Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Rasa yang Masih Ada


__ADS_3

Gaka, Hania, dan Raga, bersama-sama menuju bandara. Satu jam lagi pesawat tujuan Surabaya akan lepas landas.


"Pinggangnya sakit, gak? Ngerasa pusing gitu, atau agak gak enak badan?" cecar Gaka.


"Enggak. Aku cuma ngantuk." Hania menyandar di punggung Gaka.


"Jangan tidur dulu, nanggung, sepuluh menit lagi udah nyampek bandara. Tidur cuma bentar biasanya malah bikin pusing. Pas di pesawat lo bisa tidur puas," ujar Gaka.


Hania menguap beberapa kali, seolah rasa kantuknya sulit ditahan. Saat ini tepat pukul satu siang, di jam-jam itu biasanya dia tidur siang.


Gaka membuka minuman dan camilan sehat untuk mengalihkan rasa kantuk sang istri. Mengajak bicara hal apapun.



Hampir pukul tiga sore, mereka sudah sampai di bandar udara yang ada di kota Surabaya. Hania tersenyum senang menginjakkan kaki di kota kelahirannya.


"Senyum-senyum gitu ngapa? Gak sabar ketemu sama si onoh?" sindir Gaka.


Hania menyipitkan mata. "Apa, sih, kamu, Mas, ngomongnya gitu? Aku senyum karna seneng bisa pulang ke kota kelahiran ku. Gak sabar pengen liat rumah."


"Kita tidur di hotel, Raga udah pesen kamar."

__ADS_1


"Malam ini tidur di rumahku dulu, ya, Mas, kangen banget pengen tidur di rumah. Aku kangen suasana rumah," pinta Hania dengan memelas.


"Tapi ...."


"Please, Mas."


"Akhir-akhir ini banyak maunya, deh," gumam Gaka sambil menggaruk pelipis. Dia menolehi Raga. "Batalin dulu jadwal nginam di hotel, Ga, kita nginap dulu di rumah bini gue!"


Raga mengacungkan jempol, menyetujui perintah Gaka.


Di pintu ke luar bandara berdiri sesosok manusia dengan memegang alat penyangga tubuh. Wajah teduh itu menatap sendu ke arah Gaka, namun lebih tepatnya pada Hania.


Sayang, seribu kali pun dia hanya bisa berandai, karena sedetikpun waktu tidak bisa dirubah. Sejauh waktu berlalu, sejujurnya sampai saat ini rasa hatinya masih ada untuk Hania.


Hania sebagai wanita pertama yang mengisi begitu dalam dasar hatinya. Hingga sangat sulit dilupakan.


Sejak terakhir meninggalkan Ibu Kota Jakarta, Abian sama sekali tidak pernah menghubungi Gaka. Namun, tiba-tiba tadi malam papanya menghubungi dan mengatakan kalau Gaka akan berkunjung ke Surabaya, untuk itu dia menjemputnya di bandara.


"Apa kabar, lo?" Gaka lebih dulu menyapa.


"Lumayan baik," jawab Abian.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Hania mengucap salam. Tidak menyebut dengan sebutan 'Mas' takut Gaka kambuh posesif.


"Walaikum salam."


Tidak berlanjut panjang, mereka langsung menaiki mobil masing-masing. Abian bersama Raga menaiki mobil sedan sedangkan Gaka dan Hania menaiki mobil satunya. Berpisah agar suasana tidak canggung.


Di dalam mobil Gaka dan Hania.


"Gimana perasaan lo? Apa kabar juga sama jantung lo?"


"Perasaanku sedih, Mas."


"Sedih karna gak berjodoh sama dia?"


Hania menghela napas. "Sedih ngeliat nasib Mas Abian seperti itu. Dia orang baik, harusnya nasibnya juga baik."


"Lo betul, dia baik dan temennya malaikat, tapi gak tau juga kenapa takdirnya begitu." Gaka mengimbangi kalimat Hania, mengesampingkan rasa cemburu.


"Apa dia gak bisa normal seperti dulu, Mas?"


"Diagnosa lumpuh keknya cuma sementara, ya gak jauh beda kayak Gea. Mungkin suatu saat bisa jalan normal tapi butuh waktu lama."

__ADS_1


__ADS_2