Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Takdir


__ADS_3

"Bu, tadi sore Mas Abian ungkapin perasaanya sama Hania." Hania malu-malu bercerita pada ibunya. Bu Mirna mengelus tangan Hania dengan lembut juga memasang senyum meneduhkan.


"Terus perasaan kamu bagaimana, Nduk?"


"Kalau Mas Abian tulus, dan sungguh-sungguh mempunyai perasaan sama Hania, aku bilang, maunya langsung di khitbah, Bu. Dan, dia setuju. Tapi entah kapan dia dan keluarganya akan datang untuk melamar secara resmi," jelas Hania. Hanya bercerita pun dia terlihat merona.


"Alhamdulillah, ya, Allah. Ibu seneng banget, Nduk. Ibu gak lagi kepikiran dengan masa depanmu." Keduanya tersenyum dalam pancaran kebahagiaan.


"Nduk, suatu saat bila Ibu harus pergi, Ibu tidak akan berat. Kamu sudah kuat, kamu sudah punya seseorang yang akan menjagamu."


"Ibu bicara apa, Bu."


Bu Mirna menggeleng. "Umur manusia gak ada yang tahu. Ibu sudah tua, Ibu gak tahu kapan ibu menyusul ayahmu. Setidaknya, anak ibu ini sudah ada seseorang yang akan menjagamu. Nduk, ingat pesan Ibu, setiap orang punya takdir masing-masing, semua yang terjadi di bumi sudah memiliki takdir, bahkan gugurnya daun ke tanah pun Atas takdir Allah. Kelak ketika sesuatu tak sesuai harapan, jangan pernah kamu menyalahkan takdir, ya, Nduk.


Allah Maha Tahu, Dia memberi apa yang kita butuhkan, bukan memberi sesuai keinginan kita. Apapun yang terjadi, kamu jangan pernah menyalahkan takdir."


"Iya, Bu, Insya Allah, Hania akan ingat pesan ibu."


~


Satu bulan berlalu.


Seorang wanita berkerudung lebar tengah melamun di tempat umum. Netranya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Siapapun yang melihat, mereka akan langsung menebak jika wanita itu tengah dilanda kesedihan. Apalagi ketika meniti lebih dekat, ada air mata yang sedang disembunyikan.


Satu minggu yang lalu menjadi hari terberat bagi Hania Putri Azahra, seseorang yang menjadi tumpuan hidupnya pergi untuk selama-lamanya.

__ADS_1


Di Taman itu dia sedang merenung akan kekuasaan Tuhannya. Mencoba berdamai dengan hati bahwa Tuhannya Maha Adil. Mungkin, apa yang terjadi padanya itulah takdir. Hingga, dia takkan putus asa untuk menjalani hari-hari selanjutnya.


Sendiri, itulah yang dirasakan Hania. Tak punya siapapun untuk berkeluh kesah. Dulu, kesedihannya selalu ada sang ibu yang selalu menghibur, namun sekarang Allah telah mengambil satu-satunya tumpuan hidup. Dia mencoba tak menyalahkan takdir, dia tak menyalahkan Tuhannya, bahkan dia berusaha menahan kesedihannya seorang diri. Berat, tentu saja semua itu sangat berat.


Abian? Hania tersenyum masam mengingat pria itu. Terakhir kali pertemuan mereka, pria berwajah teduh itu tak lagi muncul dalam kehidupannya. Satu bulan dia menanti, namun hanya angin kekosongan yang menghampiri. Dia tak tahu apa yang terjadi dengan Abian sampai pria itu menghilang begitu saja.


Gea? Satu sahabat yang paling dekat dengannya juga tidak hadir di saat dia butuh pelukan penyemangat. Gea sudah kembali ke Jakarta dan tidak bisa pulang karena sedang mengurus skripsi terakhirnya.


Gaka? Pria itu entah tak tahu juga rimba nya. Dia ada atau tidak bukan urusannya.


Tuan Haru beberapa hari lalu mengirim sejumlah uang ke ATM almarhum ayahnya. Masih sebagai bentuk uang kompensasi.


'Nduk, suatu saat jika kamu sudah tidak ada beban di sini, pergilah dan cari pengalamanmu tentang dunia luar. Kamu bisa menemukan pengalaman yang tidak kamu dapat di sini. Cari kebahagiaanmu, Nduk.'


Hania tersenyum tipis. Selama dua minggu terakhir, ibunya selalu berkata serius, selalu memberinya wejangan, namun dia tidak peka dengan pesan-pesan yang disampaikan, hingga tak mengerti bahwa sebenarnya itu adalah nasihat terakhir yang bisa dia dengar dari ibunya.


Lamunan panjang itu harus sirna kala ponsel di balik saku gamis bergetar. Ada sebuah pesan e-mail masuk yang mengabarkan dia diterima bekerja di salah satu perusahaan besar.


Bibirnya tersenyum, namun air matanya menetes. Mungkin ini takdir dari Allah. Jalannya harus seperti ini. Mencoba yakin, akan ada keindahan usai badai melanda. Pelangi segera terbit setelah hujan reda.


"Bismillahirrahmanirrahim, ayah, ibu, Hania akan mencari jalanku, selamat tinggal."


"Selamat tinggal juga, Mas Abian," ucapnya lirih.


~

__ADS_1


Matahari baru saja muncul ke permukaan. Dia sudah sibuk dengan kegiatannya mengabsen barang yang akan dibawa. Jangan sampai apa yang disiapkan justru lupa untuk dibawa. Foto keluarga sudah dimasukkan, semua surat penting juga sudah ada di dalam tas khusus. Pakaian, ah, dia hanya membawa beberapa lembar pakaian. Tasbih kecil hadiah ulang tahun dari ayahnya juga tak luput dibawa.


Dia tak perlu mengunjungi makam kedua orang tuanya, karena kemarin sore sudah ziarah ke sana.


Mata indah meneliti sudut-sudut ruangan, tempat di mana dia tinggal dari lahir hingga sebesar ini. Sekarang dia akan pergi meninggalkan rumah tersebut, pasti akan merindukan suasana di sana.


Gerobak bertuliskan 'Mendoan Bu Mirna' tak luput dari sapuan matanya. Satu-satunya barang untuk mencari rezeki, kini dia harus membiarkannya teronggok di samping rumah.


Dia akan mencoba mengais rezeki dari luar, menjejaki apa yang belum pernah dia temui. Mencari rezeki dari jalan yang belum pernah dia lakoni, mudah-mudahan Tuhan memberi kelancaran.


Semua sudah siap, dia melihat layar ponsel. Apakah taksi yang dipesan sudah menuju ke rumahnya.


Din ... Din ....


Taksi sudah ada di depannya, pengemudi taksi turun untuk membantu memasukkan barang.


"Terima kasih, Pak."


Dan taksi itu melaju menuju Bandara.


Ini bukan penerbangan pertama. Satu kesempatan, dia pernah berlibur ke Bali bersama Gea, dan mudah-mudahan dia masih ingat prosedur-prosedur sebagai penumpang pesawat dan dia tidak akan kesasar ataupun mengalami masalah.


Hania berkeringat dingin, dia mencoba yakin dengan pilihannya. Toh, kalaupun di kota lain dia tidak betah, dia bisa kembali ke kota asalnya.


Namun, dia teringat dengan kartu ATM yang baru kemarin dia bekukan. Karena tak ingin berurusan juga tak ingin merepotkan lebih dari ini, dia memutuskan untuk memblokir ATM milik ayahnya. Dengan begitu Tuan Haru tidak bisa mengirim uang kompensasi. Cukup sekian kebaikan keluarga itu yang harus diterima. Tidak ada kebaikan apapun lagi.

__ADS_1


Mudah-mudahan dia tak lagi menemukan apapun, dia hanya ingin menjalani kehidupan barunya.


__ADS_2