
"Pa." panggil Gaka saat menemui papanya.
"Hem."
"Papa ngasih uang kompensasi buat keluarga Hania berapa sih?"
"Kenapa tiba-tiba tanya itu? Ohya, kamu tau?"
"Enggak." jawab Gaka cepat.
"Nomor ATM almarhum yang kamu tabrak itu udah dinonaktifkan. Papa udah gak bisa kirim uang. Dan satu lagi, orang suruhan Papa bilang rumah itu sekarang kosong, tetangganya gak tau anak almarhum pindah kemana."
'Berarti Papa gak tau kalau Maesaroh pindah ke Jakarta dan kerja di kantor?'
"Terhitung hanya lima belas juta kita bayar kompensasi, tapi belum termasuk biaya rumah sakit." lanjut Tuan Haru.
Gaka terkejut. "Lima belas juta? Kata Papa, pertama kasih uang lima puluh juta. Belum lagi uang kedua dan ke tiga?"
"Pertama Papa kasih kompensasi memang lima puluh juta, tapi mereka gak mau menerima. Cuma mengambil sepuluh juta untuk kebutuhan mereka, dan yang kedua waktu kita datang itu Papa transfer lima juta."
Gaka terdiam. Selama ini dia salah menyangka. Dia berpikir keluarga Hania mendapat kompensasi lebih dari seratus lima puluh juta. Tapi nyatanya?
Dia teringat beberapa kali menghina gadis itu karena mendapat uang banyak dari papanya, ternyata tidak. Lalu, kenapa Hania tidak menjelaskan tentang uang yang diterima hanya berjumlah sedikit.
"Kenapa kamu diam aja?" Tuan Haru melambai di depan Gaka.
"Gak pa-pa, Pa."
"Kamu udah siap sebentar lagi menggantikan posisi Papa? Tinggal beberapa waktu lagi, Gaka."
"Gak taulah. Males."
"Papa lihat hasil kerjamu meningkat. Papa yakin sebentar lagi kamu sudah siap untuk memimpin perusahaan."
Setelah pembicaraannya selesai, Gaka memilih masuk ke dalam kamar, merebahkan diri sambil menatap langit-langit. Memikirkan uang kompensasi yang salah, denda, dan kesusahan Hania. Nominal lima belas juta sama sekali tidak sebanding dengan kesalahannya yang menyebabkan pak Efendi kehilangan nyawa. Tapi kenapa Hania tidak protes atau menuntutnya.
"Dia disuruh bayar denda gak ada komplain sama sekali, malah milih kerja sampingan buat hidup sehari-hari. Gak ngerti lagi, dia tuh bener-bener bodoh!" Sekilas pertemuannya dengan kakek tua tadi terlintas, dalam keadaan Hania yang susah masih kepikiran buat sedekah. Dia baik atau kelewat bodoh!
Drrtttt!!!
"An****!" Gaka terkejut setengah mati saat ponselnya berbunyi nyaring.
"Ada apa sih, Ge?"
'Kok tanya gitu? Apa harus ada apa-apa dulu baru hubungi lo?' Gea di seberang sana terdengar kesal.
"Sorry-sorry, gue kaget tadi."
'Cuma diginiin aja kok gue nyesek, Ka.' Gea terdengar sendu.
"Sorry, Ge, gak sengaja. Tadi lagi kesel, terus kaget denger ponsel nyanyi. Jangan marah."
__ADS_1
'Gue juga kaget, tiba-tiba lo marah gitu.'
"Iya, sorry. Ada apa?"
'Kangen aja.'
"Gue juga kangen."
'Ka, lo tau, gak?'
"Apa?"
'Hania baru kabarin gue kalau dia pindah ke Jakarta.'
"Gak peduli gue."
'Isth, kemarin-kemarin gue khawatir sama dia. Tapi sekarang lega denger Hania ada di Jakarta, besok kalau gue balik ke sana, gue bisa ketemu dia.'
Gea gak tau kalau Maesaroh kerja di kantor, apa dia gak bilang? Bodo amatlah.
"Ge, lima hari lagi gue resmi menggantikan posisi papa."
'Secepet itu? Bukannya masih satu bulan lagi?'
"Gak tau, katanya Papa pengen cepet istirahat."
'Wah, selamat cintaku, akhirnya lo menjadi pemimpin SAG Grup.' Gea terdengar girang.
'Ka, dj itu hiburan, jabatan itu untuk masa depan. Jadi, lo taukan apa yang musti di utamain. Kalau resmi jadi pemimpin, jangan lupa traktir belanja barang terbaru.'
"Apa barang-barang itu mau dibuat alas tidur. Barang lo udah terlalu banyak, Ge."
'Iya, tapi selalu khilaf kalau ada yang baru lagi.'
Obrolan mereka berlanjut sampai Gaka meminta untuk mengakhiri. Dia memang bicara dengan Gea, tapi otaknya sedang memikirkan yang lain.
~
Pagi sekali Gaka bersemangat pergi ke kantor. Tuan Haru dan Vara dibuat terbengong karena Gaka pergi dengan buru-buru.
"Kesambet apa tuh anak?" heran Tuan Haru.
"Hust, Papa! Bukannya seneng anak kita berubah, gitu dibilangin kesambet," ujar Vara. "Mungkin tinggal lima hari lagi dia gantiin Papa, jadi banyak yang harus dikerjakan."
"Mama gak tau aja, semua kerjaan Lili yang mengerjakan. Dia cuma ongkang kaki, telponan, main sosial media, putar musik dj, tidur, langsung pulang."
"Masa sih, Pa? Terus kenapa Papa cepet-cepet nyuruh Gaka ganti jadi CEO? Mau jadi apa perusahaan kalau pemimpinnya seperti Gaka?"
"Gaka sebenarnya cerdas dan mumpuni, cuma dia kurang serius. Siapa tau kalau dia udah resmi jadi CEO, dia lebih bertanggung jawab."
~
__ADS_1
Ccckkkiet ....
Pria berjas putih tulang itu berhenti di tempat kemarin. Clingak-clinguk mencari seseorang dan menemukan seseorang sedang berada di bawah pohon besar, pinggir jalan.
"Maesaroh!"
Hania berbalik dengan wajah datar. "Perkenalkan nama saya, Hania Putri Azahra," ucapnya.
"Ops ... oke-oke!" Gaka terkekeh.
"Kamu kenapa selalu tiba-tiba muncul?"
"Jadi lo cuma terima kompensasi lima belas juta aja?" Gaka berkata tanpa basa-basi.
Hania menghela napas. "Saya dan almarhum ibu saya memang mintanya segitu."
"Almarhum? Jadi bener ibu lo udah mati?"
Hania reflek mengangkat gagang sapu tinggi-tinggi, ingin sekali memukuli pria tak berakhlak itu sampai babak belur. Memberi pelajaran untuk mulutnya yang selalu berbicara kasar.
"Dosa gak sih mukul orang sekuat tenaga?" geram Hania tak bisa menyembunyikan kekesalan.
"Eh?!" Gaka reflek mundur untuk menghindar.
"Kenapa lo gak komplain? Lo juga gak protes pas kemarin gue denda."
"Mau protes bakal percuma, manusia egois macam kamu susah buat dengerin omongan orang lain." Hania kembali melanjutkan menyapu. Meski ada Gaka dia tidak peduli, pekerjaannya harus selesai.
"Huh!" Gaka mendengus. Dia berusaha baik, tapi sikap Hania tetap ketus. Itu yang membuat Gaka terkadang kesal, tapi penasaran juga.
"Oke deh. Gue cabut denda gue buat barter uang kompensasi. Biar impas. Gue minta nomor rekening lo, gue transfer sisanya biar lo gak usah capek-capek kerja sampingan lagi. Baik 'kan gue?"
Hania mengerut. Menatap Gaka dengan intens.
"Woi!!! Lo kenapa?"
"Saya yang harusnya tanya, kenapa tiba-tiba kamu kasih tawaran seperti itu?"
"Udah cepetan tulis no rek lo." Gaka menyodorkan ponselnya di depan Hania.
"Gak usah. Saya tidak mau melanjutkan uang kompensasi apapun lagi. Kalau bisa udah gak ada hubungan apapun juga. Impas ya udah anggap aja semua udah impas."
"Lo ...." Gaka ingin berkata tapi Hania memotong ucapannya.
"Kalau impas, apa saya udah gak punya hutang lagi di perusahaan mu?"
"Enggak."
"Terima kasih, berarti saya nanti sudah bisa mengundurkan diri."
Deg ....
__ADS_1