
Napas Gaka memburu setelah menghajar empat berandalan yang hampir melecehkan Hania. "Lo semua bakal membusuk di penjara!" geram Gaka.
Meski sudah menghajar habis-habisan, rasanya masih belum puas. Bila tidak memikirkan kondisi Hania, dipastikan kedua tangannya belum berhenti menghujani empat pria itu dengan banyak pukulan.
Gaka menghampiri Hania. "Ayo pergi." Dia memegang lengan Hania.
"A-aku ta-takut." Hania tergagap saking takutnya dengan kejadian buruk yang barusan dialami. Tubuhnya meringkuk dan bergetar hebat.
Gaka sangat iba melihatnya. Dia mencondongkan tubuh untuk merengkuh tubuh ringkih itu, namun tak berapa lama dia justru terjengkang saat Hania mendorong tubuhnya dengan kuat.
"Jangan sentuh saya!!!" jerit Hania ketakutan. Napasnya memendek dengan sejurus kemudian tangisnya kembali terdengar.
"Hei, lihat! Gue suami lo. Gue cuma nolong lo buat pergi dari sini. Perhatikan baik-baik, gue suami lo. Oke. Jadi lo jangan takut. Jangan takut," ucap Gaka lirih. Dia kembali mendekati Hania.
Hania mendongak, memperhatikan pria di depannya. "A-aku ta-takut." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Terlihat sekali Hania sangat ketakutan.
"Ada gue, lo gak usah takut lagi. Gue janji bakal ngelindungin lo."
"Ja-janji?"
"Iya, gue janji." Gaka meraih pelan kedua pergelangan tangan Hania untuk dituntun berdiri, namun dia menyadari sesuatu hal. "An****! Brengsek!" Jika tidak harus membawa Hania pergi, dia akan membunuh empat berandal sialan itu karena sudah berani menyentuh Hania sampai sejauh itu. Akh, brengsek!!!
Karena Hania berulang kali terjatuh, akhirnya Gaka meraih tubuh Hania untuk di gendong menuju mobil. Hania yang sudah tidak memiliki tenaga pun hanya bisa diam di pelukan Gaka.
Sampai di mobil, Gaka melepas jaketnya dan berganti memakaikan jaket itu ke tubuh Hania. Beberapa kali dia mengumpat Gea yang secara tidak langsung adalah penyebab Hania berada di situasi buruk seperti ini. Semarah apapun Gea, harusnya tidak meninggalkan Hania sendirian. Ada banyak kejahatan yang bisa terjadi.
Gaka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ingin segera sampai di rumah dan menenangkan Hania. Wanita itu terlihat lemah tak berdaya, dia benar-benar tak tega melihatnya.
Hanya butuh sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil itu sudah sampai di depan gerbang rumahnya.
Ketika membopong tubuh Hania masuk ke dalam rumah, ada Vara dan Tuan Haru yang menghadang di ruang tamu.
"Gaka, Hania kenapa?" Vara langsung menodong pertanyaan.
"Sttth, besok aja Gaka jelasin, Ma. Sekarang biar Gaka bawa dia istirahat."
__ADS_1
"Tapi ...." Vara belum menyelesaikan ucapannya tapi Gaka sudah berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Ma, kita tunggu besok saja. Gaka pasti bisa mengurus istrinya," kata Tuan Haru.
"Mama khawatir dan penasaran kenapa Hania terlihat lemah. Sepertinya sudah terjadi sesuatu dengan Hania, Pa."
"Iya, tapi Gaka bilang dia akan menjelaskan besok. Ini sudah sangat larut, kita juga harus istirahat."
Dituntun ke kamar pun Vara masih memandangi kamar anaknya. Siapa tahu Gaka keluar dan dia akan mengejar penjelasan.
Di kamar Gaka.
Dia menidurkan Hania di atas ranjang. Tidak berani membuka jaket karena takut bisa membangunkan tidur Hania. Hanya menyelimuti sampai sebatas dada.
Gaka akan beranjak, tapi ada sesuatu yang menahannya. Dia melihat ujung kaos yang dikenakan, ternyata ujung kaos itu sedang pegangi oleh Hania.
"A-aku ta-kut." Bahkan dalam lelapnya dia masih ketakutan.
"Gue di sini, lo gak perlu takut lagi." Gaka kembali duduk di pinggiran ranjang. Dia menekuni wajah polos Hania. Wajah polos yang akhir-akhir ini mulai mengusik hatinya.
Ayam berkokok menandakan waktu sudah hampir subuh. Entah bagaimana tiba-tiba saja dia terbangun dalam keadaan mencengangkan, bahkan sangat mengejutkan.
Dia dan Hania tertidur di satu ranjang, bahkan tangannya terlampir di atas perut Hania. Andai Hania dalam keadaan sadar, bisa dipastikan dia juga akan dihajar habis-habisan. Hania tidak akan mengampuninya.
Saat tangannya tak sengaja tersentuh kulit Hania, dia terkejut ternyata Hania demam. Gaka bangun dan pergi ke dapur untuk mengambil baskom. Lalu akan kembali lagi ke kamar tapi kepergok kepala pelayan yang ternyata sudah bangun.
"Tuan Gaka untuk apa Anda mengambil mangkuk itu?"
"Dia demam, gue mau kompres dia."
"Tuan, biar saya saja yang siapkan semuanya. Anda tunggulah di kamar."
"Baiklah." Gaka memberikan mangkuk itu dan hampir berlalu, akan tetapi dia berbalik lagi. "Siapkan juga obat penurun panas."
"Iya, Tuan."
__ADS_1
Saat kembali ke kamar, Hania masih terpejam namun bibirnya merintih dan memanggil-manggil almarhum ibunya. Bahkan sesekali berteriak mengiba agar tidak disentuh.
Kasihan, mungkin ketakutan Hania terbawa sampai ke alam bawah sadar.
Tak berapa lama kepala pelayan datang membawa alat kompres juga obat penurun panas.
Gaka membasahi handuk kecil dengan air hangat yang ada di mangkuk, setelahnya diperas dan ditempelkan di dahi Hania.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"
"Enggak. Pergilah!"
Pelayan itu membungkuk sebentar dan pergi.
Gaka melihat obat penurun panas, dia bingung bagaimana caranya Hania bisa segera minum obat itu agar demamnya cepat turun.
"Maesaroh, bangun!" Gaka membangunkan dengan lirih. "Diminum obatnya."
Walau matanya terpejam, tapi Hania menggeleng pelan.
"Kalau lo gak minum obat, demam lo gak turun-turun."
Hania menggeleng lagi.
"Kalau gak mau, gue bakal cari cara apapun supaya obat itu masuk ke tubuh lo," ancamnya.
Tidak ada pergerakan apapun dari Hania. Yang ada dipikiran Gaka hanya ingin obat itu segera diminum dan demamnya cepat turun.
Dia berpikir sejenak. Dan ... aha! Seketika menemukan ide cemerlang. Walau konyol dan sedikit tidak menggenakan bagi mulutnya, tapi itulah cara cepat obat itu masuk ke tubuh Hania.
Gaka mengambil obat dan memasukkan ke dalam mulutnya, setelahnya dia mentransfer obat itu lewat alternatif yang dipikirkan tadi. Bukan hanya sekali tapi dia melakukannya berkali-kali karena bukan hanya obat, tapi juga dengan air putih supaya rasa pahitnya segera hilang.
"Bangsat! Gue terlalu menghayati ciuman sampek junior kecil gue bangun dan berontak. Masa' musti solo karir hampir subuh gini! Gila, iblis neraka pasti ngeledek gue!" omel Gaka sambil berjalan ke kamar mandi. Terpaksa dia mengguyur tubuhnya dengan air agar pikiran kotornya segera lenyap.
"Otak gue bener-bener udah tercemar dan rusak. Hei, Malaikat, ada otak serep yang masih bersih gak sih? Gue mau tuker biar otak gue gak mikir mesum mulu!" ucapnya pada diri sendiri sambil menoyor-noyorkan kepalanya.
__ADS_1