
Sehabis sholat dzuhur, Hania masuk ke kamar yang sebelumnya. Kebetulan ada Bunga dan Andira yang juga baru pulang dari berbelanja oleh-oleh karena besok pagi semua karyawan SAG sudah kembali ke Jakarta.
"Wow, ada Bu Bos," celetuk Bunga terkejut melihat Hania duduk di sisi ranjang sambil mengemasi baju.
"Mbak ... apa sih." Hania memberengut, tapi setengahnya tersenyum.
"Ya ampun, Han. Parah lo! Parah parah parah! Bisa-bisanya lo sembunyiin hal besar itu!" Bunga berbicara dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Andira menjajari Bunga dan menyikut lengan temannya itu. "Hush, yang sopan. Dia sekarang Bu Bos kita, bukan pegawai rendahan kek kita. Mau, nasib lo kek Nita dkk (dan kawan-kawan)?"
"Gak nyangka banget ya, ternyata selama ini kita kawanan sama istri Tuan Gaka. Gue masih kek belum percaya, Han," ucap Bunga. Dia ikut duduk di ranjang yang sama dengan Hania.
Hania menanggapi dengan senyuman. "Gak ada beda, aku istri Gaka atau bukan. Aku ya tetep aku, Mbak. Gak berubah, kok," ujarnya.
"Bedalah, Han. Kita jadi segan sama lo," timpal Andira.
"Sebenarnya kapan lo nikah sama Tuan Gaka? Udah lama?" tanya Bunga.
"Belum, sih, paling sekitar tiga bulan lalu, pas aku kembali ke kantor, itu aku udah nikah," jelas Hania.
"Hebat loh sandiwara kalian. Selama itu bisa saling acuh."
'Gimana gak saling acuh, awal kami menikah tanpa ada perasaan,' batin Hania.
"Tapi sempet curiga, pas elo baru masuk tiba-tiba diganti tugas. Gak taunya tugas lo merangkap jadi istri juga. Hi hi ...." Bunga cekikikan. "Tapi kok lo mau di jadiin cleaning servis? SAG Grup perusahaan suami lo, kudunya jadi skretariat kek, atau devisi pemasaran, keuangan. Pokoknya jabatan yang keren-keren gitu."
Hania menghendikkan bahu. "Itu bukan ahli bidangku, Mbak. Aku lebih suka menjalani yang menjadi kemampuanku."
"Memang bener kata Tuan Gaka semalam, lo sangat baik dan sederhana. Mungkin itu yang membuat Tuan Gaka jatuh cinta sama elo."
"Eh, tapi lo taukan rumor Tuan Gaka seperti apa? Maaf nih, lo ... tetep mau sama dia?" Bunga bertanya lirih. Sedikit tak enak hati, tapi rasa penasaran yang tinggi tidak bisa ditahan untuk tetap menanyakan itu.
"Dari awal aku sudah tau Mas Gaka seperti apa. Tapi setelah aku menikah dengannya, perlahan aku juga tahu, sebenarnya dia tidak separah yang dibicarakan. Dan, Insya Allah, dia sekarang mulai berubah. Doakan dia istiqomah."
"Aamiin."
__ADS_1
"Ini nih, istri yang bisa menuntun ke surga. Masya Allah banget, Han ... gue jadi pengen kek elo juga," ucap Andira.
"Gak pa-pa, Mbak, ayo, belajar baik juga. Yang utama dari seorang wanita adalah aurat, coba dimulai dari menutup aurat. Baru belajar yang lainnya."
"Ya, Han, mudah-mudahan hati gue mantap untuk berubah."
"Gue gimana, dong?" Bunga menunjuk dirinya sendiri.
"Gak maksa, Mbak. Terserah Mbak," jawab Hania. "Ohya, maaf ya, aku berkemas, aku disuruh pindah ke kamar Mas Gaka."
"Gak pa-pa lah, pindah ke kamar suami juga. Tapi jangan lupain kami, ya, Han. Sering-sering main ke ruang cleaning servis. Walau gimana, gue anggep lo teman," ujar Andira.
"Mbak, aku tetep Hania si cleaning servis. Gak pindah jabatan, dan tetep jadi temen kalian. Bahkan aku seneng dan terharu kalian anggap aku temen."
"Berpelukan deh. Kita berpelukan." Bunga merentangkan tangan untuk memeluk kedua temannya.
Meski status Hania sudah terbongkar, tak ada beda apapun. Mereka tetap berteman.
Di sudut lift, bertepatan bertemu dengan Nita dkk.
"Han ... maafin gue," ucap Nita lirih dengan wajah menunduk.
"Sumpah, gue gak tau lo itu siapa. Kalau dari awal tau, gak berani gue begitu. Dan gak akan juga terkena hasutan. Please, Han. Maafin Gue."
"Iya, gue minta maaf. Gue cuma ikut-ikutan."
"Gue juga minta maaf. Tolong jangan laporin kita. Dipecat gak pa-pa lah, yang penting jangan jadiin kita pidana. Kita bisa cari kerja apa aja ditempat lain, yang penting gak ngaruh sama masa depan kita," ucap Nadya.
"Aku sih udah maafin kalian semua, cuma agak sulit dengan Mas Gaka. Tau sendiri dia orangnya gimana. Coba nanti aku bicara, mudah-mudahan dia gak jadi laporin kalian."
"Please, kita begitu korban hasutan juga."
"Aku tahu. Berdoa aja mudah-mudahan Mas Gaka mau maafin kalian juga." Hania tersenyum dan pergi dari hadapan mereka.
"Dia beneran baik gak sih?" Nadya memperhatikan Hania yang masuk ke dalam lift. "Semudah itu dia maafin kita?"
__ADS_1
"Entahlah. Tapi sepertinya memang baik. Senyumnya tulus tanpa dibuat-buat," sahut Nita. "Eh, mikirin nasib kita selanjutnya. Gimana kalau Tuan Gaka bener-bener buat laporan ke polisi. Ya ampun, tamat! Tamat riwayat kita." Wanita itu berwajah gusar dengan mengusap-usap kening. Kepalanya terasa berdenyut setelah semalam tidak tidur dengan nyenyak. Masih kebayang dengan ancaman bos mereka.
"Mudah-mudahan aman. Buktinya kita gak ada apa-apa. Gak ditangkap polisi juga," sahut yang lainnya.
"Bodoh! Kita sekarang berada di beda kota, siapa tahu Tuan Gaka akan melaporkan kita pas nanti pulang ke Jakarta. Itu yang gue pikirin dari semalem. Bedebah, ngapain juga kita lakuin sejauh ini. Enak Mbak Gea bebas dari tuduhan. Padahal kita dapet info-info itu dari dia, bahkan dia juga yang kasih ide buat permaluin Hania di depan umum. Sekarang, kita yang kena getah. Bodoh bodoh bodoh." Nita merutuki diri.
•
Gaka sedang mengadakan pertemuan di luar hotel. Setelah jamuan makan siang usai, rencananya dia akan kembali ke hotel.
"Lo gak cerewet kek biasanya," ujar Gaka di depan Lili. Mereka masih menghabiskan makan siang mereka.
"Setelah tahu fakta tentang Anda. Hari-hari saya bakal gak semangat seperti biasanya, Tuan."
"Kenapa?"
"Ya gak ada kesempatan lagi buat caper-caper."
Gaka melirik sinis.
"Ups, sorry salah bicara. Tolong jangan dengarkan," kata Lili yang sudah ngeri melihat lirikan Gaka.
"Gue rasa, hari ini banyak cewek patah hati gara-gara istri gue jujur di depan kalian."
"Pasti itu. Saya aja patah hati."
Gaka teringat sesuatu. "Lo juga pernah jahat-jahat sama istri gue 'kan?"
"Hah? E-enggak, Tuan. Kapan saya jahat sama Mbak Hania? Eh, Nona Hania maksudnya. Saya selalu baik sama dia," elak Lili.
"Sampek di Jakarta, minta bantuan Raga buat kumpulin semua bukti. Gue mau tindak cepat."
"Baik, Tuan."
"Bisa undur jadwal gue? Gue mau di sini dua atau tiga hari lagi."
__ADS_1
Lili melihat agenda Gaka di layar iPad nya. "Maaf, Tuan, sayangnya beberapa hari ini jadwal Anda sangat penuh. Bahkan besok sore, sepulang dari sini kita ada janji temu dengan pemilik AH-Star."
Gaka membuang napas kasar. Dia sudah berpikir ingin honeymoon, tapi harus tertunda. Jika dia adalah Satrya Higaka yang dulu, dia tidak akan memikirkan perusahaan. Tapi Gaka yang sekarang, dia sudah banyak berubah.