disini, jadi kita bisa sering ketemu."


"Bukan sering lagi, Gaka. Bisa sehari dua kali kita bertemu."


"'Udah nggak ada papa, jadi tambah bebas."


"Papamu pulang?"


"Iya. Ada kunjungan dadakan ke luar negeri."


"Lo nggak disuruh gantiin kerjaan bokap lo?"


"Kapan bokap gue nggak nyuruh. Tapi ya bodo'. Dipantau dari sini juga bisa."


"Eh, Ga! Berhenti! Berhenti di deket orang yang lagi dorong gerobak itu," pinta Gea.


"Ngapain?"


"Mau bantuin temen dulu, bentar. Kasihan, kok, dia dorong gerobak sendirian."


"Peduli amat sih, Ge."


"Kalau orang lain gue nggak peduli. Tapi itu sahabat gue. Kasihan, beberapa hari lalu ayahnya baru meninggal. Pasti kehidupan mereka tambah susah."


Gaka menepikan mobil di pinggir jalan. Gea turun dan berlari kecil menghampiri Hania. Bahkan ikut membantu Hania mendorong gerobaknya.


"Ya Allah, Ge, kamu buat aku kaget."

__ADS_1


"Maaf, Han. Tadi aku liat kamu dorong gerobak sendirian, jadi aku turun sebentar buat bantuin kamu."


Hania menoleh ke belakang, tetapi orang yang ada di balik kemudi sedang menunduk mengambil sesuatu, jadi tidak kelihatan.


"Makasih, ya, Ge."


"Ibu kemana, Han?"


"Lagi mampir ke toko buat beli tepung."


"Dorong bentaran aja udah keringetan, ya, Han, capek juga. Dan kamu tiap hari gini." Di dahi dan leher jenjang Gea dipenuhi keringat. Hania pun sebenarnya sama, hanya saja tidak terlihat karena tertutup jilbab.


"Kamu duduk dulu, Ge. Aku ambilkan minum."


Gea mengambil kursi plastik untuk diduduki. Matanya mengedar mencari Gaka. Ternyata baru saja turun.


"Kamu sendiri, Ge?" Hania meletakan gelas di depan Hania.


"Tuh, sama pacarku."


Hania melihat yang ditunjuk Gea. Dia sangat terkejut dengan pria yang baru saja tiba di lapaknya. Bukan dia saja, Gaka pun menyimpan keterkejutan.


"Maaf, ya, sayang," kata Gea kepada Gaka.


Pria itu langsung beralih melihat Gea, dan duduk di samping sang kekasih.


Hania terkejut namun menutupi dengan bersikap biasa. Dia kesal dengan pemuda 'tak berakhlak' itu, yang tak sengaja membuat ayahnya pergi. Tapi dia mencoba untuk tidak larut dalam kekesalannya.


"Dan, sayang, itu sahabatku namanya Hania." Gea beralih pada Gaka.


Hania mengatupkan kedua tangan, sedangkan pemuda itu hanya mengangguk samar.


"Kamu tunggu bentar, Ge. Aku siapin bahan jualan bentar."


"Iya, Han. Kebetulan tadi sarapan cuma dikit, 'kan lumayan dapet gratisan mendoan terenak di daerah sini," seloroh Gea. Hania tersenyum dan mulai sibuk dengan pekerjaannya.


Gaka terdiam seribu bahasa, dengan pandangan terus melihati aktifitas wanita berkerudung lebar di depannya. Entah mengapa benaknya tiba-tiba dihinggapi rasa bersalah.


"Mbak, beli gorengan campur, satu bungkus." Pelanggan pertama datang.


"Iya, Mbak. Tunggu sebentar." Dengan cekatan Hania membalik aneka gorengan di atas wajan. Hania memang menjual perbungkus dengan banderol harga sepuluh ribu rupiah, namun ada juga yang membeli sesuai keinginan mereka.


"Ini, Mbak." Hania memberikan pesanan pembeli.


"Berapa, Mbak?" Pembeli tadi bertanya harga.


"Sepuluh ribu," jawab Hania. Dan pembeli memberi uang dua puluh ribuan.


"Maaf, Mbak, kembaliannya belum ada. Dompet saya dibawa ibu saya yang masih beli perlengkapan dagang."


"Yah ... gimana dong, Mbak."


"Aku juga nggak ada uang receh, Han," sahut Gea terlihat mengobrak-abrik tasnya.

__ADS_1


"Nggak apa, Ge."


Gaka? Diam saja ditempatnya sedang tercengang dengan pembelajaran hidup di depannya. Entah, dapat mengusik hatinya atau akan sama saja baginya.


"Gorengannya bawa aja, Mbak. Bayarnya lain waktu kalau Mbak mampir kesini lagi," ujar Hania pada pembeli tadi.


"Tapi, aku nggak enak, Mbak."


"Nggak apa, Mbak. Bawa aja."


"Ya udah, lain kali aku bayarnya ya Mbak. Makasih."


Setelah pembeli pertama pergi. Hania melanjutkan menggoreng adonan lagi. Dia juga mengambilkan satu piring penuh mendoan untuk disuguhkan di depan Gea dan Gaka.


"Han, kok kamu biarin gitu aja? Itu pembeli pertamamu loh. Kamu nggak rugi?" tanya Gea.


Hania tersenyum. "Insya Allah, enggak. Nanti ada gantinya."


Gea menatap kagum sahabatnya. "Kamu nggak berubah, Han. Baik banget."


"Kamu apaan, sih. Udah, itu silahkan dinikmati."


"Selama di Jakarta, aku selalu kangen sama mendoan bikinan kamu, Han. Enak banget." Gea mengambil satu gorengan dan ditiup-tiup. Dia beralih pada Gaka yang diam saja.


"Sayang, cobain, deh. Lo bakal ketagihan nanti."


"Lo lupa, gue nggak pernah makan ginian. Bisa-bisa gue keracunan."


"Iya, gue lupa lo anak konglomerat." Gea tertawa.


"Kalau nggak doyan gorengan saya, nggak apa, tapi nggak usah bilang bisa keracunan. Saya jual gorengan, bukan ngeracunin orang. Jangan memandang hina makanan yang hanya karena kamu nggak suka, hati-hati kalau Allah marah dan mencabut semua nikmat yang diberikan. Kamu nggak bisa merasakan kenikmatan lagi."


'Hah???'


Gaka terbelalak. Gea di depan Gaka justru tertawa. "Dia ngomong apa, sih, Ge?"


"Kalau mau ceramah di Masjid, bukan ceramah sama gue. Nggak mempan." Gaka membalas ucapan Hania.


"Percaya. Orang-orang sepertimu udah kebal hatinya. Udah mati dan sulit mendengar omongan baik dari orang lain." Hania menahan kesal.


"Makin ngaco dia ngomongnya. Ayo, Ge, pergi. Bisa panas badan gue di sini terus."


"Tipe-tipe penghuni neraka," gumam Hania pelan sambil berbalik.


Gaka mengepalkan tangan, tetapi Gea mengusap bahunya. "Ayo kita pergi."


"Han, maaf untuk insiden kecil ini, ya."


"Hania mengangguk. Besok lagi pastikan dia nggak buntutin kamu kalau pas kesini."


Gaka yang mendengar kalimat Hania mendekus kasar. "Nggak sudi kesini lagi." Sambil kakinya menendang kursi plastik.


"Gaka! Kamu kenapa sih?" Gea menarik tangan Gaka untuk keluar.

__ADS_1


__ADS_2