Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Pria Pemaksa Dan Wanita Batu


__ADS_3

Pukul sembilan tiga puluh pagi Hania mengetuk pintu ruangan Gaka. Seperti biasa dia harus mengantar kopi untuk pria itu.


"Masuk!" Perintah Gaka dari dalam.


Di rumah dia bisa menghindari Gaka, tapi saat di kantor justru mau tidak mau harus berhadapan dengan pria itu. "Kopi mu, Mas," ucapnya sambil menaruh kopi di depan Gaka.


"Lo ngindarin gue?" sentak Gaka terlihat kesal.


"Enggak. Kenapa harus menghindar?"


"Kok malah balik nanya! Biasanya lo bangunin gue, tadi enggak! Apa namanya kalau gak ngehindar?!" Gaka masih sinis.


Hania menggeleng kecil. "Kamu seperti anak kecil, Mas. Cuma karna hal itu terus pikir aku menghindar dari kamu. Aku ada shif piket pagi, makanya berangkat duluan."


"Beneran?" Gaka memicing. Masih tidak percaya mendengar penjelasan Hania.


Ekspresi Gaka membuat Hania tersenyum. Akhirnya Gaka ikut tertular menampilkan senyum.


'Adem gini liat dia senyum. Padahal kemarin-kemarin biasa aja.' Gaka mengusap tengkuk dan beralih berdiri.


"Aku keluar, ya, Mas," pamit Hania. "Kamu malah nakutin kalau senyum-senyum gitu," ujarnya tertawa lucu.


"Lo masih bisa becanda dan ketawa seperti itu setelah apa yang terjadi tadi malam," gumam Gaka.


Karena jaraknya tidak terlalu jauh, Hania masih bisa mendengar gumaman itu. "Yang semalam aku anggap masih abu-abu, Mas. Bahkan semalam aku minta agar kamu berpikir ulang untuk perasaanmu."


"Berkali-kali gue pikir, semua tetap sama. Gue udah bilang, perasaan gue nyata buat lo."


"Aku udah bilang, ini terlalu rumit, Mas. Biar Allah yang akan memberi jalan semua hubungan. Antara aku dan kamu juga dengan Gea."


"Dasar batu!" celetuk Gaka, sedikit kesal. Hania nemang tidak mudah ditakhlukan. Wanita itu selalu teguh pendirian.


"Dasar pemaksa!" balas Hania juga tampak kesal.


Keduanya memang memiliki sikap bertolak belakang. Bila Gaka adalah pria egois dan selalu memaksakan kehendak, berbalik dengan Hania adalah wanita baik namun teguh pendirian.


"Bilang apa, lo?" sentak Gaka. "Gue denger lo bilang gue apa."


Hania mencibir. "Kamu juga ngatain aku batu!"


"Lo pantes dibilang batu, susah dan ngeyel banget orangnya."


"Lah, kamu gak sadar suka maksa dan egois."


"Akh' pergi pergi! Dari pagi gue cariin lo, malah ngatain gue kek gitu! Pergi sana!" usir Gaka dengan memutar tubuh Hania dan mendorongnya keluar.


Ceklek ....


Tiba-tiba ruangan di buka. Menampilkan Gea yang sudah setengah masuk ke ruangan itu. Ketiganya mematung dan saling terpaku. Lalu, perlahan tangan Gaka beralih dari bahu Hania.

__ADS_1


"Han?"


"Ge?" Hania memasang senyum kikuk. Sedangkan Gea mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Dulu kamu gak suka deket-deket sama ahli neraka, Han?" celetuk Gea sambil melangkah maju.


"Apa maksudmu, Ge? Kamu tau ini tugasku."


"Oh."


"Aku keluar dulu, Ge." Hania langsung keluar dari ruangan Gaka.


Sedangkan pria yang memasang wajah datar itu kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Ternyata waktu itu cepat sekali membuat seseorang berubah. Gue gak tau lo sama sahabat gue bisa sedekat itu," ucap Gea menyindir.


"Kenapa lo kemari?"


"Apa ada sesuatu yang gue gak tau? Katakan, Gaka! Apa yang buat lo berubah kek gini?! Siapa wanita yang ngerubah lo? Apa ini ada kaitannya sama Hania?" Gea menatap memberikan tatapan nyalang.


"Gak ada kaitannya sama siapapun!" tegas Gaka.


"Alesan! Gak ada kaitan dengan siapapun tapi perubahan lo terlalu cepet. Gue gak bisa terima, Ka. Gue masih cinta banget sama elo. Please."


"Gue udah gak ada perasaan apapun sama elo, Ge. Perasaan gak bisa dipaksa."


"Terserah! Terserah lo! Tapi gue akan tetep anggep lo pacar gue, Satrya Higaka adalah pacar gue!" Gea membanting map yang dibawa dan keluar dengan air mata berderai.


Hania pun meneteskan air mata, tak dipungkiri bahwa dia mulai nyaman bersama Gaka, akan tetapi dia pun selalu merasa bersalah kepada Gea.


~


Sore hari Hania menunggu mobil Gaka di pinggir jalan. Gaka sudah mengirim sebuah pesan singkat agar dia menunggu di tempat biasa.


Tak lama mobil sport hitam berhenti di depannya. Hania langsung membuka pintu depan dan masuk begitu saja.


"Dari segi manapun kamu memang pemaksa yang handal, Mas," cibir Hania.


Beberapa jam sebelum jam kantor selesai, Gaka mengirim pesan agar mereka pulang bersama. Hania sudah menolak, tapi pria itu memaksa dengan berbagai ancaman. Bahkan satu ancaman membuat Hania mengerut takut. Gaka mengancam akan menjemputnya ke ruang kebersihan kalau dia menolak untuk pulang bersama. Memang dasar Tuan Pemaksa.


Gaka terkekeh, dia menjentikkan tangan di depan Hania. "Lo emang bener. Dari kecil gue udah jadi pemaksa."


"Jadi pemaksa kok bangga."


"Ha ha ... lo tuh kalau cemberut gitu lucu tau. Muka lo jelek banget."


Hania menggeleng. "Ujian banget deket sama kamu tuh."


"Lo tau kenapa gue ngajak lo pulang bareng?"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Gue pengen makan makanan murahan di pinggir jalan waktu itu."


"Cuma itu aja? Ya kenapa gak dateng sendiri?"


"Gak enaklah dateng sendirian."


Hania hanya mengangguk singkat lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Mas, kalau kita pas lagi di luaran gini tolong jaga jarak. Aku bener-bener takut Gea mergokin kita. Aku gak mau dia tau."


Gaka menoleh dan menampilkan senyum singkat. "Kemarin-kemarin juga gak tau, kan?"


"Kemarin gak tau karna kamu masih sama dia. Gara-gara kamu kemarin mutusin dia, dia jadi curiga dan mencari tau apa yang kamu sembunyikan."


"Taulah, gak bisa mikir. Laper gue." Gaka menghendikkan bahu.


"Kita pulang ajalah, Mas," ujar Hania.


"Kenapa pulang? Gue pengen makan yang kek kemarin."


"Aku bisa masakin kamu di rumah. Kita mampir sebentar ke supermarket buat cari bahan."


"Kalau masakan lo gak enak?"


"Kalau gak enak, ntar malam kita pergi ke kedai itu dan aku yang bayar."


"Beneran, loh," sahut Gaka.


"Iya."


Akhirnya Gaka menepikan mobil di depan supermarket, lalu mereka berdua masuk bersamaan.



Sampai di rumah, Hania langsung bertempur dengan alat dapur. Membuatkan soto ayam suir beserta mendoan. Ah, dia jadi ingat dan rindu dengan kampung halaman. Selama berpuluh-puluh tahun dia membantu almarhum ibunya menjual aneka mendoan.


"Bu, Pak, Hania jadi kangen rumah," gumamnya.


Sreet ....


"Au' ...." Dia memekik saat jarinya ikut terkena ujung pisau. "Astagfirullah, mudah-mudahan bukan pertanda buruk. Aku pasti kurang berhati-hati." Dia berjalan ke keran air untuk mencuci tangan. Lalu berjalan menuju ruang tengah untuk mencari kotak obat.


Tring ...


Ada satu pesan masuk dari Gea.


'Han, besok jalan-jalan yuk.'

__ADS_1


Hania mengernyit. Dia belum membalas pesan karena sibuk menimang pemikiran. Sejujurnya masih trauma dengan kejadian waktu Gea meninggalkanya sendirian. Dia bingung, ingin menolak atau menerima ajakan itu.


__ADS_2