Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Jangan Beritahu


__ADS_3

"Jawab! Jangan diam aja!" sentak Gaka.


"Iya, aku pulang di antar Mas Abian."


Keduanya kini saling menatap, Gaka dengan kilatan kemarahan, sedangkan Hania dengan pandangan kabur karena sudut matanya penuh cairan bening.


"Jangan-jangan lo bohongi gue! Bilangnya janjian sama Gea, gak taunya ketemuan sama Abian!?"


Air mata Hania sudah menetes. Hatinya sungguh lelah, setelah tadi bertengkar dan dipermalukan Gea, kenapa sekarang Gaka juga membuat hatinya bertambah sakit. Tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu sudah menuduh dan berkata dengan nada tinggi.


"Jangan asal tuduh. Aku tadi memang di ajak Gea pergi, tapi gak sengaja ketemu Mas Abian. Karena Gea gak bisa antar aku pulang, akhirnya aku menumpang di mobil Mas Abian."


"Alah bullshit! Alasan lo doang! Kenapa lo gak hubungi gue!? Buat apa gue beliin lo hp kalau lo gak buat hubungan. Akh' bego'!"


Hania menutup wajah dengan telapak tangan. Bahunya bergetar hebat karena isak tangisnya.


Melihat itu kemarahan Gaka perlahan memudar. Dia sadar sudah berlebihan bicara dengan Hania.


Gaka mengangkat tangan untuk menyentuh bahu Hania. Tapi tanpa di duga, Hania tiba-tiba menubruk dan memeluknya erat. Tangis itu pecah di dalam pelukan Gaka.


Gaka mematung. Setelah menguasai diri, dia baru membalas pelukan Hania. "Maafin gue. Mungkin omongan gue terlalu kasar. Tapi gue bener-bener gak suka lo sama Abian atau deket sama laki-laki lain. Tiba-tiba gue emosi. Gue gak bermaksud bentak-bentak lo."


Dalam pelukan Gaka, Hania masih bisa menggelengkan kepala. "Hari ini aku lelah, Mas. Tolong biarkan aku istirahat." Dia melepas pelukan dan menjauh dari tubuh Gaka.


"Tapi lo gak marah 'kan?" Gaka mencoba meraih pipi Hania, berniat menghapus air matanya. Tapi Hania menghindar.


"Aku gak marah. Aku cuma lelah," balas Hania. "Aku masuk dulu ya, Mas." Dia berbalik dan menutup pintu tanpa mendengarkan ucapan Gaka lagi. Dia hanya ingin menuntaskan tangis sepuasnya.



Pagi ini Gaka dibangunkan kepala pelayan. Pria itu duduk di atas ranjang dengan menyangka kepala.


"Kenapa lo yang bangunin gue? Kemana dia? Apa udah berangkat kerja?" tanya Gaka.


"Nona Hania belum terlihat keluar kamar, Tuan," jawab kepala pelayan.


Gaka mengernyit. "Lo yakin dia belum keluar kamar?"

__ADS_1


"Yakin Tuan. Barusan saya dari kamar Nona, dia memang belum berangkat."


Gaka mengangguk lalu mengibaskan tangan, gerakan untuk mengusir pelayan agar pergi dari kamarnya. Dia berganti ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sekitar 47 menit, pria itu sudah berpenampilan rapi. Gegas keluar kamar dan menuju lantai bawah. Saat duduk di meja makan, lagi-lagi tidak mendapati Hania ada di sana. Kemana dia??


Karena penasaran apa yang terjadi dengan Hania, dia kembali lagi ke lantai atas dan menuju kamar Hania. Hanya sekali ketukan, dia sudah mendapat jawaban.


"Udah jam segini lo belum keluar kamar?" Gaka melihat jam di pergelangan tangannya. Begitu beralih pada wajah Hania, dia terkejut mendapati wajah itu pucat dan redup. "Lo kenapa?!"


"Aku demam, Mas. Boleh ya, hari ini aku izin gak kerja." Hania pun terlihat lemas.


"Lo sakit?" Gaka menyentuh kening Hania, ternyata suhu tubuhnya memang tinggi.


"Udah minum obat? Apa mau langsung ke rumah sakit?" Gaka terlihat khawatir.


"Gak usah lebai, Mas, aku cuma demam biasa. Nanti minum obat dan istirahat juga sembuh."


"Dikhawatirin bukannya seneng malah ngatain lebai," gumam Gaka menahan kesal.


Gaka tidak beranjak sama sekali. Pria itu justru terlihat sedang berpikir. "Apa gue ikut ijin cuti aja, ya. Biar papa yang gantiin rapat," ujarnya.


"Hust ... masa bentar-bentar izin, bentar-bentar izin. Apa kata karyawanmu. Pemimpin perusahaan kok seenaknya sendiri." Hania menggeleng kecil.


"Peduli amat omongan orang. Gue gak tega ninggalin lo demam gini. Ntar siapa yang bantuin lo minum obat. Cuma gue yang bisa bantuin." Gaka menyengir, kedua alisnya dimainkan naik-turun menggoda Hania.


"Masih pagi, jangan mikir yang aneh-aneh. Tanpa bantuan kamu, aku bisa nelen obat sendiri."


"Haes! Mikir aneh-aneh juga kenapa? Halal gini." Gaka memberengut. Tapi Hania justru tersenyum.


"Udahlah. Berangkat sana!" usir Hania.


"Oke..Tapi kelar rapat gue langsung pulang," ucap Gaka dan langsung melenggang pergi.



Di kantor.

__ADS_1


Gaka baru saja mendaratkan tubuh di kursi kebesarannya. Dia sedang mengaktifkan laptop dan mulai membuka berkas untuk bahan meting nanti. Tapi tiba-tiba ruangannya terbuka paksa, membuatnya sangat terkejut.


Gea berjalan mendekat dengan wajah di banjiri air mata.


BRAK !!!


Wanita terlihat kacau itu menggebrak meja dengan kuat. Namun tidak membuat Gaka gentar sama sekali, pria itu terlihat datar.


"Lo tega sama gue, Ka! Lo tega!" Gea menuding tepat di depan wajah Gaka. "Apa yang terjadi sama lo!? Sejak kapan lo nikahin Hania?!"


Deg ....


Kali ini Gaka membatu. Apa yang disembunyikan akhirnya terbongkar juga.


"Dia sahabat gue, Ka! Tega banget lo sama gue. Lo gak tau gimana perasaan gue. Ancur! Ancur dan sakit banget." Gea terus menangis tersedu-sedu.


"Bukannya dari awal lo benci dan gak suka sama Hania, 'kan!? Tapi apa yang terjadi sampek lo nikahi wanita yang lo benci? Apa alasan lo nikahi Hania?! Apa bokap nyokap lo yang paksa lo!?" Berbagai pertanyaan di lontarkan oleh Gea. Air matanya terus berdesakan keluar.


"Lo udah tau," ujar Gaka.


Perkataan datar Gaka membuat Gea bertambah murka. Pria yang masih sangat dicintai itu terlihat datar dan biasa saja. Tidak menampilkan rasa bersalah sama sekali.


"Gue pengen tau alasan apa lo nikahi dia, Ka?"


"Ada suatu alasan yang gak bisa gue jelasin. Dan, dari mana lo tau hal ini?" Gaka malah balik memberi pertanyaan.


"Apa Abian yang kasih tau lo?" imbuhnya menebak.


"Gue tau sendiri. Akhir-akhir ini sikap lo berubah, gue penasaran apa yang buat lo berubah. Tapi gue gak terima lo giniin gue, Ka. Gue yakin, lo cuma penasaran aja dengan Hania. Udah bosan, lo bakal tinggalin dia dan balik lagi sama gue. Gue terima lo sama dia, tapi jangan akhiri hubungan kita. Gue cinta banget sama lo. Gue gak bisa hidup tanpa lo."


Gaka terdiam melihat Gea tersungkur di lantai. Perasaannya sudah terkikis tapi melihat Gea seperti itu membuatnya tidak tega.


Dia memegang bahu Gea untuk dituntun berdiri. Tatapan keduanya saling bertemu.


"Sorry, Ge, gue gak bisa kembali sama lo. Berapa kali gue harus bilang, perasaan gue buat lo udah gak ada. Gue ... gue ingin perjuangin rumah tangga gue."


"Apa maksud lo!?"

__ADS_1


__ADS_2