
"Kebangetan! Lo gak mudeng sama omongan gue!" ucap Gaka. "Yang gue maksud hati gue di sini karna gue ...." Gaka menunduk, mengusap tengkuk karena gugup.
Akh'! Di depan wanita lugu kenapa dia harus segugup ini hanya untuk mengungkap perasaannya. Bukankah sebelumnya dalam sehari dia bisa mengatakan cinta meski untuk lima wanita sekaligus.
'Jadi banci gini, sih. Cuma bilang hati gue mulai suka sama lo kok susah banget ngomongnya.'
"Karna apa?" Hania memperhatikan pria tinggi di depannya. Menunggu penjelasan selanjutnya.
Dia tidak berani menebak apapun, bahkan sekarang jantungnya berdebar tidak karuan. Sebenarnya dia takut, takut kalau sampai berakhirnya hubungan Gea dan Gaka sungguh karena dirinya.
"Intinya gue udah gak ada perasaan sama Gea. Hati gue udah gak inginin dia lagi. Gue ... entah, hati gue mulai ada perasaan sama lo."
Deg ... deg ... deg ....
Tubuh Hania hampir melemas, apa yang ditakutkan kenapa sungguh terjadi. Tapi, setelah mengatur napas, dan menenangkan diri, Hania menggeleng sambil tersenyum masam.
"Jangan main-main dengan hati, Mas. Sebuah perasaan gak bisa kamu mainin sesukamu. Gea udah lama bersamamu, bahkan hubungan kalian udah terlalu jauh, kamu gak bisa mainin dia seperti ini."
"Gue juga gak main-main sama perasaan gue. Buat apa gue sama dia kalau hati gue udah gak ingini dia lagi.
Gue tau lo gak akan percaya gitu aja tentang perasaan gue, bahkan gue sendiri butuh waktu buat yakini perasaan itu. Tapi setelah tau hubungan lo dengan Abian, dari itu gue baru yakin kalau perasaan gue nyata buat lo.
Gue cemburu dengan masa lalu lo, gue marah saat Abian ngajak lo balikan. Bahkan gue sangat marah dan ingin bunuh sodara gue begitu dia minta gue buat cerai'in lo." Gaka menarik napas dan membuangnya perlahan.
"Lo mungkin gak akan percaya gue suka sama lo bukan dari hari kemarin aja, tapi dari awal tubuh gue nyentuh lo. Saat itu gue udah mulai merasakan sesuatu yang berbeda, seperti mengagumi lo, tapi waktu itu gue sendiri belum yakin. Makanya gue butuh waktu sampek gue diyakinkan oleh perasaan lo sama Abian. Gue takut kalau lo balikan sama dia."
Hania membeku dan sampai tidak bisa berkata apapun untuk membalas semua perkataan Gaka. Dan tiba-tiba saja telapak tangannya yang dingin terasa menghangat, ternyata Gaka menyentuh dan menggenggam tangannya.
"Lo istri gue, apa gue salah perjuangin yang halal bagi gue? Kata lo, kalau gue mau pegang tangan lo, gue gak boleh pegang tangan wanita lain. Dan kata lo juga, kalau gue ingin nyentuh lo, gue gak boleh nyentuh wanita lain.
Gue sekarang pengen pegang tangan lo terus, gue pengen nyentuh lo terus menerus. Makanya gue memilih putusin Gea. Dan ingin hidup sama lo."
__ADS_1
Malam ini sejarah baru bagi Gaka berbicara panjang lebar demi mengungkap perasaanya di hadapan seorang wanita. Bahkan bersama Gea pun dia tidak pernah merangkai kata sepanjang dan puitis itu.
Hania menunduk, saat itu air matanya ikut terjatuh. Perlahan dia melepas pegangan tangan Gaka.
"Perasaanmu salah, Mas. Perasaanmu salah. Harusnya kamu gak boleh memiliki perasaan denganku. Dari awal kamu tau seperti apa hubunganku dan Gea. Kami bersahabat, kamu gak boleh menyukaiku. Perasaanmu padaku akan menghancurkan Gea."
"Gak ada yang salah dengan perasaan. Apa lo bisa mengontrol perasaan lo sendiri harus suka sama siapa? Begitu juga dengan perasaan gue. Gue gak bisa nahan hati buat gak suka sama lo, perasaan itu hadir begitu aja.
Kalau Gea tulus bersahabat dengan lo, dia pasti bisa ngerti. Tapi untuk waktu dekat ini, biar saja dia gak tau hubungan kita," ujar Gaka.
Hening menyambangi. Beberapa kali Hania mengusap bagian pipi untuk menghapus air matanya yang terjatuh.
"Hufft ...." Hania mengembus napas panjang.
"Kamu benar, Mas, gak ada yang bisa mengontrol perasaan. Aku juga gak bisa melarang perasaanmu menyukaiku, bahkan aku sendiri hampir tidak bisa menahan perasaan setiap kali bersamamu.
Tapi keadaan ini terlalu rumit, Mas. Aku gak tega sama Gea. Dia memiliki cinta yang besar untukmu, dia rela merendahkan harga diri demi bersamamu. Sedangkan kita, mungkin perasaan kita tidak ada bandingan sedikitpun dengan perasaan yang dimiliki Gea. Coba pikirkan semua baik-baik, Mas.
Hania berbalik dan berjalan menjauh. Akhir-akhir ini dia sering menumpahkan air mata. Tentang dua pria yang berhasil memporak porandakan hatinya.
Sreeeat ....
Gaka mencegah dan mencekal pergelangan tangan Hania. "Lo juga sulit mengontrol perasaan ketika bersama gue, apa itu artinya lo juga punya perasaan sama gue?"
Hania tidak fokus, dia mengalihkan netranya ke manapun demi menghindari tatapan Gaka. Jangan sampai pria itu berasumsi sendiri.
"Perasaanku gak penting, Mas, perasaan Gea yang harus kamu utamakan. Dia yang lebih lama bersamamu, sedangkan aku, aku hanya datang di akhir."
"Jangan paksa gue untuk hal yang udah gak gue sukai. Apapun yang terjadi, gue akan perjuangin perasaan gue."
"Terserahmu, Mas. Tapi aku tetap memikirkan perasaan Gea."
__ADS_1
~
Pagi ini ada yang berbeda, bila biasanya dia akan mendengar ocehan Hania untuk membangunkannya tapi pagi ini justru kepala pelayan yang masuk ke kamar Gaka dan menggantikan tugas Hania.
"Di mana Hania?"
"Nona udah berangkat kerja pagi sekali, Tuan."
"Baju gue udah disiapin?"
"Sudah. Nona yang menyiapkan, tapi Nona menyuruh saya untuk membangunkan Anda."
"Gue udah bangun. Lo pergi aja!" usir Gaka.
"Baik, Tuan." Kepala pelayan menunduk sebentar dan pergi meninggalkan kamar Gaka.
Pria memakai piyama tidur itu mencari ponselnya dan langsung mengirim pesan untuk Hania.
Cling ....
Ponselnya berbunyi karena mendapat balasan.
'Aku udah berangkat ke kantor. Aku udah siapin semuanya. Cepet bangun dan jangan telat ke kantor.'
"Ck. Apa dia mau ngindarin gue?" Gaka bangkit dengan kesal. Menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pukul delapan pagi Gaka baru menjejakkan kaki di kantor SAG Grup. Saat masuk ke loby kantor, dia melihat Hania sedang mengobrol dengan Gea. Dia mengurungkan niat untuk memanggil Hania ke ruangannya, dan memilih menuju ruangannya.
"Aku sakit, Han, bahkan Gaka sama sekali gak mau melihat ke arah ku," ujar Gea memasang wajah sedih.
Hania menoleh ke arah yang dilihat Gea. Tapi Gaka sudah jauh menuju lift.
__ADS_1
"Aku yakin, Han, berubahnya Gaka pasti karna dia punya wanita lain. Aku gak akan tinggal diam karna dia udah buang aku seperti sampah, aku akan buat Gaka nyesel udah campakin aku."