
Dua hari berlalu, rutinitas kembali seperti biasa. Hania maupun Gaka sudah bersiap akan pergi ke kantor.
"Sekitar satu minggu lagi perusahaan ngadain tour ke Yogjakarta," kata Gaka.
"Iya, sih, Mas. Aku denger kabar juga dari temen-temen. Asik kali ya liburan ke sana." Mereka berdua sedang menikmati sarapan bersama.
"Kalau gue sih dah bosen. Lo mau ikut?"
"Ikut dong ...," jawab Hania bersemangat.
"Oke, ntar kita berangkat bareng aja."
"Jangan! Kalau berangkat bareng, semuanya bakal kebongkar. Biar aku ikut rombongan sesama cleaning servise."
•
Di kantor.
Langkah Hania melambat melihat Gea berdiri di lobi kantor. Pandangan wanita itu baru saja mengarah padanya. Sinis dan kentara tidak suka. Apalagi Gaka juga berjalan tak jauh darinya, menambah kadar kekesalan Gea.
Hania terus berjalan tanpa menghiraukan Gea. Jika dulu dia sangat senang bisa melihat Gea, tapi untuk sekarang justru kebalikannya. Lebih baik menghindari Gea daripada menimbulkan keributan.
Gaka pun sama seperti Hania, tidak memperdulikan keberadaan Gea. Meski wanita itu fokus dan mulai berjalan mengikuti langkahnya. Namun, langkah Gea terhenti di lift. Dia tidak bisa satu lift dengan Gaka karena pria itu menaiki lift khusus.
"Gaka!" panggil Gea tertahan, pada saat Gaka keluar dari lift.
Gaka benar-benar malas, terpaksa dia menoleh.
"Gue kangen banget sama lo, Ka. Please, dateng ke apartemen gue."
"Tolol! Gue gak akan ulangi kesalahan yang sama!" jawab Gaka sinis.
"Gue janji gak lukain lo. Gue cuma kangen berduaan sama lo."
"Kangen itu urusan lo. Sorry, gue udah ada istri."
Gea mengepalkan tangan. Murka mendengar jawaban Gaka. "Hania lagi, Hania lagi! Dasar wanita sialan! Gue benci banget sama lo, Han. Gue benci!" desis Gea dengan wajah merah padam.
•
Satu minggu kemudian.
Pagi hari Hania bersemangat pergi ke kantor. Seusai semalam berdebat sengit dengan Gaka karena pria itu memaksa untuk berangkat bersama, tapi ada akhirnya Gaka kalah saat Hania mengancam tidak akan menemuinya selama di Jogja.
"Bareng gue aja, sih," rengek Gaka.
"Enggak! Nanti aja kita ketemu di Jogja. Lagian kita berangkatnya juga beriringan, Mas. Cuma beda mobil aja."
__ADS_1
"Justru itu, di mobil kita bisa berduaan."
"Di Jogja, walau nanti nyumput-nyumput kita juga bisa berduaan."
"Huh! Bodo' lah, batu banget!" kesal Gaka.
"Huft ...." Hania menghela napas panjang. "Mas ...."
"Ridhoku ada padamu, Mas, tolong yang ikhlas, dong," sahut Gaka dengan menirukan kalimat dan suara Hania seperti biasanya. Bahkan bibirnya sampai dimanyunkan.
Hania menahan senyum. "Menggemaskan," batinnya. Dia mendekati Gaka yang duduk di tepi ranjang. Pria itu baru selesai membersihkan diri dan hanya menggunakan jubah mandi.
"Kalau kek gini, tanda-tanda minta dikasih semangat nih," ujar Hania.
Gaka tersenyum tipis. "Gue maunya dobel."
Hania menggenggam tangan Gaka. Juga memasang senyum manis. "Pipi aja ya, Mas."
"Bibir aja kek kemarin."
"Malu. Deg-degan juga."
"Malu terus." Gaka merapatkan duduknya. "Ya dah lah, pipi kanan sama kiri," pintanya.
"Masnya merem."
Hampir lima menit dan Hania hampir kehabisan napas, barulah Gaka melepas ciumannya. Dia mengusap pinggiran bibir Hania dengan ibu jari, membuat Hania menunduk malu.
"Tanggung banget loh, junior gue udah on," ucap Gaka.
"Mas, kamu tau aku belum siap."
"Ayolah dicoba lagi," pinta Gaka memelas.
Memang, beberapa kali Gaka membujuk Hania untuk penyatuan mereka. Tapi ketika akan mencoba, Hania justru bergetar ketakutan. Hania terbayang kesakitan yang dialami sewaktu Gaka pertama kali melakukan hubungan itu padanya. Hania bahkan sampai berkeringat dingin. Karena rasa tak tega, akhirnya Gaka menghentikan aksinya dan menunggu Hania sampai siap.
"Kek gini aja dulu, ya, Mas. Lagian ini udah waktunya berangkat, nanti takut ketinggalan bis."
"Bagus kalau ketinggalan bis, kita malah bisa berangkat bareng," celetuk Gaka.
"Kamu ikhlas, gak, sih, Mas!"
"Iya. Ikhlas." Gaka bangkit menuju walk in closet.
"Aku tunggu di bawah, Mas. Kamu cepetan." Tidak mendengar jawaban Gaka, Hania keluar kamar membawa tas pakaiannya.
"Bangsat! Dari kemarin gue dipermainin mulu'. Dia ini cuma bikin junior on dah itu pasti ditinggal pergi," gumam Gaka kesal.
__ADS_1
"Yang sabar ya, junior, ntar kalau udah bobol gawang, kita gempur sampek loyo."
"Mau dapet yang berharga emang butuh perjuangan."
"Sementara puasa lagi, pas buka, kita makan sepuasnya. Oke."
Sambil mengenakan pakaian, dan melihati juniornya yang mulai lemas, dia terus bermonolog sendiri. Berkata penyemangat untuk menyemangati diri.
Sampai di kantor, Gaka berdiri di depan barisan para karyawan. Memberi sedikit sambutan sebelum mereka berangkat ke Jogja.
"Selamat menikmati liburan kalian, semoga menyenangkan," ucap Gaka di akhir sambutannya.
Satu per satu karyawan menaiki bis, begitu pun dengan Hania, dia menaiki bis terakhir sesuai pembagian dari atasannya. Namun ada yang aneh, karena bis itu dikhususkan untuk wanita.
"Pak Endar kok aneh, sih. Kenapa bis kita penumpangnya cuma boleh cewek semua, padahal bis lain boleh campur cewek cowok 'Kan gak asik kalau gini ... gak ada yang main gitar," ucap wanita yang duduk di belakang Hania.
"Iya gak asik banget. Aneh-aneh aja," sahut satunya.
Hania mengernyit, bahkan dia tidak tahu tentang itu. Dia membatin, siapa lagi yang bisa melakukan itu selain Gaka. Manusia yang bertindak semaunya sendiri.
Tring ....
Baru saja Hania membatin Gaka, dia sudah mendapat pesan dari pria itu.
'Ayang, pusing, gak? Mabuk, gak?'
"Idih, apaan sih." Hania menggeleng. Dia lalu mengetik balasan.
'Enggak! Aku baik dan sehat banget, gak usah khawatir.'
Tak berapa lama setelah pesan berubah centang biru, Hania kembali mendapat balasan.
'Kalau nanti pusing langsung bilang sama supir buat berhenti. Ntar pindah mobil aja.'
"Seenak dia berkata," ucap Hania.
'Aku bakal lebih pusing kalau pindah mobil. Pusing mikirin alesanya.'
"Han, wa-an sama siapa? Lancar banget," kata Bunga sedikit melirik ke ponsel Hania, tapi segera disembunyikan.
Hania berpikir, Bunga akan syok dan banyak pertanyaan kalau sampai melihat ponselnya. Dia bekerja sebagai cleaning servis bagaimana bisa memiliki ponsel dengan harga fantastis. Itu akan mengejutkan.
"Bales pesan sama temen. Kasih kabar kalau aku liburan ke Jogja, soalnya dia juga ada di sana, siapa tahu nanti bisa ketemu," jawab Hania berbohong.
"Rumah lo di Surabaya, lo punya temen di Jogja juga?"
"Dia juga sama perantauan."
__ADS_1
"Oh."