Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Lain Waktu Akan Menemuinya Lagi.


__ADS_3

Satu jam kemudian Hania terbangun. Lengan kirinya terasa sakit. Namun, satu detik kemudian rasa sakit itu berpindah ke hati, seperti ada ribuan jarum yang menusuk. Kedua netranya mulai memproduksi air mata, kembali dia terisak.


Dia sampai tak bisa mendeskripsikan apapun lagi. Dia tak bisa berpikir apapun lagi. Menangis karena terasa sesak dan menyakitkan.


'Takdir seperti apa ini, Tuhan?' Berulang kali mengucap istigfar berusaha mengontrol diri.


"Ma-maafin gue."


Deg ....


Hania membatu, tak menyangka Gaka masih ada di dalam ruangan itu. Perlahan dia melihat ke sudut ruangan. Pria berkaos putih sedang terduduk lesu di atas sofa dengan pandangan menunduk.


"Maafmu tidak bisa merubah apapun. Sekarang, tolong tinggalkan saya sendiri," usir Hania. Dia membuang pandangan, tidak ingin melihat wajah Gaka.


"Tapi ...."


"Tolong, tinggalkan saya sendiri," ulang Hania dengan suara serak.


"Baiklah, tapi lo jangan berpikir macam-macam." Gaka bangkit, pria itu berjalan keluar.


Sebenarnya khawatir kalau Hania terpikir melakukan sesuatu untuk mencelakai diri sendiri, tapi dia juga tidak mau membuat emosi Hania kembali meluap.


Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Gaka terdiam sejenak di depan pintu. Berapa kali dia menampar pipinya sendiri, berharap ini bukan kenyataan. Tapi sayangnya semua sungguh kenyataan.


Pukul enam pagi Hania keluar kamar, dia terkejut mendapati Gaka duduk di sofa depan kamar yang semalam dia tempati. Dia berpikir Gaka sudah pergi. Bahkan lebih bagus lagi bila pergi untuk selamanya.


Hania tidak peduli, dia melewati Gaka dan ingin segera pergi dari hotel yang telah menciptakan kenangan sangat buruk. Dengan menahan perih, juga setengah menyeret langkah, dia berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dasar.


Kemeja sobek dan pakaian kusut tak dihiraukan, dia hanya ingin segera kembali ke kos-kosan dan menangis dengan sepuasnya.


Beruntung uang kembalian dari belanja di supermarket masih ada dalam saku rok plisket, dia berjalan ke jalan raya dan mencari tukang ojek.

__ADS_1


Dalam perjalanan air mata Hania menetes dengan sendirinya. Semua yang menimpa dirinya terasa menyesakan.


Di hotel, Gaka terbangun saat mendengar suara benda terjatuh. Dia melihat sekeliling dan ternyata sudah pagi.


"Maaf membangunkan Anda." Seseorang itu langsung pergi tanpa menunggu ucapan dari Gaka.


Gaka juga tidak peduli, dia segera masuk ke dalam untuk melihat keadaan Hania. Tapi, begitu pintu dibuka, ruangan itu sudah kosong.


"Maesar ...." Gaka tidak melanjutkan panggilannya, dia lupa jika keadaan tidak baik-baik saja. Melihat ke kamar mandi ternyata juga tidak ada siapapun.


"Kemana dia?" Gaka mulai khawatir, kembali keluar untuk menanyakan keberadaan Hania pada pihak pekerja hotel.


Dan, berakhir di ruang pengawas? Dia meminta pihak hotel memutar CCTV di sekitar kamarnya. Dia menemukan Hania sampai wanita itu berjalan menuju jalan raya. Setelah itu tidak ada jangkauan kamera pengawas lagi.


Gaka chekout dari hotel dan langsung mengendarai mobilnya menuju jalanan yang semalam, dia mencari seseorang.


"Kek, Kakek!" Gaka memanggil kakek penjual kopi keliling yang kemarin sempat cerita tentang Hania.


"Kakek tau tempat tinggal wanita tukang sapu kemarin?"


"Nak Hania?"


"Ah iya itulah namanya," jawab Gaka.


"Tau," sambung Kakek. "Dia ngekos di tempat Hajah Maya."


"Ah, siapa lagi itu Hajah Maya," gumam Gaka. "Kakek aja deh anterin gue ke sana. Gue ada penting nih."


"Ya sudah, Kakek anter."


Ternyata tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit sudah sampai di tempat kos Hania tinggal.

__ADS_1


Setelah memberi tips terima kasih kepada kakek, dan kakek itu pergi. Dia langsung mendatangi kosan Hania.


Belum sampai mengetuk daun pintu, tapi telingannya mendengar suara tangis dari dalam. Tangisan itu terdengar menyayat hati.


'Sesedih inikah cewek ahli surga kehilangan keperawannya?' Dia menghela napas, mengurungkan niat untuk mengetuk pintu. Keadaan tidak akan membaik kalau dia menemui Hania sekarang.


Dia memutuskan untuk pulang saja. Yang terpenting sudah tahu tempat tinggal Hania, lain waktu dia akan menemuinya lagi.


Masuk ke dalam mobil dia menghubungi seseorang. "Gue punya kerjaan buat lo. Awasi kegiatan cewek yang nanti fotonya gue kirim ke elo. Laporin ke gue, apa aja yang dia kerjakan. Dan, kalau perlu lo pindah sementara waktu ngekos di dekat tempat itu."


"Jangan banyak tanya dan kerjakan. Ntar gue bayar dua kali lipat, sekaligus gue gratisin lo ke klub selama satu bulan."


Setelah memberi perintah pada seseorang, Gaka buru-buru pulang ke rumah.


Sampai di rumah, Tuan Haru dan Vara baru saja berjalan menuju pintu, mereka bertemu di teras rumah.


"Gaka, semalaman kamu dari mana? Kenapa sampai gak pulang?"


"Gaka di rumah Alex, Pa."


"Kenapa gak pulang, sayang? Mama cemas mikirin kamu. Gak kasih kabar, telpon juga gak diangkat," kata Vara.


"Gaka capek, Ma. Gaka mau istirahat dulu," ucap Gaka lalu dia beralih pada Tuan Haru. "Pa, untuk hari ini aja Gaka cuti gak ngantor dulu, ya."


Tuan Haru mengernyit. Terlihat Gaka tidak seperti biasanya. Hari ini dia belum menerima laporan apapun, jadi tidak tahu apa yang dilakukan putranya itu.


"Apa kamu kurang enak badan?"


"Gaka cuma ngantuk banget, semalam kurang tidur. Hari ini aja, ya, Pa. Plese."


Tuan Haru mengangguk. Dia semakin penasaran dengan Gaka.

__ADS_1


__ADS_2