Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Sial


__ADS_3

Pagi hari di rumah Tuan Haru.


"Tumben pagi ini gak ada drama," celetuk Tuan Haru. Ketika turun ke lantai bawah sudah mendapati Vara dan Gaka ada di meja makan.


"Apa Papa masih kirim uang kompensasi buat keluarga yang Gaka tabrak waktu itu?" tanya Gaka tiba-tiba. Dia sangat penasaran dengan uang kompensasi yang diberikan kepada keluarga Hania.


"Oh iya, kalau gak kamu ingetin, Papa malah lupa. Biasanya Abian yang ingetin, tapi dia belum kembali," ujar Tuan Haru.


"Kali ini kasih lebih banyak, Pa. Dia pasti lagi butuh banget," ujar Gaka.


Tuan Haru dan Vara saling tatap, lalu mengernyitkan dahi. Kesambet apa anak kita? Begitu pertanyaan terpendam mereka. Vara menghendikan bahu.


"Kamu gak salah bicara?" Tuan Haru jelas keheranan, selama ini Gaka acuh, bahkan beberapa kali mengatakan tidak usah memberi mereka uang lagi karena apa yang mereka kasih sudah lebih dari cukup.


"Enggak," jawab Gaka singkat.


"Kamu abis mimpi apa? Tumben baik gitu?" timpal Vara.


Gaka melirik. "Mama apaan sih? Gaka cuma kasihan aja sama cewek itu, satu bulan lalu ibunya juga mati," ceritanya.


"Hust! Meninggal itu lebih sopan dari pada kata mati," ujar Tuan Haru memperingati.


"Ya Allah, astagfirullahaladzim ...." Vara memekik dan sejurus kemudian menutup mulutnya. Sangat terkejut mendengar kabar yang diberitahukan Gaka barusan. "Kasihan sekali, Hania. Belum lama ayahnya meninggal, dan gak lama ibunya juga meninggal. Lalu dia tinggal sama siapa?"


"Pa, ayo kita ke sana. Kita lihat keadaan Hania. Kasihan dia, Pa, kasihan," ujarnya lagi penuh khawatir. Dia yang dari awal sudah menyukai sikap dan perilaku Hania, tidak akan keberatan kalaupun menjadikan Hania anak angkat.


"Iya, Ma, nanti Papa kosongin jadwal dulu baru kita kesana," kata Tuan Haru. Pria paruh baya itupun tak kalah antusias dari istrinya.


Gaka melongo. "Ck. Sama anak sendiri kalian gak pernah kasian. Giliran anak orang sampek segitu pedulinya," ujarnya dengan kekesalan. Bagaimana bisa kedua orang tuanya justru begitu peduli dengan orang sangat menyebalkan seperti wanita itu.

__ADS_1


"Jangan bercanda, Gaka. Mama sama Papa peduli dengan Hania karna kamu penyebab kematian ayahnya. Dia belum selesai bersedih, tapi harus kembali kehilangan ibunya. Gak kebayang bagaimana perasaannya. Pasti dia terpukul dan sangat sedih sekali. Terlepas itu, Mama menyukai Hania, dia gadis baik dan sholehah. Andai kamu mau, Mama bersedia menjadikan dia menantu di keluarga kita," ujar Vara panjang lebar.


"Ngomong apa sih, Ma. Jangan aneh-aneh. Mama tau sendiri kehidupan Gaka seperti apa, dan kehidupan dia juga seperti apa. Gak mungkin bisa bersama lah. Bumi dan langit gak akan bisa bersatu kecuali pas hari kiamat. Bisa bersatu tapi hancur," balas Gaka.


Vara menghirup udara dan mengeluarkannya perlahan. Berbicara dengan putra semata wayangnya itu sungguh menguras emosi. Selalu pandai membantah. Jika diladeni pun akan menjadi panjang.


"Ma, jadwal Papa minggu ini sibuk banget. Coba Papa suruh orang kita datengin rumah Hania saja, ya." Tuan Haru yang sedari tadi sibuk menelpon sekretarisnya kini meletakkan ponsel di atas meja.


Tadi sedang menanyakan jadwal kerjanya, dan ternyata selama satu minggu ini jadwalnya sangat penuh. Dia tidak bisa pergi ke Surabaya untuk menemui Hania.


"Padahal Mama pengen cepet ketemu Hania. Tapi mau gimana lagi kalau jadwal Papa masih padat. Usahain cepet dikelarin Pa, biar kita bisa cepet ketemu Hania," ujar Vara.


'Punya ilmu apa cewek nyebelin itu sampek orang tua gue segitu pedulinya,' batin Gaka kesal melihat kedua orang tuanya justru peduli dengan orang lain.


~


"Ini udah hampir jam tujuh, sebentar lagi juga udah waktunya mulai bekerja, Mas," jawab Hania sambil menyunggingkan senyum.


Hari ini hari kedua Hania bekerja, dia sangat senang juga bersemangat. Dari pada hanya berdiam diri di kos-kosan tanpa melakukan apapun, lebih baik dia berangkat ke kantor lebih awal. Begitu pikirnya.


"Iya, sih. Tapi masih ada waktu 30 menit lagi, Mbak. Mau ngeteh-ngeteh dulu?" tawar Al, seorang pemuda yang bekerja sebagai tukang satpam di Perusahan SAG Grup. Badannya tegap, namun berkulit sedikit gelap. Meski begitu senyumannya terbilang manis.


"Makasih tawarannya, Mas. Tapi saya mau masuk aja." Hania menolak secara halus. Dia yang memang jarang mengakrabkan diri dengan pria jelas canggung bila menerima tawaran pemuda itu.


"Rejeki kok ditolak si Mbak?" ujar Al.


"Bukan nolak rezeki, Mas. Gak enak aja pria dan wanita ngobrol berdua."


"Oke deh." Al nampak kecewa, namun tak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin dia memaksa kehendak. Namun dari penolakan itu membuatnya sadar bila Hania sangat berbeda dari wanita-wanita yang sering dijumpainya. Wanita di depannya sangat menjaga diri dari pandangan pria. Bahkan dia semakin mengagumi sosok Hania.

__ADS_1


"Saya ke dalam dulu, ya, Mas," pamit Hania.


"Eh, i-iya," jawab Al gelagapan karena Hania membuyarkan pikirannya. "Besok ngobrol-ngobrol lagi, ya, Mbak," sambungnya.


Tidak mendapat balasan karena Hania nyelonong pergi dan terlihat masuk ke gedung bertingkat tinggi itu.


Setelah memasuki ruang kebersihan, Hania mengambil alat pembersih lantai. Selama satu minggu ini, dia mendapat tugas membersihkan loby kantor, lantai satu dan juga lantai dua.


Saat ini, sebelum karyawan kantor berdatangan dia harus sudah selesai membersihkan lantai loby. Hingga pekerjaannya nanti akan lebih mudah.


Detik jam berputar, satu per satu karyawan kantor mulai berdatangan. Hania sudah menyelesaikan bagian loby, namun di sudut ruangan dekat dengan lift dia belum selesai membersihkannya. Dia berjalan ke sana dan mulai membersihkan lantai itu.


"Selamat pagi, Tuan Gaka." Salah seorang staf menyapa Gaka.


"Selamat pagi, calon Tuan CEO," timpal staf yang lainnya.


Namun, sapaan dari staf bawahan tidak digubris sama sekali oleh seorang Gaka. Wajah tampan nya selalu ter setting dingin. Pria itu terus saja berjalan menuju lift khusus untuk petinggi kantor. Sama sekali tidak memperhatikan sekitar.


Gaka yang sedang membaca pesan tidak tahu bila satu cleaning servis sedang membersihkan lantai. Mata itu tak beralih dari layar ponsel. Papan peringatan yang ada di sudut ruangan juga tidak terlihat.


"Awaaa ...s!!!" Suara teriakan seseorang menyita banyak pasang mata. Semua sama-sama menoleh ke arah yang sama.


Buuukkkk.


"Au' ...!!!" pekiknya.


Sakit iya, malu setengah mati juga iya. Dunia seorang Satrya Higaka seolah runtuh begitu saja. Image yang terbangun kokoh hancur tak bersisa. Luar biasa.


Para karyawan yang menyaksikan hanya mematung di tempat. Mereka tidak mengira akan melihat kejadian mustahil.

__ADS_1


__ADS_2