
"Sibuk sama siapa sih. Sampek suami dianggurin," omel Gaka duduk di atas ranjang.
"Ge, udah dulu ya, si pemarah udah ngomel-ngomel." Hania berbicara di telepon sambil cekikikan melirik Gaka.
Setelah mengatakan itu Hania menutup teleponnya dengan Gea. Beralih mendekati Gaka dan mendusel dada bidang sang suami.
"Apa sih, Mas, cemberut terus. Biasanya seneng kalau libur ngaji."
"Libur gak libur sama aja lo nya juga sibuk. Lebih ngeselin lagi sibuk sama orang lain!"
"Sabar, Mas, sabar. Aku cuma teleponan sama Gea, bukan mas lain," Hania tersenyum menggoda.
"Em, berani telpon mas yang lain, siap aja dapet hukuman setimpal dari gue!" Gaka melirik sinis.
"Takut! Galak banget, sih. Dah nih, udah sama kamu sepenuhnya." Hania mengelus rahang kokoh milik Gaka yang ditumbuhi bulu halus. Merayu agar Gaka luluh.
Gaka memang selalu sensi bila tahu Hania berhubungan dengan Gea. Walau Gea sudah berubah baik seperti dirinya, tetap saja dia tak ingin berhubungan dengan si kunti itu lagi.
"Hampir tiap malam kamu teleponan sama dia, apa yang lo omongin?"
"Ck. Jangan melebih-lebihkan, Mas, kata siapa tiap malam? Orang cuma satu minggu sekali. Lagian niat dia baik, nanyain calon anak kita," jelas Hania.
"Seminggu lagi ada kunjungan ke cabang Surabaya selama tiga hari. Gak pa-pa ya ditinggal. Nanti nginep aja tempat Mama."
"Ke Surabaya? Ikut dong! Dah lama aku gak pulang, Mas. Aku kangen rumah sama mau ziarah ke makam Ibu dan Ayah."
"Jangan, sayang. Besok aja kalau si bayi udah lahir baru kita ke Surabaya." Gaka sibuk melepas jilbab instan yang membungkus kepala Hania. Surai hitam sang istri sangat dia suka untuk dihirup dan dicium-cium.
"Nunggu lahir lama, Mas. Di tinggal tiga hari sama kamu gak bakal bisa," gumam Hania sedih.
"Kemarin ngusir-ngusir pergi, sekarang ditinggal tiga hari ngerengek gak mau ditinggal. Aturan gue pergi pas bulan kemarin aja, ya. Ah, si Raga tuh salah kasih jadwal," ujar Gaka panjang lebar. "Kalau ikut, kasihan si bayi takut kenapa-napa."
__ADS_1
"Jakarta-Surabaya kalau naik pesawat cuma beberapa jam. Palingan gak sampek dua jam loh Mas." Hania berusaha membujuk. Hampir satu tahun dia sama sekali belum pulang menengok kampung halaman. Ketika Gaka menyebut kota Surabaya, hatinya tergugah merindukan kota kelahirannya.
"Besok tanya Mama dulu, deh, bahaya enggak kalau lo ikut ke Surabaya."
"Konsul ke dokter juga," sahut Hania.
"Bukan itu aja yang bikin gue berat izinin lo ikut." Gaka terdiam sejenak, menerawang langit-langit kamar. Sampai Hania mengelus rahangnya dia baru menundukkan wajah. Membalas tatapan istrinya.
"Cabang yang di sana di urus sama Bian. Lo pasti ketemu sama dia."
Hania berganti terdiam. Kebahagiaan bersama Gaka melupakan segala kenangan tentang pria lain. Bahkan dia benar-benar tak mengingat Abian bila Gaka tidak membahasnya.
"Kalau ketemu juga mau apa, Mas? Aku sama dia sodara."
Gaka mendesis. "Sodara apaan!? Sodara rasa mantan."
"Ya sodara. 'Kan kamu sepupu-an sama dia, otomatis aku jadi sepupu iparnya."
"Isstt, kamu ini, semua laki-laki maunya aku jadiin musuh. Kalau anak kita laki-laki apa iya kamu nyuruh aku musuhin dia juga?"
"Belum lahir juga udah gue klaim musuh kalau bener laki-laki," gumam Gaka.
•
Keesokan harinya, Hania meminta janji temu dengan dokter yang selama ini menangani kehamilannya. Berkonsultasi tentang bepergian jauh apakah membahayakan si janin.
"Tidak ada masalah kalau Nona akan bepergian naik pesawat, kemarin sudah cek si bayi juga sehat."
Hania lega dan bahagia mendengar penuturan dokter. Dari hasil barusan artinya dia bisa ikut Gaka berkunjung ke Surabaya. Kota kelahirannya.
Nut ... nut ....
__ADS_1
Hania menghubungi Gaka lewat sambungan telepon, setelah dua kali panggilan baru terdengar sahutan.
"Sorry, sayang, lagi metting. Ada apa?"
"Ganggu ya Mas?"
"Enggak. Selama istri tercinta yang telepon fine-fine aja."
Hania menghela napas. Sepertinya kebucinan Gaka setiap hari semakin bertambah kuadrat. Walau senang, terkadang geli juga mendengar sang suami menggombal dengan rayuan dan kata-kata manis.
"Sekarang aku lagi di rumah sakit ...."
"Di rumah sakit?! Lo mau lahiran cepet?"
"Bukan, Mas! Aku janji temu sama dokter buat tanya, boleh, enggak, aku ikut kamu ke Surabaya."
"Huft ... kirain." Terdengar nada lega dari Gaka. "Terus apa kata dokter? Dia kasih ijin? Kok lo gak bilang kalau mau ketemu dokter? Pakai ke sana sendiri. Harusnya nungguin suami, dong," protes Gaka.
"Ada yang bisa aku lakuin tanpa kamu, Mas. Gak melulu ngerepotin. Lagian cuma ke dokter ini."
"Bukan gitu, kalau kesananya bareng dokternya bisa gue sogok biar gak kasih lo ijin."
"Apa kamu bilang, Mas! Jadi malah kamu yang aslinya gak mau aku ikut pergi. Kok jahat gitu, Mas. Aku kangen kampung halaman, mumpung kamu kesana aku mau ikut. Nunggu lahiran masih lama banget. Kata dokter kalau kehamilan udah tujuh bulan aku udah gak bisa kemana-mana," cerocos Hania sedih bercampur kesal.
"Gue baru rasain istilah istri adalah ratu yang harus patuhi," ucap Gaka seperti gumaman. "Oke-oke, boleh ikut, sayang. Nanti Raga pesenin tiket."
"Beneran? Akh ... makasih, Mas. Aku yakin, dan aku jamin semua aman. Insya Allah."
.
.
__ADS_1
Bab selanjutnya gimana ya kalau mereka pada ketemu orang dari masa lalunya? 🥲