Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Hilangnya Sebagian Ingatan


__ADS_3

Satu hari, dua hari, sampai kini menjelang hari ke delapan, wanita bernama Rumia Geana masih betah terbaring dalam tidur panjangnya.


Alat medis memenuhi tubuh yang kini terlihat pucat seperti tak ada aliran darah. Kasa putih membebat dahi, selain itu ada luka menganga di sudut pipi sebelah kanan dan lumayan parah. Sebagian kulit terkelupas, meninggalkan jejak kemerahan dan kengerian bagi yang memandang.


Tragis dan seburuk itulah kondisi Rumia Geana sekarang. Kecantikan yang dulu dibanggakan, seolah sirna dan tergantikan dengan wajah baru yang buruk.


Gina, sang ibu terus mendampingi Gea tanpa beranjak ke manapun. Hanya Gina yang menemani karena Pak Delio sudah kembali ke Surabaya satu hari lalu. Mau bagaimana lagi, pria paruh baya itu tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Meski proyek yang digarap gagal tapi dia yang menjabat sebagai staf pemasaran dituntut tetap masuk ke kantor karena masa cutinya sudah selesai.


Sedangkan Hania, hampir setiap pulang dari kantor menyempatkan diri mampir ke rumah sakit. Selain ingin mengetahui kondisi Gea, dia juga ingin memastikan keadaan Ibu Gina, juga menemaninya barang sebentar.


Bahkan, sampai detik ini Ibu Gina belum tahu tentang hubungan rumit Hania, Gea dan Gaka. Hanya sesekali Ibu Gina menanyakan pacar anaknya kenapa tidak datang dan Hania selalu menjawab, mungkin sibuk atau sedang di luar kota.


Sore hari, Hania kembali mampir ke rumah sakit. Wanita memakai gamis hitam juga mengenakan jilbab abu gelap itu membawa paper bag di tangannya. Sengaja membawakan makanan untuk Ibu Gea agar nanti tidak perlu ke kantin untuk membeli makanan lagi.


"Assalamualaikum."


"Walaikum salam."


"Gimana, Bi, apa ada perkembangan pada Gea?" tanyanya pada Ibu Gina.


"Dokter yang memeriksa tadi bilang, kalau kondisi Gea sudah lumayan membaik. Cuma tinggal menunggu Gea nya mau bangun," jawab ibu paruh baya itu.


"Syukur Alhamdulillah, Bi, mudah-mudahan aja setelah ini Gea segera bangun."


"Iya, mudah-mudahan aja."


Hania dan Ibu Gina melanjutkan berbincang sampai waktunya menjelang maghrib barulah Hania berpamitan untuk pulang.


Dia baru saja keluar dari ruangan Gea, melewati lorong untuk menuju ke ke lift. Tapi samar-samar rungunya mendengar suara ibu Gea memanggil. Dia berhenti lalu menoleh. Benar saja, Ibu Gina berdiri depan pintu dengan melambaikan tangan ke arahnya.


Hania berbalik, kembali menghampiri Ibu Gina dengan langkah lebar. "Ada apa, Bi?" Yang dia pikir justru kondisi Gea memburuk.


"Gea, Han, Gea." Raut Ibu Gina sulit tergambarkan.

__ADS_1


"Ada apa dengan Gea?"


"Gea sudah membuka mata. Gea sadar, Han. Gea sudah sadar," ucap Bu Gina dengan tangis haru.


"Alhamdulillahirabil'alamin," ucap Hania dengan napas lega. Meski bibirnya tersenyum, namun kedua sudut matanya berair. Senang mendengar Gea sudah sadar. 'Alhamdulillah, ya Allah, Engkau memberi kesempatan pada Gea untuk kembali bangun.'


Sebelum mereka masuk ke dalam, kebetulan dokter dan perawat sudah datang. Dan langsung melakukan pemeriksaan kepada Gea.


"Sayang, kamu sudah bangun. Alhamdulillah, kamu sudah bangun, Ge. Mama seneng banget." Ibu Gina menggenggam telapak tangan Gea. Wanita itu menitikkan air mata, namun air mata keharuan. Senang, putrinya sudah terlepas dari lingkaran maut, antara hidup dan mati.


"Ma," panggil Gea lirih. Sangat lirih sampai hampir tidak terdengar.


"Kondisi Mbak Gea sudah banyak mengalami peningkatan. Sejauh ini bagus, tinggal menunggu proses pemulihan dan pemeriksaan tahap selanjutnya."


"Alhamdulillah, makasih, Dok," ucap Ibu Gina.


Hania berdiri diam di belakang perawat. Dia ragu dan takut untuk menunjukan diri di depan Gea, karena tahu hubungan mereka tidak sebaik dulu. Bahkan, Gea kini justru membencinya. Amat sangat membencinya. "Huft ...." Dia menghirup udara dan menghelanya.


Setelah dokter dan perawat pergi, mau tidak mau Hania tidak bisa bersembunyi lagi. Dia menyiapkan diri bila sesaat lagi Gea mulai marah ataupun memakinya.


"Iya, Ge, makanya jangan bergerak dan jangan banyak berpikir dulu, ya. Dokter menyarankan kamu harus istirahat."


"Apa yang terjadi sama aku, Ma?"


"Nanti Mama jelasin kalau kamu udah istirahat dan tenang."


"Gea haus, Ma."


"Mama ambilkan minum."


Hania masih mematung di tempatnya berdiri. Mengamati interaksi Gea dan ibunya.


"Han, kamu di sini?" Kini Gea beralih pada Hania, sorot matanya jernih tanpa adanya kebencian. Bahkan, terlihat hangat seperti saat mereka berteman dulu.

__ADS_1


"A-aku ...? I-iya, aku disini." Hania menjawab gugup. Pertanyaan Gea membuatnya janggal. Ada apa dengan Gea?


"Ini rumah sakit mana, Han?" tanya Gea.


Hania mengerut dalam. Pertanyaan Gea benar-benar sangat aneh. Jangan-jangan ...?


"Bi, Hania ingin bicara." Hania mengajak ibunya Gea untuk sedikit menjauh dari Gea.


"Ada yang aneh sama Gea, Bi," ujar Hania.


"Aneh bagaimana?" Tentu saja Ibu Gea tidak mengerti maksud Hania.


Hania kebingungan untuk menjelaskan. Dia tidak tahu harus menceritakan dari mana.


"Ma, ponselku mana? Aku mau telpon Gaka."


Deg ....


Hania langsung menoleh. Jantungnya berdebar kencang. Apa yang dipikirkan seolah benar, ada yang aneh pada Gea.


Hania tidak berkata apapun dan keluar dari ruangan Gea. Dia ingin mencari dokter lagi untuk memeriksa daya ingat Gea. Ada yang salah, pasti ada yang salah dengan Gea.


Kini dokter saraf datang ke ruang rawat Gea. Dia memberi beberapa pertanyaan untuk menguji daya ingat Gea. Yang mengejutkan, sebagian ingatan Gea terhapus. Yang diingat hanya potongan beberapa bulan lalu.


Hania berdiri kaku dengan menelan ludah bulat-bulat. Dia sangat senang melihat Gea sudah sadar, tapi kenapa harus sadar dalam keadaan berbeda.


Samar-samar dia mendengar Gea terus menanyakan Gaka pada ibunya. Hania melirik Gea sebentar dan menanyakan sesuatu pada dokter. "Dok, bagaimana caranya mengembalikan ingatan Gea?"


"Harus secara perlahan, Nona. Jika dipaksa, akan beresiko lebih parah."


"Beberapa bulan ini sudah banyak perubahan yang terjadi, lalu bagaimana membuat Gea untuk mengerti?"


Dahi dokter itu mengerut, mungkin belum terlalu paham maksud Hania. "Intinya, jangan memaksa Mbak Gea untuk mengingat yang sudah terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Jika bisa, ciptakan keadaan seperti yang dia ingat. Setelah Mbak Gea menjalani terapi, perlahan Mbak Gea akan kembali mengingat. Luka yang dialami cukup parah, setelah ini, Mbak Gea mungkin akan histeris dengan keadaanya. Kelumpuhan Mbak Gea tidak bisa disembuhkan dalam waktu cepat, paling tidak membutuhkan waktu lima hingga enam tahun lamanya."

__ADS_1


"Astagfirullahalazdim, selama itu, Dok?"


Dokter itu mengangguk.


__ADS_2